Peristiwa yang terjadi di SMAN 1 Pamanukan dalam beberapa hari terakhir menyisakan banyak hal untuk direnungkan. Perhatian publik tentu tertuju pada dugaan pelanggaran yang kini telah masuk ke proses hukum. Seorang guru telah ditetapkan sebagai tersangka dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui mekanisme hukum yang berlaku.
Namun ada satu sisi lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan yakni keberanian para siswa untuk bersuara.
Ketika ratusan siswa turun melakukan aksi, kita bisa saja menyebutnya sebagai demonstrasi. Ada kerumunan, ada tuntutan, ada suara keras, ada kemarahan akan tetapi jika melihatnya lebih jauh, peristiwa tersebut sesungguhnya tidak cukup hanya disebut sebagai demonstrasi siswa. Di balik keberanian itu terdapat sesuatu yang lebih mendasar, yakni kesadaran.
Kesadaran bahwa ada persoalan yang perlu dipertanyakan. Kesadaran bahwa siswa memiliki suara. Kesadaran bahwa sesuatu yang dianggap tidak benar tidak harus diterima dalam diam. Kesadaran semacam itu tidak muncul dalam satu malam.Ia tumbuh dari sebuah ekosistem. Iya, ekosistem pembelajaran.
Sekolah selama ini sering dipahami hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan. Anak datang pagi, duduk di kelas, mendengarkan guru, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, mendapatkan nilai, kemudian pulang. Berulang terus setiap hari padahal pendidikan yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada itu.
Sekolah bukan hanya tempat mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk cara berpikir dan membangun keberanian untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata.
Pada titik inilah peristiwa Pamanukan menjadi menarik. Para siswa tidak hanya melihat sebuah persoalan kemudian berlalu begitu saja. Mereka mempertanyakan., mereka berdiskusi, mereka saling menguatkan. Ketika ada seorang yang berani berbicara, siswa lain kemudian ikut menyampaikan pengalaman dan pandangannya. Ada proses berpikir di sana.
Melihat, mempertanyakan, mendiskusikan, kemudian mengambil sikap. Itulah salah satu wajah dari nalar kritis. Nalar kritis bukan berarti gemar membantah, bukan berarti selalu merasa paling benar. Apalagi berarti tidak menghormati guru dan orang yang lebih tua.
Nalar kritis adalah kemampuan untuk tidak menerima sesuatu secara mentah-mentah. Berani bertanya ketika ada yang dirasa janggal, berani mencari penjelasan, berani membedakan antara fakta dan kabar. Setelah memperoleh pemahaman, seseorang berani mengambil sikap dengan tetap mempertimbangkan akibatnya.
Namun nalar saja tidak cukup. Seseorang bisa saja memahami ketidakadilan, tetapi memilih diam karena takut.Di sinilah keberanian menjadi penting. Nalar menunjukkan apa yang harus dipikirkan. Keberanian membuat seseorang mampu melakukan sesuatu dan keberanian pun harus memiliki batas.
Keberanian tanpa kendali dapat berubah menjadi amarah sedangkan keberanian tanpa etika dapat berubah menjadi tindakan yang justru melahirkan ketidakadilan baru. Karena itu, keberanian siswa harus berjalan bersama akal sehat dan etika.
Ketika siswa menyampaikan tuntutan agar persoalan di sekolah diperiksa, korban dilindungi dan proses hukum berjalan, itu adalah bentuk keberanian yang patut dihargai. Namun jika kemarahan berubah menjadi kekerasan atau main hakim sendiri, perjuangan untuk keadilan justru kehilangan arah.
Keadilan tidak boleh diperjuangkan dengan cara yang melahirkan ketidakadilan baru.Di sinilah sekolah memiliki peran penting. Jangan hanya mengajarkan kepada siswa: “Jadilah kritis.” Ajarkan pula bagaimana menjadi kritis, ajarkan bagaimana menyampaikan pendapat tanpa merendahkan.
Ajarkan bagaimana melakukan aksi tanpa kekerasan, ajarkan bagaimana membedakan tuduhan dengan fakta, ajarkan bagaimana menghormati proses hukum.
Tidak kalah penting juga, ajarkan bagaimana melindungi orang yang sedang berada dalam posisi rentan dan itulah pendidikan karakter yang sesungguhnya. Ada ironi dalam dunia pendidikan kita. Kita sering meminta anak-anak menjadi kritis, tetapi kadang kita sendiri tidak siap ketika mereka benar-benar kritis.
Ketika mereka bertanya, dianggap membantah, ketika mereka mengkritik, dianggap tidak sopan, ketika mereka berbeda pendapat, dianggap melawan. Padahal bagaimana mungkin kita ingin melahirkan generasi yang mampu memperbaiki bangsa jika sejak sekolah mereka dibiasakan takut bertanya?
