Oleh : Ade Syahid / Mang Atef*
Tentunya sudah banyak keterangan dan informasi terkait dengan keutamaan ilmu juga keistimewaan-keistimewaan pemegangnya baik yang di kategorikan ; cendikiawan, filusuf, ulama, fakar, praktisi dan sebagainya. Maka menjadi syarat dasar mengenai berbagai persoalan untuk di selesaikan atau di pertimbangkan/ konsultasi mengenai persoalan yang di hadapi di serahkan kepada ahlinya/ fakarnya supaya tidak terjadi kerusakan dengan landasan pertimbangan kesadaran nalar dan kecerdasan akalnya, itulah kenapa ahli ilmu di angkat derajatnya karena pemahaman nalar akalnya baik secara teoritis maupun praktis, benarlah steatmen sayyidina ali bahwa “siapa mau sukses dunia dengan ilmu, siapa mau sukses akhirat dengan ilmu dan siapa mau keduanya dengan ilmu”.
Karena secara pendekatan filosofis ahli ilmu apapun dianggap fakar ketika faham ontologi terkait keberadaan (eksistensi) dan keapaan (esensi) sesuatu baik materil maupun im materil, faham epistemologi terkait sumber-sumber valid keilmuannya baik secara indra/ pengalaman, penghayatan intuisi, pembandingan/ pemitsalan maupun pendalaman akal (rasionalitas). Faham Aksiologi terkait nilai-nilai substansial seperti benar salah ataupun baik buruk realitasnya.
Kewarasan fitrah manusia merdeka cenderung kepada memuliakan nilai-nilai pesannya bukan karena status si pembawa pesan selaras dengan sabda kanjeng Nabi Muhammad SAW “Ikutilah Nilai-nilai omongan seseorang bukan karena status seseorang tersebut”. Hal demikian berlandaskan kepada pandangan dunia (konsep teoritis) dan ideologis (konsep praktis) bahwa ilmu, sumber ilmu dan nilai ilmu adalah Cahaya ke_Tuhanan (Tauhid/ illahiah). Tunduk dan patuh sejatinya kepada penyembahan merdeka mahluk (ciptaan) kepada kholik (penciptanya).
Dalam proses mempelajari dan mendalami ilmu, ketika belum pada level ma’rifat (kefakaran/ kesempurnaan) baik secara proses khusuli (pembelajaran tarbiyah) maupun secara khuduri/ laduni (cahaya pemahaman langsung) maka bagi para pelajar/ santri/ mahasiswa menghormati/ memuliakan fakar fakar seperti cendikiawan, ulama, filusuf, praktisi ahli dan lainnya, adalah suatu keniscayaan bukan karena sesuatu yang realitas materilnya, namun sesuatu yang realitas im materilnya ujung-ujungnya ketundukan/ keberserahan kepada penyebab awwal segala sesuatu, sumber sebab yang tidak tersusun, tidak, terangkap, tidak terbatas, tidak menempati ruang waktu tertentu bahkan tidak terdefinisi oleh penghalang definisi itu sendiri, pandangan agama mengenalnya Tuhan (illahi) sehingga Awwal dari agama adalah pengenalan Tuhan, serta siapa yang mau mengenal Tuhannya, kemestian mengenal dirinya (manusiawi).
Praktek kemanusiaan yang di dasari nilai-nilai Ketuhanan itulah keberadaban / adan sejati..jadi istilah adab lebih tinggi di banding ilmu maksudnya adalah memuliakan/ menghormati sesuatu itu di utamakan dibanding memandang / menghakimi sesuatu karena kaca mata pribadi atau sudut pandang yang sempit/ subjektif yang bukan di dasari ilmu kemanusiaan dan ilmu ketuhanan. Disinilah letak manusia yang adil dan beradab yang tahu diri dan tahu posisinya.
Setelah faham adab, selanjutnya setiap individu/ identitas/ kaum / lembaga melekat amanat secara rasional dan filosofis terkait fungsi, tugas dan perjuangan nya. Status sebagai individu, profesi ataupun kelembagaan/ organisasi mesti selaras dengan amanat maksudnya ; ketersambungan/ keterikatan hakikat status, definisi, tugas pertanyaan di ciptakan dengan tujuan di ciptakannya. Pertanyaan mendasar seperti : siapa aku, darimana asalnya, dimana fungsi/ perannya, akan kemana tujuan kehidupan individu ataupun organisasi/ kaum ini sejalan dengan ilmu ma’ad (penciptaan) dan eskatologi (tujuan akhir), di praktek kan dengan bermacam upaya ikhtiar mewujudkan keniscayaan universal (takdir) berujung baik (sesuai) atau buruk (tidak sesuai) dengan konsep kemanusiaan yang di tugaskan menjadi kholifah (pemimpin) ataupun menjadi rahmat (bermanfaat). Karenanya manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat untuk mahluk Tuhan (illahi) sesama atau yang lainnya.
Pemahaman ilmu, Praktik Adab dan Amanat disesuaikan oleh konsep pemimpin/ imam/ kholifah spesifikasi sistemnya di sebut kepemimpinan. Di mulai memimpin diri sendiri, memimpin keluarga, memimpin organisasi, memimpin masyarakat, memimpin bangsa hingga memimpin ummat agar fitrah kemanusiaannya sejalan dengan misteri kesempurnaan Tuhan (illahi) akal waras nan merdeka membimbing wilayah dan batas-batasnya. Secara tingkatan dan substansial nya akan di bahas di tulisan berikutnya.. InsyaAllah
Jadi kesimpulannya adalah hanya yang tahu ilmu, adab, amanat dan kepemimpinan yang kehidupannya teratur. Contoh kenapa mencuri itu salah atau dosa karena meniadakan izin dari pemiliknya beda dengan meminta, menukar atau pun membeli meski sama pindah posisi tapi substansi izin ada atau tiada yang membedakannya. Kenapa menikah menjadi ibadah, ketika rukun dan syaratnya terpenuhi ; karena mengadakan izin dari orang tua/ keluarga, masyarakat, negara dan aturan agama. Banyak hal-hal lain sebagai contohnya ; singkatnya baik individu, keluarga, organisasi, negara, bangsa dan ummat ada yang di amanati baik tersurat ataupun tersirat berpungsi sebagai yang diberi amanat sebagai pemimpinnya. Maka jika pergerakan kehidupan apapun secara rasional harus ter komunikasi terhadap pemimpinnya. Dalam istilah militer tidak ada prajurit yang salah yang salah tetap komandannya. Itulah kenapa koordinasi dan komunikasi izin itu Niscaya Bagi Manusia yang ngaku berTuhan/ berAgama.
Jika menghilangkan izin dari pemimpin/ imamnya maka bisa masuk kategori salah, dosa ataupun usahanya ilegal meskipun dianggap baik tapi tidak benar sebagaimana adanya dan sebagaimana mestinya.
Mudah-mudahan Ilmu, Adab, Amanat dan pemahaman konsep kepemimpinan ini bisa di jalani oleh individu-individu yang ber ketuhanan yang maha Esa, ber kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menjaga persatuan Indonesia, mempraktekkan kerakyatan yang di pimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan untuk menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai mana petunjuk ahlul kisa dan para nabi di dalam al-qur’an sebagai suri tauladan saking sayangnya Tuhan (illahi) kepada mahluknya terkhusus ummat manusia.
Demikian wassalam…
*Ketua DPC Garda Walisongo Kabupaten Subang & Korpres MD KAHMI Kabupaten Subang

