Nitikan.ID, Subang — Siang itu, di bawah terik matahari Pamanukan, seorang pria tampak mendorong gerobak berisi alat las sederhana. Di situlah Pak Casmita, lelaki kelahiran 1957, dijumpai saat ia sedang berkeliling mencari pelanggan yang membutuhkan jasanya. Meski usianya tak lagi muda, langkahnya tetap mantap, seperti keteguhan hati yang ia pegang sejak puluhan tahun lalu.
Pak Casmita hanya menempuh pendidikan formal sampai kelas 3 SD namun hal itu tak pernah menghalangi semangat belajarnya.
“Dulu saya diajak teman kerja pas masih muda, dari situ lah belajar ngelas, pelan-pelan sampai bisa,” ujarnya sambil mengenang masa remajanya.
Sejak tahun 1970, ia menekuni profesi sebagai tukang las keliling. Dulu, ketika tubuh masih kuat, wilayah yang ia jangkau cukup luas: Legonkulon, Pusaka, Sukasari, Tambakdahan hingga Binong. Kini, ia lebih banyak berkeliling di sekitar Pamanukan saja. “Sekarang mah udah tua, jadi kelilingnya deket-deket aja,” ucapnya sambil tersenyum.
Penghasilannya tidak selalu besar hari-hari biasa berkisar Rp30.000 hingga Rp50.000. Kalau sedang beruntung mendapat borongan, ia bisa membawa pulang sekitar Rp200.000. “Dapat uang ya langsung saya kasih ke istri, biar dia yang ngatur,” katanya.
Pak Casmita kini tinggal bersama salah satu anaknya. Ia memiliki dua anak dan dua cucu yang menjadi penyemangat hidupnya. Meski begitu, ada satu prinsip yang selalu ia pegang teguh. “Anak mah udah pada kerja, udah punya rumah tangga tapi selama badan saya masih sehat, saya tetap kerja. Nggak mau ngerepotin anak-anak,” tuturnya tegas.
Baginya, bekerja bukan sekadar mencari nafkah melainkan cara menjaga harga diri dan menjaga tubuh tetap bergerak. Selama bertahun-tahun, ia sudah melewati banyak ujian hidup tapi tak pernah sekalipun tergoda untuk berhenti. “Hidup mah banyak cobaan tapi dijalanin aja yang penting jangan malas dan jangan menyerah,” pesannya.
Dibalik gerobak dan alat las yang setia menemani sejak masa mudanya, tersimpan cerita panjang tentang keteguhan, kesederhanaan, dan martabat. Semangat Pak Casmita menjadi pengingat bahwa kerja keras tidak pernah mengenal usia. Selama hati tetap kuat, harapan pun tak akan padam.

