H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Oemar Said (H.O.S.) bukan sekadar pemimpin Sarekat Islam, melainkan “Guru Bangsa” yang meletakkan fondasi intelektual bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Di rumah kosnya yang sederhana di Gang Peneleh, Surabaya, ia menanamkan sebuah doktrin kepemimpinan yang legendaris: “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.” Kalimat ini bukan sekadar saran teknis, melainkan sebuah strategi kebudayaan untuk melawan kolonialisme melalui penguasaan literasi dan retorika.
Pada masa kolonial, kekuasaan Belanda tidak hanya berdiri di atas kekuatan militer dan administrasi, tetapi juga pada penguasaan pengetahuan dan wacana. Bahasa, informasi, dan narasi sejarah dikendalikan untuk membenarkan ketimpangan dan meninabobokan rakyat. Dalam konteks inilah Tjokroaminoto memahami bahwa perjuangan tidak cukup dilakukan dengan perlawanan fisik. Rakyat harus dibangunkan kesadarannya, dan kesadaran hanya bisa tumbuh melalui penguasaan kata-kata.
Pandangan ini tidak lahir dari ruang hampa. H.O.S. Tjokroaminoto bukan hanya pernah menulis, tetapi secara nyata berperan sebagai wartawan pergerakan dan pemimpin pers, yang memanfaatkan jurnalisme sebagai senjata intelektual dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keterlibatannya sebagai penulis aktif sekaligus pemimpin redaksi surat kabar Oetoesan Hindia, media Sarekat Islam. Menegaskan bahwa pers baginya adalah medan pertempuran ide. Melalui media cetak, ia menyebarkan gagasan keadilan sosial, mengkritik kolonialisme, serta membentuk kesadaran politik bumiputra secara sistematis.
Filosofi “menulislah seperti wartawan” menekankan pada kekuatan analisis dan penyebaran ide. Seorang pemimpin dituntut memiliki ketajaman melihat realitas sosial, objektif dalam menyajikan data, namun tajam dalam memberikan kritik. Tulisan dianggap sebagai senjata abadi yang melampaui batas ruang dan waktu. Apa yang ditulis hari ini dapat hidup lebih lama daripada pelakunya, membentuk pikiran generasi yang bahkan belum lahir.
Dalam pandangan Tjokroaminoto, jurnalisme bukanlah sekadar aktivitas mencatat peristiwa, melainkan latihan intelektual dan etika. Wartawan dilatih untuk berpikir runtut, berani bertanggung jawab atas kata-katanya, serta berpihak pada kebenaran. Dengan menulis, seorang pemimpin belajar mendisiplinkan pikirannya sendiri sebelum mendisiplinkan arah perjuangan.
Sementara itu, “bicaralah seperti orator” adalah tentang seni persuasi dan mobilisasi. Di tengah masyarakat yang kala itu sebagian besar masih buta aksara, kemampuan berbicara di podium—seperti yang dilakukan Tjokroaminoto yang dijuluki “Harimau Mimbar” menjadi kunci untuk membakar semangat massa dan menyatukan tekad kolektif. Orasi bukan hanya alat komunikasi, melainkan peristiwa sosial yang membangun keberanian bersama.
Di podium, kata-kata mendapatkan nyawa. Intonasi, gestur, dan keberanian pembicara menyatu dengan denyut emosi rakyat.
Tjokroaminoto memahami bahwa rakyat yang lama ditindas tidak cukup diberi data, tetapi perlu disentuh harga dirinya. Orasi menjadi jembatan antara gagasan intelektual dan keberanian kolektif.
Ajaran ini terbukti manjur melalui rekam jejak murid-muridnya yang menghuni “Rumah Peneleh”. Sosok-sosok seperti Soekarno, Semaun, Musso, hingga Kartosoewirjo adalah bukti nyata dari keberhasilan didikan Tjokroaminoto.
Meskipun di kemudian hari mereka memilih jalan ideologi yang berbeda mulai dari Nasionalisme, Komunisme, hingga Islamisme namun mereka memiliki satu kesamaan: mereka adalah penulis (wartawan) yang produktif dan pembicara (orator) yang ulung.Perbedaan ideologi para murid ini justru menunjukkan keluasan visi Tjokroaminoto. Ia tidak mencetak pengikut yang seragam, melainkan pemikir yang merdeka. Yang diwariskan bukan doktrin tunggal, tetapi metode berpikir kritis dan keberanian menyuarakan gagasan di ruang publik.
Soekarno, misalnya, mengasah kemampuan menulisnya melalui majalah Fikiran Ra’jat dan pidato-pidatonya yang menggetarkan dunia. Kartosoewirjo menjadi pemimpin redaksi di Oetoesan Indonesia, sementara Semaun menggunakan pers sebagai alat agitasi kaum buruh. Bagi mereka, menjadi wartawan bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan instrumen perang intelektual untuk mendidik rakyat dan menggoyang pilar-pilar kekuasaan kolonial.
Melalui tulisan, mereka menantang narasi resmi penjajah; melalui pidato, mereka membangun imajinasi tentang Indonesia yang merdeka. Pena dan podium menjadi dua sisi dari satu perjuangan yang sama: membebaskan manusia dari ketakutan, kebodohan, dan rasa tidak berdaya.
Warisan Tjokroaminoto mengajarkan kita bahwa perubahan besar tidak hanya lahir dari kekuatan fisik, tetapi dari perpaduan antara kecerdasan berpikir dan kemahiran berkomunikasi. Dengan menulis, gagasan memiliki struktur dan kedalaman; dengan berbicara, gagasan tersebut mendapatkan jiwanya. Melalui pena dan podium, murid-murid Tjokroaminoto berhasil membawa Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan, membuktikan bahwa kata-kata benar-benar memiliki kekuatan untuk meruntuhkan sebuah kekaisaran.
Aditiya Noval
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

