Ada dua cara manusia melihat dunia hari ini. Pertama adalah lewat layar ponsel dengan menonton video perjalanan sambil rebahan, menggeser gambar pantai tropis, pegunungan bersalju, atau kota-kota jauh yang mungkin tak pernah benar-benar kita datangi.
Cara kedua jauh lebih melelahkan, tetapi juga jauh lebih jujur yakni berjalan sendiri melintasi benua, menyeberangi laut, dan duduk berhadapan dengan manusia-manusia yang hidupnya sama sekali berbeda dari kita. Cara kedua inilah yang dipilih oleh seorang pemuda dari Yordania bernama Joe Hattab.
Ia tidak sekadar menjelajah tempat-tempat indah di peta dunia, tetapi mencoba menemukan sesuatu yang lebih dalam yaitu cerita manusia.
Di zaman ketika sebagian orang mengukur dunia lewat layar ponsel, Joe memilih cara berbeda untuk mengenal bumi. Ia berjalan, terbang, menyeberangi laut, dan mengetuk pintu rumah manusia yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang.
Ia bukan sekadar travel vlogger yang berburu pantai indah atau hotel mahal. Joe lebih mirip pengembara modern yang mencari cerita manusia di tempat-tempat yang sering dilupakan dunia.
Joe pernah berjalan ke hutan Amazon, menyusuri desa-desa suku asli yang hidup berdampingan dengan sungai dan pepohonan raksasa. Ia melihat bagaimana manusia bisa hidup tanpa listrik, tanpa internet, tanpa hiruk-pikuk kota. Namun tetap tertawa, tetap makan bersama, tetap merasa cukup.
Di tempat itu ia belajar bahwa peradaban bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam.
Perjalanan lain membawanya ke Papua. Di sana ia bertemu masyarakat suku pedalaman yang hidup sangat jauh dari dunia modern.
Beberapa komunitas bahkan membangun rumah di atas pohon tinggi yang puluhan meter dari tanah. Sebagai cara bertahan dari alam liar dan konflik antarkelompok. Dari atas ketinggian itu mereka memandang hutan seperti halaman rumah sendiri.
Joe duduk bersama mereka, makan bersama mereka, dan mencoba memahami cara pandang mereka terhadap kehidupan. Kamera yang ia bawa bukan sekadar alat rekam, tetapi jembatan antara dua dunia. Dunia modern yang serba cepat dan dunia tradisional yang berjalan perlahan.
Ia juga pernah pergi ke gurun Oman, bertemu suku Badui yang hidup berpindah mengikuti sumber air. Di tengah padang pasir yang luas, Joe melihat betapa kerasnya kehidupan nomaden. Namun di sana ia juga menyaksikan satu hal yang jarang ditemui di kota yakni keramahan tanpa syarat. Tamu adalah kehormatan. Bahkan orang asing dari negara jauh tetap dipersilakan minum kopi di tenda gurun.
Di Afrika, Joe menyaksikan tarian suku-suku tradisional yang masih mempertahankan budaya ratusan tahun. Tubuh mereka dihias manik-manik dan cat alami, musik mereka berasal dari tabuhan sederhana, tetapi energi yang muncul terasa sangat hidup.
Dalam dunia yang sering mengejar modernitas, suku-suku ini seperti pengingat bahwa identitas manusia tidak selalu harus berubah mengikuti zaman.
Namun perjalanan Joe tidak selalu romantis. Ia juga masuk ke tempat-tempat yang keras. Di El Salvador, ia mengunjungi salah satu penjara paling ekstrem di dunia yakni Pusat Penahanan Terorisme atau CECOT (Centro de Confinamiento del Terrorismo). Penjara raksasa ini dirancang untuk menampung hingga 40.000 anggota geng, menjadikannya salah satu fasilitas penjara terbesar di dunia.
Di tempat yang penuh kawat berduri dan pengamanan ketat itu, Joe melihat sisi lain dari negara yang selama bertahun-tahun bergulat dengan kekerasan geng.
