Ada orang yang ingin tumbuh, tetapi setiap hari memilih tinggal di kebun yang isinya kambing. Baru tumbuh sedikit, dimakan. Baru keluar daun, digigit. Baru mulai berbunga, malah dipertanyakan, “Buat apa sih sok berbunga?” Padahal mungkin masalahnya bukan pada benihnya. Bisa jadi ia hanya salah memilih kebun.
Manusia barangkali memang seperti benih. Di dalam dirinya ada kemungkinan untuk tumbuh menjadi sesuatu yang indah yakni menjadi pohon yang rindang, menghasilkan buah, menjadi tempat berteduh, atau sekadar menjadi tanaman yang enak dipandang ketika pagi-pagi kita ngopi di teras. Tetapi benih tidak tumbuh sendirian. Ia membutuhkan tanah, air, cahaya, pupuk, dan lingkungan yang mendukung. Kalau ditanam di tempat yang setiap hari diinjak-injak, jangan buru-buru menyalahkan benih karena tidak tumbuh subur.
Begitu juga manusia. Kita membutuhkan lingkungan yang membuat kita ingin berkembang. Membutuhkan teman yang ketika kita punya gagasan baru tidak langsung berkata, “Ah, paling juga gagal.” Membutuhkan orang yang ketika melihat kita naik tidak sibuk mencari tangga untuk menjatuhkan kita.
Ada istilah menarik untuk menggambarkan perilaku sebaliknya yaitu crab mentality, atau mentalitas kepiting. Bayangkan beberapa kepiting dimasukkan ke dalam ember. Ketika satu kepiting berusaha memanjat keluar, kepiting lain menariknya kembali ke bawah. Tidak perlu penjaga ember. Para kepiting sudah menjadi satpam bagi keterbatasannya sendiri.
Dalam kehidupan manusia, bentuknya tentu lebih halus. Tidak ada yang benar-benar mencapit kaki kita dengan capit kepiting. Kita menggunakan cara yang lebih modern seperti komentar, sindiran, grup WhatsApp, gosip, dan kadang-kadang kalimat yang diawali dengan, “Saya sih cuma mengingatkan.”
Ketika seseorang mulai sukses, muncul komentar, “Ah, paling cuma hoki.” Ketika seseorang mulai berubah menjadi lebih baik, “Sekarang sok alim.” Ketika seseorang mulai punya usaha, “Lihat saja, paling sebentar juga tutup.” Ketika seseorang punya gagasan baru, “Kayaknya susah.” Aneh memang, orang yang mengatakan “susah” biasanya tidak menawarkan bantuan. Ia hanya menawarkan kesimpulan.
Tentu saja, kritik bukan berarti crab mentality. Kritik yang jujur justru penting. Kalau teman kita mau terjun dari lantai tiga, kita tentu tidak perlu berkata, “Silakan bersinar.” Kita tarik saja. Masalahnya adalah ketika setiap keberhasilan orang lain selalu dianggap ancaman, setiap kemajuan dicurigai, dan setiap orang yang mulai tumbuh ingin ditarik kembali agar semua tetap sama tinggi.
Sebab manusia bukan hanya dipengaruhi oleh apa yang dibacanya, tetapi juga oleh siapa yang sering berada di dekatnya. Dalam tradisi Jawa ada ungkapan indah dalam syair Tombo ati karya Sunan Bonang: “Wong kang sholeh kumpulono.” Berkumpullah dengan orang-orang saleh.
Pesannya sederhana, tetapi dalam. Pergaulan bukan hanya soal siapa yang bisa diajak ngopi sampai lupa pulang. Pergaulan juga menentukan ke mana jiwa kita berjalan. Nabi Muhammad ﷺ memberikan perumpamaan tentang teman yang baik seperti penjual minyak wangi. Kita bisa membeli minyak wanginya, mendapatkan pemberiannya, atau paling tidak mencium aroma harumnya. Sedangkan teman yang buruk diibaratkan pandai besi. Kita bisa terkena percikan apinya atau setidaknya mendapatkan bau tidak sedap dari tempatnya bekerja.
Artinya, manusia itu mudah tertular. Bukan cuma virus yang menular. Semangat menular, kemalasan juga menular, optimisme menular, sinisme juga menular. Kebiasaan membaca menular, kebiasaan mengeluh juga,sayangnya itu sangat rajin menular.
Kalau setiap hari kita berkumpul dengan orang yang senang belajar, lama-lama kita merasa malu kalau tidak belajar. Kalau berkumpul dengan orang yang suka berbagi, kita belajar memberi. Kalau berkumpul dengan orang yang gemar membuat sesuatu, kita ikut terdorong untuk berkarya. Sebaliknya, kalau setiap hari obrolan hanya berisi siapa yang salah, siapa yang jelek, siapa yang gagal, dan siapa yang layak dihujat, jangan heran kalau pikiran kita akhirnya berubah menjadi kantor cabang bagian iri hati.
Di sinilah shine theory menjadi menarik. Gagasan ini mengajak kita untuk tidak merasa redup hanya karena orang lain sedang bersinar. Kalau teman kita berhasil, kita tidak harus merasa kalah. Kalau teman kita mendapatkan penghargaan, kita tidak kehilangan harga diri. Kalau teman kita lebih dulu menemukan jalan, kita tidak perlu buru-buru menutup jalannya. Kita bisa ikut bahagia, bahkan belajar darinya.
