Bangsa ini punya satu kebiasaan yang sulit ditinggalkan: mudah diadu, gampang panas, dan selalu yakin amarahnya paling bermoral. Padahal, senjata paling efektif untuk menundukkan rakyat bukanlah tank atau senapan, melainkan konflik horizontal yang dibiarkan tumbuh subur. Rakyat ribut sendiri, sementara penguasa cukup duduk rapi, menikmati stabilitas versi mereka stabil di atas kegaduhan.
Strategi ini bukan barang baru. Niccolò Machiavelli sudah mengajarkannya, kolonial Belanda mempraktikkannya, dan para elite modern mewarisinya dengan penuh kreativitas. Namanya divide et impera, atau dalam versi lokal yang lebih membumi: politik belah bambu. Satu sisi diangkat agar merasa paling benar, sisi lain diinjak agar merasa paling tertindas. Yang sering lupa dicatat: bambu yang dibelah itu adalah rakyat, bukan penguasa. Yang menikmati hasilnya juga bukan kita.
Dulu, politik belah bambu membutuhkan kerja lapangan yang melelahkan. Snouck Hurgronje harus menyamar, mengamati, dan masuk ke ruang-ruang sosial masyarakat Aceh. Sekarang, penguasa atau setidaknya elite yang berkepentingan menjaga kekuasaan tidak perlu repot. Cukup membiarkan algoritma bekerja, buzzer beroperasi, dan narasi saling benci berseliweran. Rakyat saling serang, penguasa tinggal panen ketenangan politik.
Peristiwa awal Januari 2026, ketika pelaporan terhadap figur publik dilakukan dengan mencatut nama organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah, memperlihatkan pola ini dengan telanjang. Ketika organisasi resminya membantah, konflik tidak otomatis reda. Sebab tujuan utamanya bukan kebenaran, melainkan kegaduhan. Selama rakyat sibuk berdebat soal identitas dan loyalitas, pertanyaan tentang kebijakan, keadilan, dan distribusi kekuasaan bisa ditunda.
Di sinilah posisi kita jadi terang benderang: rakyat adalah objek. Kita yang dipancing emosi, kita yang bertengkar, kita yang capek sendiri. Sementara itu, para pemegang kuasa tetap berada di posisi subjek mengatur tempo, menentukan kapan api perlu dikipasi dan kapan cukup dibiarkan padam. Mereka tidak perlu ikut marah, karena kemarahan sudah kita uruskan secara sukarela.
Media sosial menjadi alat yang sangat membantu. Netizen berfungsi seperti pasukan cadangan yang selalu siap digerakkan tanpa gaji. Cukup diberi isu sensitif, mereka akan bergerak sendiri. Yang satu merasa sedang membela kebenaran, yang lain merasa sedang memperjuangkan kebebasan. Keduanya lupa satu hal: ketika rakyat saling mencurigai, penguasa mendapatkan satu keuntungan besar tidak ada tekanan kolektif yang serius ke atas.
Media massa pun, sadar atau tidak, kadang ikut menguatkan skema ini. Konflik horizontal lebih mudah dijual daripada kritik struktural. Adu argumen antarwarga lebih aman daripada menguliti kebijakan. Maka, politik belah bambu semakin nyaman: rakyat jadi tontonan, penguasa tetap di balik layar.
Mengapa strategi setua museum ini masih efektif? Karena kita masih mau menjadi objek. Kita lebih senang bereaksi daripada berpikir, lebih cepat membenci daripada memeriksa. Literasi digital kita sering kalah oleh dorongan untuk merasa benar. Selama itu berlangsung, penguasa tidak perlu repot-repot menciptakan musuh bersama; kita sudah melakukannya sendiri.
Padahal, kekuasaan paling nyaman adalah kekuasaan yang tidak perlu menghadapi rakyat secara langsung. Selama rakyat sibuk bertikai ke samping, kekuasaan bisa berjalan lurus ke depan tanpa gangguan. Tidak ada tuntutan serius, tidak ada solidaritas luas, hanya keramaian semu yang melelahkan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadi bambu yang pasrah dibelah. Selama kita terus mau diangkat dan diinjak sesuka hati, posisi kita akan tetap sama: objek dalam permainan lama dengan kemasan baru. Di tahun 2026 ini, sikap paling subversif justru sederhana, menolak diadu, menunda marah, dan mengarahkan kritik ke atas, bukan ke samping.
Sebab selama rakyat sibuk saling menginjak, penguasa akan terus mereguk manisnya kekuasaan. Dan kita, seperti biasa, baru sadar setelah kelelahan saat bambu sudah terbelah, dan yang tersisa hanya serpihan yang tak lagi punya daya tawar.
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

