Cirebon, Nitikan.Id — Ketupat selama ini dikenal sebagai sajian khas yang identik dengan Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada 1 Syawal. Namun, tradisi tersebut memiliki corak berbeda di lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon. Di sana, ketupat justru menjadi bagian penting dari perayaan yang digelar sepekan setelah Idul Fitri, yakni pada 8 Syawal.
Tradisi yang dikenal sebagai Bada Ketupat ini telah berlangsung sejak lama dan tetap terjaga hingga kini. Bagi masyarakat sekitar dan para alumni, momen ini bukan sekadar menikmati hidangan khas, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang sarat nilai spiritual.
Pengasuh Pondok Pesantren As-Sa’idiyyah Buntet Pesantren, KH.Ahmad Syukrie Sa’id, menjelaskan bahwa rangkaian tradisi di pesantren memiliki alur tersendiri.
“Pada 1 Syawal biasanya diisi dengan silaturahmi keluarga. Kemudian hari kedua hingga ketujuh diisi dengan puasa sunah Syawal. Nah, pada hari kedelapan barulah kami merayakan Bada Ketupat,” ujarnya.
Pada hari tersebut, masyarakat umum dan para alumni datang berbondong-bondong ke pesantren untuk sowan, bersilaturahmi, sekaligus merayakan kebersamaan. Suasana pesantren pun menjadi lebih hidup, dipenuhi nuansa kekeluargaan yang hangat.
Keunikan lain dari tradisi ini terletak pada proses pembuatan ketupat itu sendiri. Berbeda dengan kebiasaan umum yang banyak membeli ketupat jadi, di Buntet Pesantren ketupat justru dibuat langsung oleh para kiai dan nyai.
Menurut Kiai Ahmad Syukri Said, proses menganyam janur hingga menjadi ketupat tidak hanya sekadar keterampilan tangan, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual.
“Dalam proses membuat ketupat, saat menganyam janur, kami sertai dengan doa dan sholawat,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan bahwa ketupat Buntet memiliki daya tarik tersendiri di mata masyarakat. Bahkan, banyak warga yang menantikan momen ini setiap tahunnya.
“Banyak masyarakat sangat suka ketupat Buntet karena tidak ada di daerah lain. Ya karena dibuatnya hanya di Buntet,” ujarnya sambil berkelakar saat ditemui nitikan.id di pesantren.
Buntet Pesantren sendiri merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia. Berdiri sejak sekitar tiga abad lalu, pesantren ini telah menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh, khususnya di wilayah Jawa Barat. Dengan jumlah santri dan jaringan alumni yang luas, Buntet Pesantren juga dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar di Jawa Barat.
Tradisi Bada Ketupat di Buntet Pesantren menjadi contoh bagaimana nilai-nilai keislaman, budaya, dan kebersamaan berpadu dalam satu perayaan. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap bertahan, menjadi pengingat bahwa makna Idul Fitri tidak berhenti pada 1 Syawal, melainkan terus berlanjut dalam bentuk ibadah, silaturahmi, dan berbagi keberkahan. (Red).

