Beberapa waktu lalu, Pak Pramono Anung melempar satu jokes politik yang efeknya mirip notifikasi flash sale jam 12 malam: singkat, keras, dan bikin orang refleks nengok. “Kita kerja pakai otak, bukan masuk gorong-gorong.” Seketika linimasa panas. Bangsa ini mendadak seperti forum debat gadget: ribut, emosional, dan sama-sama merasa paling paham spesifikasi.
Seolah-olah kita sedang dipaksa memilih: mau pemimpin yang mikir di balik meja atau yang rela nyemplung ke got. Padahal, kalau mau jujur, perdebatan ini agak lucu. Karena kepemimpinan itu sebenarnya mirip banget sama beli HP baru di marketplace.
Bayangkan pemimpin adalah sebuah smartphone. Bukan HP pinjaman, tapi HP utama yang mau dipakai lima tahun ke depan. Yang kalau salah pilih, nyeselnya panjang dan nggak bisa pura-pura lupa.
Nah, Pak Pramono sedang menekankan pentingnya otak. Dalam dunia gadget, otak itu ya software dan processor. Chipset-nya harus kencang. RAM-nya cukup. Jangan baru buka tiga aplikasi, langsung reload semua.
Masuk akal. Negara itu sistem operasi besar. Kalau OS-nya lemot, rakyat ikut lemot. Lagi macet, pemimpin masih loading. Lagi banjir, kebijakan belum keluar karena “sedang dikaji”. Negara terasa seperti HP murah yang dipaksa jalanin aplikasi berat: panas, ngelag, lalu restart sendiri.
Di sini, kecerdasan teknokratis memang penting. Negara bukan grup WhatsApp keluarga yang bisa diputuskan pakai emot jempol atau love. Tanpa otak, kebijakan bisa jadi bug. Dan seperti biasa, rakyat dijadikan beta tester tanpa manual penggunaan.Tapi masalahnya, apakah cukup cuma punya software canggih?
Jawabannya: jelas nggak cukup, Kak.
Karena sehebat apa pun prosesor, pemimpin tetap butuh otot. Dalam dunia HP, ini namanya hardware. Fisiknya harus kuat. Baterainya awet. Tahan panas. Tahan air. Masuk gorong-gorong, suka atau tidak, itu sebenarnya bukan soal pamer lumpur. Itu uji durability. Tes apakah perangkat ini tahan dipakai di dunia nyata atau cuma jago di iklan.
Pemimpin yang enggan turun ke lapangan itu seperti HP mahal dengan baterai boros. Baru dipakai sedikit, sudah minta dicas. Baru dengar keluhan rakyat, langsung low power mode. Katanya flagship, tapi kok performanya kayak HP bekas demo etalase?
Sebaliknya, pemimpin yang mau kotor sedang bilang satu hal sederhana: “Saya siap dipakai.” Sama seperti HP yang boleh jatuh, boleh kehujanan, tapi tetap nyala. Bukan HP yang casing-nya tebal tapi isinya kopong. Jatuh dikit, retak. Kena air sedikit, masuk servis.
Tapi tunggu dulu. Ada satu komponen yang sering dilupakan dalam debat ini, padahal justru paling krusial yakni hati.
Dalam dunia gadget, hati itu bukan kamera 108 MP atau layar AMOLED, tapi sinyal dan user experience (UX). Mau spek setinggi apa pun, kalau sinyal susah, orang emosi. Mau HP semahal apa pun, kalau ribet dipakai, orang nyesel beli.
Pemimpin tanpa empati itu seperti HP flagship yang sinyalnya hilang-timbul. Di spesifikasi tertulis 5G, tapi di lapangan buat nelpon saja harus naik kursi sambil hadap kiblat. Rakyat ngomong, suaranya putus-putus. Aspirasi dikirim, masuk spam folder.
Lebih parah lagi, pemimpin tanpa hati itu seperti HP yang selalu mode pesawat. Aman dari gangguan, tapi juga aman dari kritik. Notifikasi dimatikan, pesan rakyat cuma di-read, tidak pernah dibalas. Kalau rakyat protes, dianggap noise. Kalau rakyat marah, dibilang tidak paham konteks.
Makanya, debat “kerja pakai otak atau masuk gorong-gorong” itu sebenarnya debat keliru. Itu seperti ribut soal mana lebih penting: prosesor atau baterai. Jawabannya ya dua-duanya. Dan jangan lupa sinyal.
Kita tidak butuh pemimpin yang cuma jago presentasi PowerPoint tapi alergi lumpur. Kita juga tidak cukup dengan pemimpin yang jago basah-basahan tapi bingung bikin keputusan. Yang kita butuhkan adalah HP spek komplit, bukan HP gimmick.
Pemimpin dengan software (otak) yang cerdas, supaya negara tidak kena scam kebijakan dan janji palsu.Pemimpin dengan hardware (otot) yang tangguh, supaya kuat menghadapi masalah lapangan tanpa drama capek.
Dan pemimpin dengan sinyal (hati) yang full bar, supaya suara rakyat langsung centang biru, bukan cuma di-read lalu hilang.
Karena pada akhirnya, rakyat itu bukan penonton unboxing. Rakyat adalah pengguna aktif. Dan pengguna cuma peduli satu hal: HP ini beneran kepakai atau cuma enak difoto?
Jangan sampai kita lagi-lagi tergoda beli pemimpin karena casing-nya kinclong, kameranya jernih buat konten, dan iklannya bombastis. Tapi begitu dipakai buat kerja berat, performanya bikin emosi.
Soalnya beda sama HP, salah pilih pemimpin itu nggak bisa diretur.
Dan sayangnya, garansi demokrasi kita cuma lima tahun.
Nur Izza Wahidiyah
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

