Ada cinta segitiga yang bikin orang pusing. Biasanya melibatkan tiga manusia, satu kebohongan, dua chat yang dihapus, dan satu orang yang akhirnya bertanya,“Sebenarnya aku ini siapa?” Tetapi ada segitiga cinta yang jauh lebih serius. Bukan soal rebutan pasangan, bukan pula tentang siapa diam-diam jalan dengan siapa. Ini tentang hubungan manusia dengan Gusti Allah, Kanjeng nabi Muhammad, dan sesama manusia. Segitiga ini tidak menghasilkan penghianat, tetapi menghasilkan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu, sebenarnya siapa yang menjadi pusat kehidupan kita?
Konsep sederhananya, Gusti Allah menjadi pusat cinta, nabi Muhammad menjadi teladan jalannya, dan manusia menjadi tempat cinta itu diwujudkan. Bukan tiga pihak yang saling berebut perhatian, melainkan tiga hubungan yang membuat manusia tahu dari mana ia berasal, bagaimana menjalani hidup, dan kepada siapa ia harus berbuat baik. Cinta kepada Gusti Allah tidak cukup berhenti di sajadah tapi ia harus turun menjadi akhlak. Cinta kepada kanjeng nabi Muhammad tidak cukup berhenti pada pujian tapi ia harus terlihat dalam cara memperlakukan manusia. Sebab agak lucu kalau seseorang rajin membicarakan kasih sayang Rasulullah, tetapi ketika tetangganya berbeda pendapat, kasih sayangnya ikut cuti.
Persoalannya, manusia modern hidup di zaman yang menawarkan begitu banyak benda untuk dicintai, ada harta, jabatan, popularitas, status sosial, keluarga, bahkan jumlah pengikut di media sosial. Semuanya bisa menjadi sesuatu yang baik. Tetapi sesuatu yang baik pun bisa menjadi masalah ketika ditempatkan sebagai pusat kehidupan. Harta, misalnya. Tidak ada yang salah dengan memiliki harta. Manusia perlu makan, rumah, pendidikan, kesehatan, dan biaya untuk menjalani kehidupan. Masalahnya muncul ketika harta berubah dari alat menjadi tujuan. Awalnya manusia mencari harta untuk hidup. Lama-lama hidup digunakan untuk mencari harta. Setelah itu seluruh ukuran keberhasilan ikut dipasang pada harta, yang mana rumah harus lebih besar, kendaraan lebih bagus, rekening lebih tebal, penampilan lebih meyakinkan. Kalau tetangga membeli mobil baru, hati mendadak mengadakan rapat pleno. Lebih anehnya lagi, manusia kadang tidak lagi menikmati hartanya. ia sibuk menjaga, menambah, menghitung, dan membandingkannya dengan milik orang lain. Akhirnya bukan manusia yang memiliki harta akan tetapi harta yang memiliki manusia.
Jabatan pun demikian. Pada mulanya ia hanyalah alat untuk melakukan sesuatu, tetapi setelah terlalu lama duduk di kursi kekuasaan, kursi itu bisa berubah menjadi benda keramat. Orang takut kehilangan jabatan bukan karena tidak bisa lagi berbuat baik, melainkan karena takut kembali menjadi manusia biasa. Padahal sebelum memiliki jabatan, ia manusia. Setelah tidak memiliki jabatan, mestinya juga masih manusia. Hanya saja mungkin sekarang tidak lagi dipanggil “Bapak” atau ” Ibu ” oleh orang-orang yang lima menit sebelumnya tidak mengenalnya. Jabatan menjadi berbahaya ketika tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan sebagai identitas diri. Jabatan naik, dada ikut naik. Jabatan turun, harga diri ikut jatuh. Padahal yang naik dan turun sebenarnya hanya jabatan sedangkan manusianya tetap manusia.
Keluarga lebih rumit lagi karena ia lahir dari cinta yang memang seharusnya ada. Orang tua bekerja untuk anak, anak berjuang untuk membahagiakan orang tua, suami dan istri saling menjaga. Semua itu baik. Tetapi bahkan cinta yang baik bisa kehilangan arah ketika kalimat “demi keluarga” berubah menjadi tiket untuk melakukan apa saja. Berbohong demi keluarga, menipu demi keluarga, mengambil hak orang lain demi keluarga, bahkan korupsi dengan alasan masa depan keluarga. Kalau sudah begitu, persoalannya bukan kurang cinta. Justru cintanya mungkin terlalu besar kepada sesuatu yang salah, sementara pusat cintanya telah bergeser.
