Dunia kerap mengukur pengaruh seseorang dari jabatan yang disandang atau saldo rekening yang ditumpuk. Kekuasaan, popularitas, dan angka-angka sering dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup. Namun sejarah sesekali menghadirkan anomali yang indah sebuah pengecualian yang justru mengoreksi cara kita menilai makna hidup. Sosok itu bernama Chen Shu-chu, penjual sayur sederhana dari pasar tradisional di Taiwan.
Hidup Chen nyaris asketik. Ia tidur di lantai, makan nasi dengan tahu, dan menolak kenyamanan yang bagi banyak orang dianggap kebutuhan dasar. Namun dari kesederhanaan ekstrem itulah, selama hampir setengah abad, Chen berhasil menyumbangkan dana setara Rp7,7 miliar untuk pembangunan perpustakaan dan rumah sakit. Ia memberi bukan dari kelimpahan, melainkan dari disiplin hidup yang konsisten dan niat yang jernih.
Ketulusan yang nyaris “liar” ini mengguncang dunia. Pada 2010, Majalah Time menobatkan Chen Shu-chu sebagai salah satu dari 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia. Ia berdiri sejajar dengan presiden, CEO raksasa global, dan selebritas internasional bukan karena kekuasaan atau ketenaran, melainkan karena kekuatan karakter. Dunia modern, yang sering sinis terhadap moralitas, terpaksa mengakui bahwa ada pengaruh besar yang lahir dari kesunyian.
Esensi pertama dari kehidupan Chen Shu-chu adalah zuhud, kesederhanaan yang dipilih secara sadar. Ia hidup hemat bukan karena kikir, tetapi karena tidak melihat makna pada penumpukan. Chen pernah menyebut uang hanyalah “kertas”. Pandangan ini mengingatkan pada teladan Nabi Muhammad SAW, yang memilih hidup sederhana meski memiliki akses pada kekayaan. Nabi tidur di atas tikar anyaman hingga membekas di tubuhnya, sebuah simbol bahwa kenyamanan bukan tujuan hidup.
Dalam sebuah riwayat, kedermawanan Nabi Muhammad SAW tampak jelas ketika beliau merasa gelisah karena mengingat masih ada sepotong emas sedekah yang tersimpan di rumahnya. Kegelisahan itu baru reda setelah emas tersebut segera dibagikan kepada yang berhak. Bagi Nabi, harta yang tertahan bukanlah keamanan, melainkan beban moral. Prinsip inilah yang hidup dalam diri Chen Shu-chu: uang tidak pernah ia anggap sebagai jaminan rasa aman pribadi, melainkan amanah yang harus segera dialirkan kembali ke masyarakat.
Lebih jauh, Chen meruntuhkan stigma bahwa kedermawanan adalah hak eksklusif orang kaya. Ia mengumpulkan receh demi receh dari hasil berjualan kangkung selama hampir 50 tahun. Etos kerjanya luar biasa hingga 18 jam sehari mencerminkan tangan kasar yang dalam tradisi Islam dipuji sebagai tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya: tangan yang bekerja keras dengan cara baik untuk kemudian memberi manfaat. Sedekah dari hasil kerja semacam ini memiliki nilai yang sangat tinggi, terlebih ketika dilakukan dalam keterbatasan.
Di titik ini, Chen Shu-chu dan Nabi Muhammad SAW bertemu secara etis. Keduanya memberi bukan dari sisa, melainkan dari kesadaran. Kedermawanan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi cara memandang dunia: bahwa kepemilikan sejati terletak pada kemampuan melepaskan.
Yang paling menyentuh, keduanya sama-sama mengubah luka masa lalu menjadi sumber kasih sayang. Chen kehilangan ibunya karena kemiskinan, pengalaman pahit yang membekas sepanjang hidupnya. Sementara Nabi Muhammad SAW tumbuh sebagai yatim piatu di tengah masyarakat yang keras. Namun alih-alih tenggelam dalam kepahitan, pengalaman itu justru melahirkan empati yang mendalam. Chen membangun perpustakaan agar anak-anak memiliki akses pada masa depan yang lebih baik. Nabi menempatkan ilmu sebagai cahaya peradaban dan jalan pembebasan manusia.
Di tengah dunia yang semakin riuh oleh kompetisi, akumulasi, dan pamer keberhasilan, kisah Chen Shu-chu mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman: untuk apa sebenarnya kita menyimpan begitu banyak? Ini sejalan dengan etika kenabian yang menempatkan manusia bukan sebagai pemilik mutlak, melainkan penjaga sementara. Nabi Muhammad SAW tidak menolak dunia, tetapi menolak diperbudak olehnya. Chen pun demikian, ia tetap berdagang, bekerja keras, dan hidup di dunia, namun tidak membiarkan dunia menetap di hatinya.
Kini, Chen Shu-chu memang tidak lagi berdagang di pasar. Sejak beberapa tahun terakhir ia memilih pensiun karena faktor usia dan kesehatan. Namun berhentinya ia berjualan tidak pernah berarti berhenti memberi. Jejak hidupnya justru semakin menegaskan bahwa kedermawanan sejati tidak bergantung pada profesi, panggung, atau momentum.
Kisah Chen mengingatkan kita pada pesan mendalam Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Nabi wafat tanpa meninggalkan dinar dan dirham, namun meninggalkan warisan nilai yang mengubah peradaban. Chen Shu-chu pun mungkin tidak meninggalkan gedung atas namanya, tetapi ia meninggalkan jejak kemanusiaan yang hidup dalam buku-buku anak, ruang rawat rumah sakit, dan kesadaran kolektif kita tentang arti cukup dan arti memberi.
Di tengah dunia yang gemar menimbun dan memamerkan, Chen hadir sebagai suara hening yang menggugah bahwa hidup yang tampak kecil bisa memiliki gema yang panjang, selama dijalani dengan keikhlasan, kerja keras, dan keberanian untuk melepaskan. Dalam cakrawala kenabian, itulah ukuran kemuliaan manusia yang sesungguhnya.
Muhammad RF
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

