Jakarta, Nitikan.id – Pada Selasa, 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 6,12% atau 395,87 poin, berakhir di level 6.076 pada sesi pertama perdagangan. IHSG bahkan sempat menyentuh 6.011 meski hanya sebentar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) pada pukul 11:19 WIB sebagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasar di tengah tekanan jual yang signifikan. Penghentian sementara ini berlangsung selama 30 menit, sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tentang Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan dalam Kondisi Darurat.
Data perdagangan BEI menunjukkan nilai transaksi saham siang itu sebesar Rp10,21 triliun dengan volume 15,87 miliar saham dan frekuensi 887,3 ribu kali. Sebanyak 73 saham menguat, 650 saham terkoreksi, dan 234 saham tidak bergerak.
Seluruh sebelas sektor di BEI mengalami penurunan, dengan sektor teknologi mencatat penurunan terbesar sebesar 12,46%. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turun 3,80% ke level Rp76 per lembar saham.
Menariknya, bursa saham Asia lainnya justru menguat. Indeks Hang Seng naik 1,80%, Shanghai Composite naik 0,05%, Nikkei tumbuh 1,45%, dan Straits Times terapresiasi 1,22%. Di bursa global, DOW30 tercatat naik 0,85%, SP500 naik 0,64%, dan FTSE naik 0,56%.
Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menyatakan bahwa penurunan IHSG lebih disebabkan oleh faktor domestik. Ia menilai pelaku pasar memiliki sentimen negatif terhadap berbagai kebijakan ekonomi pemerintah yang terus digulirkan, sehingga kepercayaan investor, terutama asing, terhadap prospek ekonomi Indonesia menurun.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai penurunan IHSG yang drastis bermula dari meningkatnya tensi geopolitik global, kekhawatiran atas resesi Amerika Serikat di tengah perang dagang, dan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia. Kekhawatiran ini diperparah dengan menurunnya kepercayaan terhadap ekonomi domestik, seperti penerimaan Indonesia yang menurun hingga 30%, yang dapat menyebabkan defisit APBN melebar, kebutuhan penerbitan utang lebih besar, dan pelemahan Rupiah. Hal ini berpotensi membuat tingkat suku bunga Bank Indonesia lebih sulit untuk turun.
Maximilianus menambahkan, selama ketidakpastian ekonomi berlanjut, investor cenderung memilih instrumen investasi yang lebih aman dan memberikan kepastian imbal hasil, sehingga saham menjadi kurang menarik, dan obligasi mungkin menjadi pilihan setelah saham.

