Nitikan.id – Pada 14 Februari 1945, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Blitar, Jawa Timur. Shodanco Supriyadi, pemuda berusia 21 tahun, memimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) melawan pendudukan Jepang. Pemberontakan ini menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap Jepang di Indonesia. Namun, setelah pertempuran sengit yang berakhir dengan kekalahan PETA, Supriyadi menghilang tanpa jejak, meninggalkan misteri yang belum terpecahkan hingga kini.
Sosok Pemberani yang Menghilang
Supriyadi lahir di Trenggalek pada 13 April 1923, sebagai putra sulung Raden Darmadi, Bupati Blitar saat itu. Ia dikenal sebagai pemuda cerdas dan pemberani, terlatih dalam milisi bentukan Jepang. Pemberontakan yang ia pimpin dipicu oleh kekejaman Jepang terhadap rakyat Indonesia, khususnya para romusha. Bersama rekan-rekannya, ia berusaha menggulingkan kekuasaan Jepang di Blitar. Sayangnya, Jepang yang jauh lebih kuat berhasil memadamkan pemberontakan tersebut. Banyak anggota PETA ditangkap dan dieksekusi, tetapi Supriyadi tidak termasuk di antara mereka yang diadili. Lalu, ke mana ia pergi?
Spekulasi dan Jejak yang Samar
Banyak teori berkembang mengenai nasib Supriyadi. Beberapa pihak meyakini ia tewas dalam pertempuran atau dieksekusi secara rahasia oleh Jepang. Namun, jasadnya tak pernah ditemukan. Seorang kepala desa di Sumberagung, Blitar, bernama Harjomiarso, mengaku sempat menyembunyikan Supriyadi pada 18 Februari 1945. Dalam pertemuan itu, Supriyadi disebut-sebut berencana pergi ke Gunung Kelud dan terjun ke kawahnya—sebuah kisah yang menambah aura mistis di balik kehilangannya.
Teori lain menyebutkan bahwa Supriyadi berhasil melarikan diri dan hidup dalam penyamaran. Seorang saksi mata, Ronomejo dari Desa Ngliman, Nganjuk, mengaku pernah menyembunyikannya di gua dekat Air Terjun Sedudo. Beberapa orang bahkan mengklaim bahwa dirinya adalah Supriyadi setelah kemerdekaan, salah satunya adalah Andaryoko Wisnu Prabu pada 2008. Namun, pihak keluarga Supriyadi menolak klaim tersebut.
Adik tiri Supriyadi, Suroto, meyakini kakaknya tewas di tangan Jepang, kemungkinan dalam pembantaian besar-besaran di hutan Maliran, Ponggok, Blitar. Namun, tanpa bukti fisik seperti jasad atau makam, pernyataan ini tetap menjadi dugaan semata.
Diakui sebagai Pahlawan Nasional
Pemerintah Indonesia akhirnya menetapkan Supriyadi sebagai Pahlawan Nasional pada 9 Agustus 1975 melalui Keppres No. 063/TK/1975. Menariknya, ia sempat ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat pertama oleh Soekarno setelah proklamasi, tetapi tidak pernah muncul untuk menjalankan tugasnya.
Misteri yang Belum Terpecahkan
Hingga kini, hampir 80 tahun setelah pemberontakan PETA, nasib Supriyadi masih menjadi teka-teki. Apakah ia gugur sebagai martir, hidup dalam bayang-bayang, atau benar-benar menyatu dengan alam seperti yang diyakini sebagian warga Blitar? Misteri hilangnya pahlawan muda ini terus memancing rasa penasaran, menjadikannya salah satu rahasia terbesar dalam sejarah perjuangan Indonesia.

