Nitikan.id – Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, informasi Teknologi (IT) sekarang ini sudah semakin maju. Bahkan, sangat luar biasa maju sehingga setiap orang dapat berbicara atau bercerita, mengadu, berkeluh kesah, curhat menceritakan berbagai hal, baik menyampaikan rasa suka,atau tidak suka, senang, gembira, benci, kesal dan lain-lain melalui media sosial (medsos).
Perkembanga IT sekarang ini, sudah melanda ke berbagai sektor dan lapisan masyarakat. Untuk itu, masyarakat harus dapat berhati-hati dan dapat lebih bijak dalam menggunakan medsos, terutama mengenai berita bohong atau hoax.
Kita tahu dari zaman dahulu pun, saat kita masih kecil pastilah orang tua selalu mengajarkan dan mengingatkan kepada kita agar dapat berbicara dengan baik, beretika, sopan santun dijaga, dan berhati – hati sekali berbicara terhadap orang lain. Jangan pernah suka mengeluarkan perkataan yang dapat membuat orang lain tersinggung, harus dapat menjaga sikap.
Kadang karena salah komunikasi timbul masalah antara individu. Ada yang bahkan ingin mengutarakan kebenaran, tetapi karena kurang tepat malah mengundang masalah. Islam sendiri mengajarkan hikmah dalam berkomunikasi atau dalam berbicara. Bentuknya adalah dengan mengatur setiap perkataan yang ingin diungkap. Hal ini juga sangat baik jika diterapkan ketika mengungkapkan sesuatu di status media sosial.
وقال ابن القيِّم: (الحِكْمَة: فعل ما ينبغي، على الوجه الذي ينبغي، في الوقت الذي ينبغي)
Hikmah menurut Imam Ibnul Qayyim adalah melakukan yang tepat, dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat. (Madarij As-Salikin)
Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim berkata,
قال قائل شعرا:
أوصيك فى نظم الكلام بخمسة
إن كنت للموصى الشفيق مطيعا
لا تغفلن سبب الكـــــلام ووقته
والكيف والكــــم والمكان جميعا
Seseorang berkata dalam sebuah syair:
Aku wasiatkan lima hal kepadamu dalam mengatur perkataan,
Jika engkau mau menuruti pemberi nasihat yang tulus.
Jangan melupakan sebabnya, kapan waktunya, bagaimana caranya, berapa banyaknya, dan tempatnya sekaligus.
Maksud dari perkataan Imam Az-Zarnuji adalah kalau kita berbicara aturlah perkataan kita dengan menimbang:
1. sebab bicara itu karena apa,
2. kapan waktu berbicara yang tepat,
3. bagaimana cara berbicara,
4. berapa banyak yang harus dibicarakan,
5. tempatnya sudah pas ataukah belum untuk jadi tempat berbicara.
Contoh hikmah lainnya dikatakan oleh Imam Imam Az-Zarnuji dalam kitab yang sama,
ولا بد من التأمل قبل الكلام حتى يكون صوابا، فإن الكلام كالسهم، فلا بد من تقويمه قبل الكلام حتى يكون مصيبا
Penuntut ilmu harus berpikir dulu sebelum berbicara, agar perkataannya benar. Sebab, perkataan itu seperti anak panah, sehingga ia harus dibidikkan sebelum diucapkan agar tepat mengenai sasaran.
Karenanya hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, ia akan dilempar ke neraka. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ
“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.” (HR. Tirmidzi).
Nabi SAW juga bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari)
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan hadits ini mengatakan, “Ini semua merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah SAW juga bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucap. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.
☆☆☆☆☆

