Akhirnya Yaqut Cholil Qoumas ditetapkan sebagai tersangka kasus kuota haji oleh KPK pada Jumat 9 Januari 2026.
Ini berbarengan dengan kakaknya, Yahya Cholil Staquf yang sedang diguncang kedudukannya sebagai ketua umum PBNU.
Fenomena duo kakak beradik ini harusnya menjadi momentum perbaikan PBNU.
Sebagai Nahdliyin, saya mengusulkan dua hal saja sebagai titik awal perbaikan PBNU.
Pertama, PBNU hendaknya menetapkan untuk menolak tambang. Terbukti konsesi tambang yang diberikan Negara membawa kemudharatan, bahkan jauh sebelum benar benar dikelola.
Kedua, segera lakukan Muktamar Luar Biasa. Jauhkan arena pemilihan Ketua Umum dari praktik praktik kotor.
Para Kyai tentu lebih paham, bagaimana 7 tokoh membangun NU dari awal.
Tolonglah rendah hati untuk menyelami kembali bagaimana Mbah Hasyim Asy’ari, Syekh Kholil Bangkalan, mbah Wahab Chasbullah, Kyai Bisri Syamsuri, Kyai As’ad, Kyai Mas Alwi dan Kyai Ridwan Abdullah memulai NU.
Malu !!.
Nggak usah jauh jauh meneladani Abu Dzar al-Ghifari, Uwais al-Qarni, Abdullah bin Mas’ud, Salman al-Farisi, Abu Ubaidah bin al-Jarrah atau Al-Miqdad bin al-Aswad, tokoh tokoh terkemuka dalam hal Zuhud dan Wara’.
Cukup belajar pada Hadratussyaikh Hasyim, yang tidur diatas tikar, pakai pakaian sederhana dan makan apa adanya. Mbah Hasyim juga menolak semua jabatan yang di tawarkan kolonial.
Bercerminlah pada Syekh Muhammad Kholil bin Abdul Latif al-Bangkalani. Memiliki ratusan ribu santri, tapi rumahnya gubuk kecil dari bambu dan atap daun kelapa.
Mbah Hasyim dan mbah Kholil Bangkalan nggak mabuk harta kayak kalian !!!.
Apa sih yang sebenarnya kalian cari?. Wong sebentar lagi juga dipanggil Allah.
Nggak usah membantah dan menjawab berbelit dengan segala alasan dan argumentasi mbulet. Akar segala akar persoalan di PBNU sangat simpel dan sederhana : zuhud dan wara’.
Tak ada hal lain.
Nggak perlu membela diri dengan dalil dalil yang ndakik. Yang perlu dilakukan sekarang hanya merenung, bertaubat, menangisi dan menyesali kesalahan, dan berubah.
Kecuali memang kalian pengin digebuki 143 Juta warga NU di akhirat !!
Yogyakarta,12 Januari 2026
Teguh S Fatkhurrahman

