Nitikan.id, Opini – Sandal, alas kaki yang sederhana, telah menemani manusia sejak peradaban kuno hingga era modern. Ia bukan hanya sekadar pelindung kaki, tetapi juga menyimpan makna mendalam dalam berbagai aspek kehidupan. Dari Firaun yang memakai sandal sebagai simbol kekuasaan, Nabi Muhammad ﷺ yang meninggalkan jejak spiritual hingga pemimpin Indonesia yang terjebak dalam kesombongan dan korupsi, sandal menjadi cermin perjalanan manusia dalam memahami kehidupan, kekuasaan, dan kebijaksanaan.
Sandal memiliki fungsi utama sebagai pelindung kaki dari panas, dingin, dan benda tajam. Ia juga menjadi simbol kesederhanaan karena mudah dipakai, murah, dan tersedia bagi semua kalangan. Dalam masyarakat, sandal digunakan di berbagai situasi, dari rumah hingga tempat ibadah, dari pasar hingga istana. Meski sederhana, sandal memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, baik secara fungsional maupun filosofis.
Sejarah mencatat bahwa sandal telah digunakan sejak zaman Mesir kuno, Yunani, Romawi, hingga Jepang. Firaun Mesir mengenakan sandal dari emas sebagai lambang status, sementara rakyat biasa memakai sandal dari anyaman papirus. Bangsa Romawi dan Yunani mengembangkan sandal dengan desain yang lebih kompleks, mencerminkan status sosial pemakainya. Sementara itu, di Jepang, sandal tradisional zōri menjadi inspirasi bagi sandal jepit modern yang kini digunakan di seluruh dunia.
Sandal sering dikaitkan dengan filosofi keseimbangan hidup. Sepasang sandal yang harus digunakan bersama melambangkan harmoni dan kesetaraan. Jika salah satu sandal hilang, maka pasangannya tidak bisa digunakan dengan nyaman. Ini mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan antara hak dan kewajiban, kerja dan istirahat, serta dunia dan akhirat.
Dalam peradaban Mesir, sandal bukan hanya alas kaki, tetapi juga simbol dominasi. Beberapa relief menunjukkan gambar Firaun menginjak musuh-musuhnya yang diukir di sol sandalnya, melambangkan bahwa mereka berada di bawah kekuasaannya. Namun, sejarah membuktikan bahwa kekuasaan yang arogan tidak abadi. Kisah Firaun yang mengejar Nabi Musa hingga tenggelam di Laut Merah menjadi pengingat bahwa kesombongan dan kezaliman pada akhirnya akan tumbang.
Berbeda dengan sandal Firaun yang melambangkan dominasi, sandal Nabi Muhammad ﷺ adalah simbol perjalanan spiritual. Dalam Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad ﷺ melakukan perjalanan luar biasa ke Sidratul Muntaha, titik tertinggi yang bahkan malaikat Jibril tidak dapat melewatinya. Beberapa ulama sufi berpendapat bahwa jejak sandal Nabi tetap ada di sana, melambangkan perjalanan manusia menuju Tuhan.
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan adab dalam memakai sandal, seperti mendahulukan kaki kanan saat memakai dan kaki kiri saat melepas. Ia juga mengingatkan agar tidak berjalan dengan satu sandal saja, karena itu melambangkan ketidakseimbangan. Ajaran ini mengandung makna bahwa kehidupan harus dijalani dengan keseimbangan dan ketelitian dalam setiap langkah.
Nabi Muhammad ﷺ dikenal sebagai pemimpin yang sederhana. Ia tidak menggunakan alas kaki mewah, bahkan sering menjahit sandalnya sendiri. Sikap ini berbanding terbalik dengan para pemimpin dunia yang gemar memamerkan kekayaan. Sandal Nabi menjadi simbol bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang menunjukkan kemewahan, tetapi mereka yang berjalan di tengah rakyatnya dengan kesederhanaan.
Dalam sejarah Indonesia, ada beberapa pemimpin yang merasa dirinya sebagai “raja”. Mereka bukan hanya menikmati kekuasaan, tetapi juga menganggap diri mereka berada di atas hukum. Gaya hidup mewah, kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, serta kesombongan dalam berkuasa adalah tanda-tanda bahwa seseorang mulai mengikuti jejak Firaun.
Ketika seorang pemimpin merasa dirinya raja, maka korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) mulai merajalela. Sejarah mencatat bagaimana pemimpin yang rakus kekuasaan mulai mengutamakan keluarga dan kroni mereka, memperkaya diri sendiri, serta mengabaikan kesejahteraan rakyat. Sandal yang seharusnya digunakan untuk berjalan di jalan yang benar malah meninggalkan jejak kotor yang merusak negeri.
Seorang pemimpin yang menganggap dirinya “penguasa mutlak” tidak jauh berbeda dengan Firaun. Mereka membangun dinasti politik, menggunakan hukum untuk kepentingan pribadi, dan menekan siapa saja yang menentang mereka. Namun, seperti halnya Firaun yang akhirnya tenggelam, sejarah menunjukkan bahwa pemimpin seperti ini tidak akan bertahan lama.
Sebaliknya, pemimpin yang mengikuti jejak Nabi Muhammad ﷺ adalah mereka yang tidak tergoda oleh kemewahan dan kekuasaan. Mereka memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan hak istimewa. Jejak mereka tidak hanya dikenang dalam sejarah, tetapi juga dihormati oleh rakyat.
Sandal mengajarkan bahwa setiap langkah yang kita ambil meninggalkan jejak. Kita bisa memilih apakah ingin meninggalkan jejak seperti Firaun, dengan kesombongan dan kezaliman, atau seperti Nabi Muhammad ﷺ, dengan kesederhanaan dan kebijaksanaan.
Sandal bukan hanya alas kaki, tetapi cerminan perjalanan hidup manusia. Dari Firaun yang menginjak musuh-musuhnya hingga Nabi yang berjalan menuju Sidratul Muntaha, dari presiden yang menganggap dirinya raja hingga mereka yang terjebak dalam korupsi, sandal mencerminkan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Sejarah selalu mencatat jejak kita,apakah kita akan dikenang sebagai pemimpin yang bijak atau sebagai penguasa yang zalim?
Sandal mungkin terlihat sepele, tetapi langkah yang kita ambil saat mengenakannya bisa menentukan ke arah mana kita akan dikenang dalam sejarah.
Malang ,18 Maret 2025
Lanang Mujahidin
Pegiat Rumah Baca Kanjuruhan
Kepanjen

