Pada sudut kampung yang tak tercatat dalam Google Maps, petani-petani tua sedang menunduk di tengah hamparan sawah yang menguning. Pagi itu suara burung lebih jernih dari biasanya, seolah ikut merayakan. Lamat-lamat terdengar gemerisik sabit memutus batang padi dan bau jerami yang basah oleh embun menggantikan parfum sintetik kota.
Hari itu 22 April ,Hari Bumi tapi tidak ada yang menyebutnya begitu di sawah. Bagi mereka tiap hari adalah hari bumi,setiap tetes keringat yang menetes di lumpur adalah dzikir sunyi yang tak butuh mikrofon. Panen bukan hanya hasil kerja tapi bagian dari doa panjang yang dimulai saat benih ditanam dan langit diminta jangan murka.
Sementara di kota pada hari yang sama manusia lain berdandan rapi. Mereka datang ke seminar lingkungan dengan setelan jas, membawa presentasi PowerPoint tentang sustainable agriculture sambil menyeruput kopi impor. Mereka bicara tentang bumi seakan punya otoritas lebih dari petani. Di balik meja kaca dan AC dingin, bumi adalah data, bukan ibu.
Kontras itu mencolok di desa, manusia tunduk pada tanah sedangkan di kota, manusia merasa telah menaklukkan tanah.
Aku pernah duduk bersama Pak Warno, petani tua yang jarang bicara tapi dalam sekali jika sedang bicara. “Padi itu ngerti siapa yang sombong,” katanya sambil mengusap batang padi yang nyaris rebah karena berat isinya. “Makin berisi, makin nunduk sedangkan yang kosong, malah tegak.”
Aku hanya diam,kata-kata itu tak butuh dibantah. Ia menusuk langsung ke jantung keangkuhan zaman.
Dari situlah kita mengenal sebuah filosofi luhur dari tanah Jawa: andap asor. Sebuah sikap hidup untuk merendah bukan karena rendah tapi karena sadar diri. Andap asor bukan minder, bukan pula pasrah. Ia adalah jalan hidup orang yang tahu bahwa segala yang dipunya adalah titipan. Orang yang andap asor tidak merasa hebat karena dipuji dan tidak tumbang karena dicaci.
Dalam Islam, prinsip ini sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengutuk kesombongan, dan memuliakan mereka yang rendah hati.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18)
Andap asor adalah bentuk nyata dari takwa sosial. Ia menolak kesombongan dan menumbuhkan rasa cukup. Ia mengajarkan bahwa yang utama bukanlah siapa yang paling terlihat tapi siapa yang paling bermanfaat.
Manusia modern hari ini sering kehilangan seni untuk tunduk. Ia mabuk pada pencapaian, gelar akademik dan followers di media sosial. Di era yang serba instan seperti sekarang ini kebanggaan datang dari apa yang dipamerkan, bukan dari apa yang ditanam diam-diam dan dipanen dalam kesunyian.
Orang-orang kota dengan bangga memamerkan gelar: Ph.D., M.Sc., Dr., Prof. Sementara Pak Warno hanya punya satu gelar: “Pak Tani.” Namun gelar itu disematkan langsung oleh bumi oleh padi, oleh rakyat yang kenyang karena kerja sunyinya. Ia tak pernah pamer, tapi selalu hadir di dapur orang lain.
Sementara manusia modern sibuk mengejar pangkat dan jabatan yang mungkin hanya bertahan selama satu periode kekuasaan, petani justru meninggalkan warisan yang bertahan lintas generasi: tanah yang tetap subur, air yang tetap mengalir, dan langit yang tetap bersahabat.
Sekarang, lihatlah hasil panen itu. Tidak semua orang bisa membuat padi tumbuh tapi semua orang bisa membeli nasi dan di situlah bedanya yang satu belajar dari bumi, yang lain hanya mengambil hasilnya.
Petani tidak pernah dapat standing ovation tapi ia tahu jika satu musim gagal panen, dunia bisa kelaparan.
Manusia modern harus belajar kembali dari petani. Bahwa menjadi rendah hati bukan berarti kalah. Bahwa tunduk pada tanah adalah bentuk tertinggi dari kesadaran ekologis dan spiritual. Bahwa bumi bukan hanya tempat tinggal tapi ibu yang perlu dihormati, bukan diajari cara menjadi ibu.
Hari Bumi bukan sekadar seremoni global. Ia adalah pengingat bahwa ketika manusia terlalu tinggi mendongak pada langit kekuasaan, kekayaan, dan ketenaran, ia bisa lupa pijakan asalnya yakni tanah dan tanah punya caranya sendiri untuk mengingatkan.
Terkadang, dengan banjir atau dengan kekeringan tapi lebih sering, lewat sunyi yang perlahan hilang dari telinga manusia modern.
Subang, 23 April 2025
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

