Di sebuah server raksasa bernama Bumi, konon ada seseorang yang merasa dirinya adalah admin utama. Ia datang dengan gaya percaya diri, suara keras, dan rambut kuning mengembang seperti jagung rebus yang terlalu lama dipanaskan. Namanya Donald Trump. Tapi di antara netizen yang hobi bercanda serius soal geopolitik, ia sering dipanggil dengan julukan yang lebih renyah yakni Trump si Rambut Jagung, admin bumi yang terlalu pede.
Masalahnya sederhana.
Trump merasa dirinya admin bumi.
Tapi servernya… tidak pernah benar-benar menyerahkan password.
Dalam beberapa pernyataannya, gaya Trump memang terdengar seperti orang yang sedang membuka panel kontrol server global. Ia bicara tentang negara mana yang harus dibereskan, siapa yang harus ditekan, dan siapa yang harus ditertibkan. Nadanya tidak jauh beda dengan admin game online yang sedang membersihkan server dari pemain yang dianggap mengganggu kenyamanan permainan.
Kadang kalimatnya terasa seperti perintah console.
“Yang ini kita tekan dulu.”
“Iran harus dibereskan.”
“Nanti kita lihat Kuba.”
Kalau diterjemahkan ke bahasa gamer, mungkin kira-kira seperti ini:
/admin eliminate Iran
Lalu ia menunggu apakah server akan langsung patuh.
Dulu, jujur saja, perintah seperti itu sering berhasil. Setelah Uni Soviet runtuh, dunia sempat terasa seperti server yang hanya punya satu admin. Amerika Serikat berdiri di puncak kekuatan global, sementara pemain lain masih sibuk mengumpulkan resource.
Pada masa itu, kalau admin bumi mengetik:
/kick
beberapa negara memang bisa langsung terpental keluar dari permainan.
Irak pernah merasakan tombol itu.
Afghanistan pernah mengalami raid besar-besaran.
Libya bahkan seperti karakter yang tiba-tiba dihapus dari map.
Saat itu banyak pemain lain hanya bisa melihat dari pinggir arena. Server global seperti game lama yang hanya punya satu moderator besar. Kalau Washington mengetik sesuatu di panel kontrol, banyak negara hanya bisa mengangkat bahu dan berkata pelan:
“Ya sudah… admin bumi lagi kerja.”
Namun ada satu hal yang sering dilupakan oleh admin yang terlalu lama berkuasa.
Game selalu update.
Server dunia juga begitu.
Patch demi patch datang. Pemain baru naik level. Aliansi terbentuk. Teknologi berkembang. Dan tiba-tiba, di sudut peta muncul beberapa karakter yang membuat konsep admin bumi tunggal mulai terasa seperti cerita lama.
Di sebelah utara peta ada Vladimir Putin. Dia tipe pemain lama yang tidak banyak ribut di chat global, tapi setiap langkahnya membuat pemain lain membuka minimap. Rusia yang dulu sempat dianggap turun level, perlahan kembali membawa tank, jet, dan strategi geopolitik ke arena.
Di sisi timur muncul Xi Jinping. Dia bukan tipe gamer yang suka menekan tombol serang duluan. Xi lebih mirip pemain strategi yang membuka menu pembangunan. Ia membangun pelabuhan, jalur kereta, jaringan perdagangan, dan investasi di berbagai belahan dunia.
Kalau Trump terlihat seperti gamer yang suka menekan tombol attack, Xi terlihat seperti gamer yang membuka menu build empire.
Sementara Putin?
Dia tipe pemain yang kelihatannya diam saja… lalu tiba-tiba muncul di tempat yang tidak diduga.
Dalam server yang semakin ramai ini, si Rambut Jagung kadang masih berbicara seperti admin bumi yang sedang bernostalgia dengan masa kejayaannya.
Beberapa waktu lalu, misalnya, ia memberi sinyal keras terhadap Iran. Bahkan sempat menyebut negara lain seperti Kuba sebagai kemungkinan target berikutnya. Nadanya terdengar seperti admin yang sedang mengumumkan pembersihan server.
“Yang ini kita bereskan dulu. Yang lain menyusul.”
Masalahnya, pemain lain sekarang sudah melihat peta dengan cara berbeda.
Iran bukan sekadar karakter kecil di map dunia, persia bukan bangsa sembarangan. Negara itu berada dekat Selat Hormuz, jalur energi yang dilalui sebagian besar minyak global. Kalau konflik besar terjadi di sana, efeknya tidak hanya terasa di Timur Tengah. Harga energi bisa melonjak, ekonomi dunia bisa terguncang, dan banyak pemain lain ikut terdorong masuk ke arena.
Artinya, menyerang Iran dalam game geopolitik bukan seperti menendang pemain level rendah.
Itu lebih mirip melempar granat di tengah arena battle royale.
Semua pemain bisa terkena dampaknya.
Karena itu Rusia dan China hampir pasti tidak akan hanya duduk menonton. Mereka juga punya controller. Mereka juga punya kepentingan.
Di titik ini, server dunia berubah bentuk.
Ia tidak lagi seperti game lama dengan satu admin bumi yang memegang semua kontrol. Dunia sekarang lebih mirip battle royale global. Banyak pemain besar. Banyak strategi. Dan tidak ada yang benar-benar bisa mematikan permainan sendirian.
Amerika masih pemain yang sangat kuat. Itu tidak perlu diragukan. Senjatanya besar. Ekonominya kuat. Teknologinya maju.
Tapi sekarang ada Rusia yang membawa kekuatan militernya.
Ada China yang membawa kekuatan ekonominya.
Ada juga berbagai negara lain yang mulai berani memainkan strategi sendiri.
Dalam server yang seperti ini, konsep admin bumi tunggal mulai terasa seperti legenda lama yang diceritakan kepada pemain baru.
Si Rambut Jagung mungkin masih ingin duduk di kursi admin itu. Ia mungkin masih memegang salah satu joystick terbesar di permainan ini.
Namun para pemain lain sekarang tahu satu hal penting.
Password server global tidak pernah dimiliki satu orang saja.
Dan mungkin di situlah letak ironi geopolitik abad ini.
Ada seseorang yang merasa dirinya admin bumi.
Tapi ketika mencoba login ke panel kontrol dunia, ia baru sadar satu hal kecil yang cukup memalukan.
Password servernya ternyata sudah diganti.
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

