Lebaran itu unik. Katanya momen kembali ke fitrah, tapi yang sering terjadi justru kembali ke fitur.
Fitur pamer, tepatnya.
Beberapa hari ke depan, kita akan menyaksikan fenomena tahunan, silaturahmi yang diam-diam berubah jadi ajang pamer pencapaian. Halus sih, nggak frontal. Tapi kalau peka sedikit, rasanya kayak lagi ikut pameran ekonomi versi keluarga.
Tidak ada spanduk, tidak ada tiket masuk. Tapi isinya lengkap.
Ada yang pamer karier.
Ada yang pamer rumah.
Ada yang pamer kendaraan.
Ada yang pamer anak.
Bahkan ada yang pamer ketenangan hidup, padahal cicilan masih jalan terus tanpa ampun.
Semua hadir dengan versi terbaiknya.
Baju baru, wangi baru, semangat baru dan tentu saja, cerita yang sudah dikurasi.
Karena Lebaran bukan cuma soal maaf-maafan.
Ini juga soal “update status kehidupan” secara offline.
Kalau biasanya kita lihat Instagram, sekarang kita jadi Instagram-nya.
Bedanya, ini versi live. Tanpa filter. Eh, tapi tetap ada editannya di kepala masing-masing.
Pertanyaan-pertanyaan khas pun mulai bermunculan, seperti template yang diwariskan turun-temurun:
“Sekarang kerja di mana?”
“Alhamdulillah cukup ya?”
“Sudah punya rumah belum?”
“Anaknya sekolah di mana?”
Pertanyaan ini sebenarnya sederhana. Tapi efeknya bisa panjang, bahkan kadang lebih panjang dari antrean opor.
Bagi yang hidupnya lagi di atas, ini momen bersinar. Jawaban keluar lancar, senyum lebar, kadang ditambah cerita bonus yang sebenarnya tidak ditanya.
Bagi yang hidupnya lagi di bawah, senyum tetap ada. Tapi jawabannya lebih hemat, seperti kuota di tanggal tua.
“Masih proses.”
“Doain aja ya.”
“Alhamdulillah dijalani.”
Singkat, padat, penuh makna, dan sedikit menghindar sambil berharap topik segera pindah ke rendang.
Di titik ini, silaturahmi mulai terasa seperti sesi wawancara kerja yang santai tapi menegangkan. Kita datang bukan cuma bawa ketupat, tapi juga bawa “laporan kehidupan” setahun terakhir.
Dan tanpa sadar, kita semua jadi peserta.
Lucunya, hampir semua orang melakukan hal yang sama seperti menampilkan yang terbaik, menyembunyikan yang berantakan.
Yang dipajang biasanya yang enak dilihat.
Yang disimpan biasanya yang bikin pusing tujuh keliling.
Jadi sebenarnya, ini bukan sekadar silaturahmi. Ini semacam pameran mini.
Masing-masing buka “booth” kehidupan.
“Silakan dilihat, ini update terbaru saya.”
Padahal kalau mau jujur, hidup itu lebih mirip gudang daripada etalase. Banyak yang belum rapi, banyak yang belum selesai, dan banyak yang ditumpuk sambil bilang, “nanti aja diberesin.”
Tapi ya masa iya kita datang bawa semua itu, terus ditaruh di ruang tamu?
“Ini saya lagi overthinking, silakan dinikmati.”
Nggak mungkin.
Akhirnya kita pilih aman: tampil rapi, bicara seperlunya, dan tersenyum secukupnya.
Yang menarik, orang yang kita lihat “wah” itu, bisa jadi juga lagi menyembunyikan hal yang sama seperti kita.
Dia juga punya cerita yang tidak ditampilkan.
Dia juga punya beban yang tidak diceritakan.
Jadi sebenarnya ini agak lucu.
Sekelompok orang yang sama-sama sedang berjuang, sama-sama punya masalah, tapi sepakat untuk saling menunjukkan bahwa hidupnya baik-baik saja.
Kesepakatan tanpa rapat.
Kalau dipikir-pikir, ini bukan sepenuhnya salah.
Karena di balik semua itu, ada keinginan yang sangat manusiawi: ingin dihargai, ingin dianggap berhasil, ingin diakui bahwa hidupnya tidak sia-sia.
Dan Lebaran jadi panggung yang paling pas untuk itu.
Tapi mungkin, di tengah semua obrolan itu, kita bisa mulai pelan-pelan menggeser arah.
Dari yang biasanya tanya pencapaian, jadi tanya perjuangan.
Dari sekadar melihat, jadi mencoba memahami.
Supaya silaturahmi tidak cuma jadi ajang tampil, tapi juga jadi ruang pulang.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan tentang siapa yang paling bersinar di etalase.
Tapi siapa yang paling tulus membuka pintu.
Dan mungkin, di antara ketupat, opor, dan obrolan yang kadang melipir ke mana-mana, kita bisa menemukan satu hal sederhana yang sering terlupakan yakni
Rasa cukup.
Yang tidak perlu dipamerkan,
tapi diam-diam menenangkan.
Dan biasanya… justru itu yang paling mahal.
Hegar Dinandaru shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