Sekolah yang sehat bukan sekolah yang seluruh muridnya selalu diam.Sekolah yang sehat adalah sekolah yang memungkinkan murid berbicara tanpa rasa takut, sekaligus mengajarkan mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka katakan.
Karena itu, aksi siswa SMAN 1 Pamanukan sebaiknya tidak semata-mata dilihat sebagai gangguan terhadap proses belajar. Bisa jadi justru di situlah terjadi pelajaran kewarganegaraan yang sangat nyata, mereka sedang belajar tentang hak menyampaikan pendapat.
Mereka sedang belajar tentang solidaritas, mereka sedang belajar tentang keberanian, mereka sedang belajar tentang batas kebebasan. Mereka juga sedang belajar bahwa memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar tidak cukup hanya dengan keberanian, tetapi juga membutuhkan nalar dan etika.
Kita sering mengajarkan demokrasi melalui buku, tentang hak dan kewajiban warga negara, tentang kebebasan menyampaikan pendapat, tentang keadilan, tentang hukum. Namun semua itu akan menjadi hafalan belaka jika tidak pernah dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Peristiwa di Pamanukan memperlihatkan bagaimana pelajaran tersebut bisa menemukan bentuknya.
Mereka tidak sedang menghafal definisi keberanian, mereka sedang mempraktikkannya, mereka tidak sedang mengerjakan soal tentang nalar kritis. Mereka sedang menggunakannya, mereka tidak sedang membaca teori tentang keadilan, mereka sedang mempertanyakannya.
Tentu, kita tidak boleh menganggap seluruh tindakan siswa otomatis benar. Mereka tetap anak-anak yang sedang belajar. Mereka bisa salah mengambil langkah, salah memahami informasi, atau terbawa emosi. Namun justru karena mereka masih belajar, tugas orang dewasa bukan mematikan keberanian mereka. Tugas kita adalah mengarahkan keberanian itu.
Jangan padamkan suara mereka tapi ajari mereka cara bersuara. Jangan matikan nalar kritis mereka tapi ajari mereka cara menggunakannya. Jangan takut ketika anak-anak mulai mempertanyakan keadaan, justru khawatirlah jika mereka melihat ketidakadilan tetapi memilih diam karena merasa tidak ada gunanya berbicara.
Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, kita memiliki banyak orang berpendidikan, kita memiliki banyak orang bergelar, kita memiliki banyak orang yang pandai berbicara. Namun bangsa ini selalu membutuhkan manusia yang berani menggunakan pengetahuan dan kecerdasannya untuk memperjuangkan sesuatu yang benar.
Keberanian semacam itu harus ditanamkan sejak sekolah.
Ketika suatu hari anak-anak itu menjadi pemimpin, guru, birokrat, pengusaha, jurnalis, anggota parlemen atau orang tua, kita berharap mereka tetap membawa satu kebiasaan yang mereka pelajari di sekolah yaitu berani bertanya ketika melihat sesuatu yang janggal, berani bersuara ketika menemukan ketidakadilan, dan berani mengambil sikap tanpa kehilangan akal sehat serta tanggung jawab.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang pandai mencari jawaban, tetapi juga generasi yang berani mengajukan pertanyaan ketika jawaban yang tersedia tidak lagi mampu menjelaskan kenyataan.
Maka peristiwa SMAN 1 Pamanukan sesungguhnya adalah potret kecil dari sebuah pendidikan yang hidup.Bukan berarti semua yang dilakukan siswa harus dibenarkan. Bukan pula berarti demonstrasi adalah satu-satunya cara menyampaikan aspirasi namun keberanian mereka untuk bersuara adalah sesuatu yang layak direnungkan.
Sebab sekolah bukan pabrik pencetak anak penurut. Sekolah adalah tempat menumbuhkan manusia yang mampu berpikir, mampu membedakan, mampu bertanya, mampu bersikap, dan mampu mempertanggungjawabkan sikapnya.
Jika pendidikan berhasil melahirkan manusia seperti itu, maka sekolah telah menjalankan fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan nilai di atas kertas. Dari Pamanukan kita mendapatkan pelajaran sederhana bahwa apabila keberanian bertemu nalar kritis, suara siswa dapat menjadi kekuatan moral untuk menuntut keadilan.
Namun ada satu syarat yang tidak boleh dilupakan: tidak diam ketika melihat sesuatu yang tidak benar, tetapi juga tidak kehilangan akal sehat dan etika ketika memperjuangkannya.
Sebab keberanian tanpa nalar bisa menjadi amarah sedangkan nalar tanpa keberanian bisa menjadi diam tetapi keberanian yang dipandu nalar dan dijaga etika dapat menjadi kekuatan perubahan.
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat Rumah baca Tunas Aksara