Di sinilah konsep Segitiga Cinta menjadi penting. Gusti Allah sebagai pusat, Kanjeng nabi Muhammad sebagai teladan, manusia sebagai tempat pengamalan. Ketika hubungan ini sehat, harta tidak perlu dibenci namun harta cukup ditempatkan sebagai sarana. Jabatan tidak perlu dimusuhi tapi jabatan dijalankan sebagai amanah. Keluarga tidak perlu dijauhi, keluarga justru dicintai dengan lebih bertanggung jawab. Yang perlu diubah bukan benda yang kita cintai, tetapi posisi benda itu di dalam hati. Harta boleh berada di tangan. Jabatan boleh berada di pundak. Keluarga boleh berada di dalam hati. Tetapi semuanya tidak boleh menggantikan posisi Gusti Allah sebagai pusat kehidupan.
Sebab ketika sesuatu selain Allah menjadi pusat, manusia mulai takut kehilangan sesuatu secara berlebihan. Ia takut kehilangan harta, jabatan, popularitas, pasangan, anak, pengaruh, bahkan pujian. Maka ada pertanyaan sederhana yang kadang lebih jujur daripada seribu ceramah tentang ketakwaan, apa yang paling kita takut kehilangan? Jawabannya bisa membuka banyak hal. Sebab yang paling kita takut kehilangan sering kali menunjukkan apa yang paling kita cintai.
Lalu bagaimana dengan “cemburu Ilahi”? Tentu bukan cemburu seperti manusia. Gusti Allah tidak sedang berebut perhatian dengan harta, jabatan, atau keluarga. Justru manusialah yang sering kehilangan arah karena mencintai sesuatu yang sebenarnya hanya titipan. Kita diberi keluarga untuk dicintai, bukan untuk dipertuhankan. Diberi harta untuk digunakan, bukan untuk disembah. Diberi jabatan untuk mengabdi, bukan untuk memuliakan ego. Diberi popularitas untuk memberi manfaat, bukan untuk menjadikan tepuk tangan sebagai kebutuhan hidup.
Karena itu, cinta kepada Gusti Allah semestinya tidak membuat manusia menjauh dari kehidupan. Sebaliknya, ia membuat manusia semakin bertanggung jawab terhadap kehidupan. Semakin dekat kepada Gusti Allah, semestinya semakin baik memperlakukan manusia. Semakin mencintai Rasulullah, semestinya semakin terlihat akhlaknya. Semakin memahami dirinya sebagai hamba, semestinya semakin rendah hati ketika memperoleh sesuatu. Manusia yang sadar dirinya hanya hamba tidak akan terlalu mabuk ketika mendapatkan dunia dan tidak terlalu hancur ketika kehilangan dunia. Ia punya sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kepemilikan yakni orientasi.
Maka ini bukan cinta segitiga seperti cerita sinetron. Tidak ada suami, istri, dan orang ketiga. Tidak ada chat tengah malam yang harus dihapus. Tidak ada status WhatsApp yang sengaja dibuat untuk menyindir. Ini tentang segitiga yang jauh lebih dalam yaitu Gusti Allah, kanjeng nabi Muhammad, dan manusia.
Dan di dalam kehidupan modern, pertanyaan terpentingnya bukan lagi, “Apa yang saya punya?” Melainkan, “Siapa yang menjadi pusat dari semua yang saya cintai?” Sebab manusia boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta memiliki manusia. Manusia boleh memegang jabatan, tetapi jangan sampai jabatan memegang jiwanya. Manusia boleh mencintai keluarga, tetapi jangan sampai cinta kepada keluarga membuatnya kehilangan prinsip. Manusia boleh menikmati dunia, tetapi jangan sampai dunia membuatnya lupa bahwa dirinya hanya sedang singgah.
Karena yang kita bawa bukan rumah yang kita bangun, jabatan yang kita duduki, harta yang kita kumpulkan, atau tepuk tangan yang kita dapatkan. Yang kita bawa adalah siapa diri kita setelah semua itu dilepaskan.
Barangkali di situlah cinta menemukan tempatnya: bukan pada apa yang berhasil kita miliki, tetapi kepada siapa seluruh hidup ini akhirnya kita kembalikan.
Wallahu a’lam bishawab.
Mochammad RF
Pegiat Rumah baca Tunas Aksara