Perjalanan keras lainnya membawanya ke Haiti. Di sana ia bertemu seorang tetua geng di tengah realitas negara yang sebagian wilayahnya dikendalikan kelompok kriminal bersenjata, terutama di ibu kota Port-au-Prince.
Banyak geng kemudian bergabung dalam koalisi yang dikenal sebagai Viv Ansanm yang berarti Hidup Bersama. Koalisi ini menguasai wilayah luas dan bahkan mempengaruhi infrastruktur negara. Joe berbincang dengan tokoh geng itu bukan untuk memuliakan kekerasan, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah negara bisa sampai pada titik di mana geng-geng bersenjata menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Lalu ada perjalanan yang terasa hampir seperti mimpi: Greenland. Pulau es di ujung dunia itu hanya dihuni puluhan ribu orang. Di sana Joe bertemu masyarakat Inuit yang hidup di antara laut beku dan langit Arktik. Yang lebih mengejutkan, ia juga bertemu pekerja dari Filipina yang merantau jauh dari Asia untuk mencari kehidupan di tempat yang dinginnya bisa mencapai minus puluhan derajat.
Pertemuan itu seperti simbol kecil globalisasi dimana seorang Arab dari Yordania berbincang dengan orang Asia di tanah es milik Denmark.
Semakin jauh Joe berjalan, semakin ia menyadari satu hal sederhana: manusia di berbagai tempat sebenarnya tidak terlalu berbeda.
Mereka ingin makan, tertawa, mencintai keluarga, dan hidup dengan martabat. Perbedaan bahasa, warna kulit, atau budaya sering kali hanya lapisan luar dari cerita yang sama.
Perjalanan membuat seseorang melihat dunia dengan mata baru. Orang yang sering bepergian biasanya lebih sulit menjadi fanatik, karena ia tahu bahwa kebenaran tidak hanya hidup di satu tempat saja. Dunia terlalu luas untuk dipandang dari satu jendela.
Di titik ini, perjalanan Joe Hattab terasa seperti menghidupkan kembali satu tradisi lama dalam peradaban manusia yakni safar. Dalam bahasa Arab, safar berarti perjalanan. Bagi banyak ulama klasik, safar bukan sekadar berpindah tempat, tetapi cara untuk membuka pikiran dan membersihkan hati.
Kanjeng Nabi Muhammad pernah menggambarkan perjalanan sebagai pengalaman yang tidak selalu mudah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih al-Bukhari, safar disebut sebagai bagian dari kesulitan hidup karena ia memisahkan seseorang dari kenyamanan makan, tidur, dan keluarga. Namun justru dalam kesulitan itulah manusia belajar banyak hal tentang dirinya.
Ada juga hadis yang terkenal dalam Sahih Muslim bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Para ulama memahami kata “menempuh jalan” bukan hanya secara simbolik, tetapi juga secara fisik. Berjalan, berpindah, dan menjelajah demi mencari pengetahuan.
Barangkali di sinilah makna terdalam dari perjalanan. Ketika seseorang berjalan jauh, ia tidak hanya menemukan dunia baru, tetapi juga menemukan dirinya sendiri.
Dan mungkin itu pula yang membuat kisah perjalanan seperti yang dilakukan Joe Hattab terasa penting di zaman sekarang. Ketika dunia sering dipenuhi perdebatan tentang identitas, agama, dan perbedaan, perjalanan justru mengingatkan bahwa di balik semua perbedaan itu manusia tetap memiliki kebutuhan yang sama yakni dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan martabat.
Safar, pada akhirnya, bukan hanya tentang jarak yang ditempuh oleh kaki. Ia adalah perjalanan batin yang membuat seseorang pulang dengan hati yang lebih luas dari sebelumnya.
Dan dari hutan Amazon, rumah pohon di Papua, gurun Oman, sampai es sunyi Greenland, perjalanan Joe Hattab seperti mengingatkan satu hal sederhana bahwa bumi ini terlalu luas untuk dipenuhi kesombongan, dan terlalu indah untuk dilihat hanya dari satu tempat.
Mochammad RF
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan

