Sejarah dunia sering digambarkan dengan wajah serius seperti pidato panjang, meja perundingan yang kaku, dan foto-foto hitam putih para pemimpin yang mukanya seperti baru saja ditagih utang negara. Padahal kalau kita gali sedikit lebih dalam, sejarah kadang juga penuh adegan yang agak nakal.
Bukan nakal dalam arti kriminal, tapi nakal dalam arti yang manusiawi, santai, dan kadang bikin senyum sendiri.
Salah satu adegan sejarah yang agak “bandel” itu terjadi ketika Sukarno bertemu Fidel Castro di Havana tahun 1960.
Bayangkan dua tokoh ini seperti dua karakter utama dalam film revolusi kelas dunia. Yang satu flamboyan, tukang pidato, suka jas putih, dan punya koleksi kopiah yang bisa bikin toko peci Tanah Abang minder. Yang satu lagi berjanggut tebal, pakai seragam militer hampir setiap hari, dan terkenal dengan cerutu Kuba yang ukurannya kadang seperti pipa knalpot.
Kalau dua orang seperti ini bertemu, jelas suasananya tidak mungkin seperti rapat RT yang membahas iuran kebersihan.
Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras, diceritakan satu momen kecil tapi penuh simbol dimana Bung Karno dan Castro bertukar penutup kepala.
Castro melepas topi militernya lalu mencoba kopiah hitam Bung Karno. Sementara Bung Karno dengan gaya khasnya mencoba topi komandan revolusi Kuba itu.
Keduanya tertawa.
Kalau adegan itu terjadi hari ini, mungkin sudah viral di TikTok dengan caption: “Ketika dua revolusi dunia tukeran outfit.”
Tapi di balik tawa itu ada simbol yang menarik. Kopiah Bung Karno bukan cuma aksesori kepala. Itu adalah simbol nasionalisme Indonesia. Sementara topi Castro adalah simbol revolusi Kuba yang baru saja menumbangkan diktator Fulgencio Batista.
Jadi ketika mereka bertukar topi, rasanya seperti dua revolusi dunia sedang saling berkata: “Bro, perjuangan kita mirip ya.”
Dan Bung Karno memang punya reputasi sebagai magnet bagi para pemimpin dunia yang sedang gelisah terhadap dominasi Barat.
Ia seperti influencer politik global sebelum istilah influencer ditemukan.
Pidato-pidatonya, terutama di Konferensi Asia-Afrika 1955, menjadi semacam sirene kebangkitan bagi banyak bangsa yang lama dijajah.
Di konferensi yang digelar di Gedung Merdeka itu, Bung Karno berdiri di podium dan berbicara kepada 29 negara Asia dan Afrika. Negara-negara yang sebelumnya sering dianggap “pemain cadangan” dalam politik dunia.
Bung Karno berkata kira-kira begini: dunia sudah terlalu lama diatur oleh segelintir kekuatan besar. Sudah waktunya bangsa-bangsa Asia dan Afrika bicara dengan suara mereka sendiri.
Kalimat itu tidak hanya menggema di Bandung. Ia berjalan jauh melintasi benua, laut, dan bahasa.
Salah satu orang yang mendengarnya, meskipun tidak hadir langsung dia adalah seorang pemuda ulama di kota Mashhad, Iran.
Namanya Ali Khamenei.
Waktu itu Khamenei masih jauh dari posisi sebagai pemimpin tertinggi Iran. Ia hanyalah anak seorang ulama sederhana yang hidup di bawah kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi, seorang raja yang pemerintahannya terlalu dekat dengan Barat.
Bagi banyak anak muda Iran saat itu, situasi negara mereka terasa seperti rumah besar yang interiornya milik rakyat, tapi kunci pintunya dipegang orang lain.
Di tengah kegelisahan itu, Khamenei muda menemukan tulisan-tulisan Bung Karno.
Ia membaca pidato-pidato Bung Karno seperti orang menemukan playlist musik yang tiba-tiba cocok dengan suasana hatinya. Rasanya seperti ada seseorang di belahan dunia lain yang mengerti kegelisahannya.
Dalam memoarnya yang berjudul Cell No. 14, Khamenei menulis tentang masa-masa ketika ia dipenjara dan diasingkan oleh rezim Shah.
Dan di antara refleksi-refleksi itu, muncul satu nama yang ia sebut dengan hormat: Soekarno.
Bagi Khamenei muda, Bung Karno bukan sekadar presiden Indonesia. Ia adalah contoh bahwa pemimpin dari dunia Timur bisa berdiri tegak di panggung dunia tanpa harus meminjam keberanian dari Barat.
Kalau diibaratkan sepak bola, Bung Karno seperti pemain dari liga Asia yang tiba-tiba mencetak gol salto di final Piala Dunia geopolitik.
Negara-negara besar yang biasanya merasa jadi pemilik stadion mendadak harus menoleh.
Yang menarik, baik Bung Karno maupun Khamenei sama-sama pernah “sekolah politik” di tempat yang sama yakni penjara.
Bung Karno pernah dipenjara oleh Belanda di Banceuy. Di sana ia menulis pledoi legendaris Indonesia Menggugat.
Khamenei juga mengalami penjara ketika aktivitas politiknya dianggap mengancam rezim Shah.
Sejarah kadang punya selera humor yang aneh. Banyak ide besar lahir bukan di ruang konferensi mewah, tapi di sel penjara yang sempit.
Seolah-olah dunia berkata: “Kalau kamu ingin memahami arti kebebasan, coba dulu hidup tanpa kebebasan.”
Dari Bandung sampai Teheran, dari Havana sampai Mashhad, ada satu benang merah yang menghubungkan semua cerita ini.
Ide.
Ide memang punya kebiasaan buruk: ia sulit dikurung.
Pidato Bung Karno di Bandung mungkin hanya berlangsung beberapa puluh menit. Tapi gema dari pidato itu berjalan puluhan tahun dan menyeberangi ribuan kilometer.
Ia sampai ke Kuba, menginspirasi revolusi yang dipimpin Fidel Castro.
Ia juga sampai ke Iran, memberi bahan bakar intelektual bagi generasi muda yang kelak mengguncang monarki.
Bung Karno sendiri mungkin tidak pernah membayangkan bahwa gagasannya akan ikut berseliweran di kepala seorang pemuda Iran yang belum pernah ia temui.
Tapi begitulah sejarah bekerja.
Kadang sebuah ide lahir di podium kecil di Bandung, lalu berjalan-jalan keliling dunia seperti backpacker revolusioner.
Dan di suatu sudut kota Mashhad, seorang pemuda membaca ide itu, mengangguk pelan, lalu berkata dalam hati:
“Kalau orang Indonesia bisa melawan, kenapa kami tidak?”
Akhirnya, kisah ini bukan sekadar cerita tentang tiga tokoh besar dunia: Bung Karno, Fidel Castro, dan Ali Khamenei.
Ini adalah cerita tentang bagaimana gagasan bisa melompat lebih jauh daripada pesawat, lebih cepat daripada diplomasi, dan lebih bandel daripada sensor politik.
Karena ide yang sudah menemukan rumah di kepala manusia biasanya punya satu kebiasaan:
ia tidak mau pulang.
Aditya Naufal
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

