Peta geopolitik global memasuki fase paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir. Ketegangan yang terus meningkat, ditandai dengan manuver militer dan kebijakan unilateral negara-negara besar, memicu kekhawatiran serius akan pecahnya konflik berskala global. Analis politik mewanti-wanti, dunia tengah bergerak menuju jurang Perang Dunia III.
Analis politik dan hukum internasional, Saiful Huda Ems (SHE), menilai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan semakin agresif dan unilateral. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya mengganggu stabilitas kawasan tertentu, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan lintas benua.
Salah satu isu krusial yang disorot adalah mencuatnya kembali wacana penguasaan Pulau Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang memiliki posisi strategis di kawasan Arktik. Greenland dinilai penting dari sisi militer, jalur pelayaran, hingga cadangan sumber daya alam.
SHE menilai, pendekatan Amerika Serikat yang cenderung memaksakan kehendak atas wilayah tersebut berpotensi memicu konflik serius dengan negara-negara Eropa.
“Jika pendekatan koersif terus digunakan, maka bukan tidak mungkin Eropa akan bersikap lebih keras. Ini bukan sekadar persoalan wilayah, tetapi menyangkut kedaulatan negara dan tatanan hukum internasional,” ujar SHE dalam analisanya.
Situasi global, menurut SHE, semakin kompleks dengan meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dengan Rusia dan China. Ia menyoroti insiden penyitaan kapal tanker berbendera Rusia di perairan internasional yang dinilai berpotensi melanggar hukum maritim internasional. Respons Rusia dengan meningkatkan kehadiran militernya di sekitar wilayah konflik menunjukkan bahwa risiko eskalasi terbuka tidak bisa dipandang remeh.
Di sisi lain, China juga memperlihatkan sikap tegas dengan mengerahkan pengawalan militer terhadap kapal-kapal tanker miliknya. Langkah ini menandakan bahwa jalur energi global kini menjadi arena persaingan strategis yang sangat sensitif, di mana kesalahan kecil dapat berujung pada konfrontasi besar.
SHE juga menyoroti melemahnya kohesi di tubuh NATO. Aliansi pertahanan yang selama puluhan tahun menjadi pilar stabilitas Atlantik Utara itu kini dihadapkan pada perbedaan kepentingan internal. Sejumlah negara Eropa mulai mempertanyakan arah kebijakan Amerika Serikat yang dinilai terlalu berisiko dan tidak selalu sejalan dengan kepentingan keamanan kawasan Eropa.
“Jika NATO kehilangan kekompakan, maka peta kekuatan global akan berubah drastis. Dalam skenario ekstrem, Amerika Serikat bisa menghadapi tekanan internasional yang sangat besar,” jelasnya.
Meski demikian, SHE menilai kemungkinan NATO bersekutu secara formal dengan Rusia dan China masih sangat kecil, terutama karena konflik Ukraina–Rusia yang belum menemukan titik temu. Namun, kerja sama terbatas demi menjaga stabilitas kawasan tetap menjadi opsi rasional bagi negara-negara Eropa.
Ia juga menyinggung meningkatnya kesiapsiagaan sipil di sejumlah negara Eropa. Aktivasi kembali latihan perlindungan warga sipil, simulasi evakuasi, hingga sistem peringatan dini dinilai sebagai sinyal bahwa ancaman konflik global kini tidak lagi dianggap sekadar wacana.
Dalam analisanya, SHE menyebut Jerman,khususnya Berlin sebagai salah satu titik strategis yang berpotensi kembali memainkan peran sentral dalam dinamika global. Bukan semata karena kekuatan militer, tetapi karena posisinya sebagai pusat pemikiran kritis, ideologi, dan perdebatan strategis yang kerap memengaruhi arah kebijakan dunia.
“Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali diawali oleh pergolakan ide dan kesadaran kolektif. Jerman memiliki memori sejarah yang kuat tentang perang, dan justru karena itu sangat peka terhadap ancaman konflik global,” pungkasnya.
SHE menegaskan, dunia saat ini berada di persimpangan antara diplomasi rasional dan eskalasi konflik. Pilihan para pemimpin global dalam beberapa tahun ke depan akan sangat menentukan apakah umat manusia mampu menghindari tragedi perang dunia berikutnya, atau justru mengulang luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.(red)