Sebab cahaya orang lain tidak otomatis memadamkan cahaya kita. Matahari tidak pernah marah kepada bulan karena bulan terlihat indah di malam hari. Lampu jalan juga tidak pernah rapat RT untuk membahas kenapa lampu di rumah sebelah lebih terang. Yang repot biasanya manusia. Melihat orang lain bersinar sedikit saja, langsung membandingkan meteran listrik kehidupan.
Di sinilah collaboration mentality diperlukan. Cara berpikir bahwa keberhasilan tidak selalu harus menjadi perlombaan. Kalau teman kita pandai menulis, kita bisa belajar darinya. Kalau kita pandai mengorganisasi, kita bisa membantu. Kalau dia pandai berbicara, kita beri ruang untuk menyampaikan gagasan. Kalau dia punya jaringan, kita sambungkan. Kalau kita punya kemampuan lain, kita berikan. Bukan saling sikut untuk menjadi yang paling terang, tetapi saling menyalakan lampu.
Sebab sebuah kebun tidak menjadi indah karena semua pohonnya sama. Ada pohon yang tinggi, ada yang pendek, ada yang berbunga, ada yang berbuah, dan ada yang baru tumbuh karena masih sibuk memperkuat akar. Yang penting, mereka tidak saling mencabut.
Bayangkan kalau setiap pohon punya ego seperti manusia. Pohon mangga berkata, “Kenapa jambu yang dipuji?” Pohon jambu menjawab, “Karena buah saya lebih manis.” Pohon rambutan ikut nimbrung, “Kalian jangan lupa, saya punya rambut.” Akhirnya kebun berubah menjadi forum debat. Padahal alam tidak bekerja seperti itu. Setiap pohon tumbuh dengan caranya sendiri dan masing-masing memberi sesuatu.
Begitu pula manusia. Tidak semua orang harus menjadi penulis. Tidak semua harus menjadi pengusaha. Tidak semua harus menjadi pemimpin. Ada yang pandai mengajar, ada yang pandai mendengar, ada yang pandai membuat, ada yang pandai merawat. Ada yang bekerja di belakang layar tetapi justru membuat semuanya berjalan. Yang kita perlukan adalah lingkungan yang tidak sibuk bertanya, “Siapa yang paling hebat?” tetapi bertanya, “Apa yang bisa kita tumbuhkan bersama?”
Maka sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri. Saya sedang berada di kebun seperti apa? Apakah lingkungan saya membuat saya semakin hidup atau semakin layu? Apakah teman-teman saya membuat saya berani menjadi lebih baik atau justru membuat saya takut berkembang? Dan yang tak kalah penting. Apakah saya menjadi tanah yang subur bagi pertumbuhan orang lain, atau justru menjadi kepiting yang menarik mereka kembali ke bawah?
Sebab kita sering sibuk mencari shine circle, tetapi lupa menjadi bagian dari shine circle itu sendiri. Kita ingin punya teman yang mendukung, tetapi apakah kita sudah menjadi teman yang mendukung? Kita ingin orang lain ikut bahagia ketika kita berhasil, tetapi apakah kita mampu ikut bahagia ketika orang lain berhasil? Kita ingin orang lain tidak iri kepada kita, tetapi apakah kita sendiri sudah selesai dengan iri hati?
Benih memang membawa potensi, tetapi kebun ikut menentukan bagaimana ia tumbuh. Karena itu, memilih lingkungan bukan berarti merasa lebih suci daripada orang lain. Bukan pula berarti kita hanya boleh berteman dengan orang-orang yang sudah sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting adalah arah pertumbuhannya.
Ada orang yang ketika kita dekat dengannya membuat kita ingin menjadi lebih baik. Ada juga yang membuat kita semakin malas, sinis, dan sibuk membicarakan hidup orang lain. Kita tentu tidak bisa memilih seluruh dunia, tetapi kita bisa memilih siapa yang paling sering kita dengarkan, siapa yang kita jadikan tempat belajar, dan siapa yang kita ajak tumbuh bersama.
Lebih dari itu, kita bisa memilih menjadi manusia seperti apa dalam kehidupan orang lain. Mungkin hidup yang baik bukan hanya tentang menemukan orang-orang yang bisa menerangi kita. Lebih indah lagi kalau kita juga menjadi cahaya bagi orang lain.
Itulah shine circle, bukan sirkel yang sibuk menentukan siapa paling hebat, bukan pula perkumpulan manusia yang hanya tepuk tangan ketika temannya sukses, tetapi lingkungan tempat orang-orang saling menyiram, saling menguatkan, saling belajar, saling berbagi cahaya, dan membiarkan masing-masing tumbuh menjadi dirinya sendiri.
Karena kalau satu pohon tumbuh tinggi, seluruh kebun tidak menjadi kalah. Kebun justru menjadi semakin indah.
Dan mungkin itulah yang sejak dulu ingin diajarkan oleh banyak kebijaksanaan kepada kita: kalau ingin tumbuh, carilah kebun yang baik. Kalau sudah tumbuh, jangan lupa menjadi teduh.
Aditiya Nauval
Pegiat Rumah baca Tunas Aksara

