Setiap malam tahun baru, dunia seperti sepakat melakukan satu hal bersama yakni macet, bising, dan pura-pura bahagia. Jalanan penuh manusia yang tampak yakin hidupnya akan berubah drastis hanya karena kalender ganti font. Kembang api meledak, terompet ditiup, dan orang-orang berpelukan dengan ekspresi yang berkata, “Entah kenapa, tapi katanya harus senang.”
Di tengah semua itu, ada satu golongan yang sering tidak kelihatan. Bukan karena mereka tersesat, apalagi karena diundang tapi lupa. Mereka memang sengaja tidak datang. Orang-orang ini sering disebut “orang pintar” atau minimal orang yang hobinya mikir.
Orang pintar itu sebenarnya tidak benci tahun baru. Mereka cuma tidak gampang baper. Bagi mereka, 31 Desember itu bukan gerbang kehidupan baru, melainkan tanggal yang kebetulan berada di akhir halaman kalender. Jam 23.59 kamu masih orang yang sama. Jam 00.01 kamu juga masih orang yang sama, cuma kuota internet berkurang dan suara petasan bikin kaget.
Masalahnya, perayaan tahun baru sering dijual terlalu berlebihan. Seolah-olah ini malam penentuan nasib. Seolah kalau kamu tidak keluar rumah, hidupmu akan stuck selamanya. Orang pintar biasanya alergi pada narasi lebay semacam ini. Mereka tahu, hidup tidak pernah sesimpel “tahun baru, hidup baru”. Kalau sesimpel itu, gym tidak akan penuh di Januari lalu kosong lagi di Maret.
Bagi orang pintar, euforia massal itu mencurigakan. Ketika semua orang serempak terharu, mereka justru pengin nanya, “Kita senang karena apa, ya?” Hitung mundur bersama ribuan orang asing terdengar romantis di iklan, tapi di lapangan sering berubah jadi desak-desakan sambil nahan emosi. Orang pintar melihat itu lalu berpikir, “Aku bisa stres gratis di hari biasa, kenapa harus bayar parkir mahal?”
Ada juga soal ekspektasi. Malam tahun baru sering dipromosikan sebagai malam paling seru sedunia. Padahal kenyataannya, sering cuma jadi malam biasa dengan suara keras. Orang pintar, yang sudah cukup sering dikecewakan oleh ekspektasi hidup, memilih tidak berharap terlalu tinggi. Mereka tahu, semakin besar ekspektasi, semakin besar peluang bilang, “Kok gini doang?”
Selain itu, orang pintar punya hubungan unik dengan resolusi.
Mereka jarang bikin janji muluk. Alih-alih menulis “tahun ini harus sukses”, mereka lebih realistis: “tahun ini jangan ngulang kesalahan yang sama dengan percaya diri.” Mereka paham bahwa perubahan sejati itu bukan hasil teriakan “new year, new me”, tapi hasil kebiasaan kecil yang dijalani pelan-pelan, sering gagal, lalu dicoba lagi tanpa pengumuman.
Keramaian juga jadi pertimbangan.
Orang pintar biasanya sadar kapasitas energi sosialnya terbatas. Basa-basi tahunan seperti “tahun depan kita sukses ya” atau “resolusi kamu apa?” terdengar ringan, tapi kalau dikumpulkan bisa bikin kepala panas. Mereka memilih obrolan yang lebih jujur, lebih sunyi, dan lebih masuk akal. Kadang dengan orang terdekat, kadang cuma dengan diri sendiri dan segelas kopi.
Lucunya, orang pintar juga bisa kena FOMO. Tapi FOMO mereka beda. Bukan takut ketinggalan pesta, tapi takut ketinggalan makna. Bukan takut tidak update story, tapi takut salah jalan hidup. Malam tahun baru bagi mereka sering jadi ajang monolog internal seperti “Aku ke mana, sih setahun ini?” “Ngapain aja?” “Ini hidup atau autopilot?” Pertanyaan-pertanyaan ini susah muncul di tengah suara petasan, makanya mereka pilih sunyi.
Media sosial tentu memperkeruh suasana. Orang pintar tahu betul bahwa yang dipamerkan itu highlight, bukan realita. Tapi tetap saja, melihat orang lain tampak bahagia beramai-ramai bisa bikin mikir, “Apa aku aneh?” Jawabannya sering sederhana: tidak. Kamu cuma jujur pada diri sendiri.
Ada juga faktor kejujuran emosional. Banyak orang ikut merayakan karena merasa “seharusnya”. Orang pintar biasanya tidak akur dengan kata itu. Kalau tidak ingin, ya tidak. Tidak ada kewajiban untuk terlihat bahagia di waktu tertentu. Kebahagiaan bukan absen yang harus ditandatangani tepat tengah malam.
Paling penting, orang pintar itu sadar bahwa evaluasi hidup tidak butuh tanggal cantik. Introspeksi bisa datang kapan saja: saat nunggu lampu merah, saat gagal, atau saat sadar kopi sudah dingin tapi masalah hidup masih hangat. Tahun baru hanyalah momen sosial, bukan satu-satunya pintu perubahan.
Tapi perlu ditegaskan juga kalo tidak ikut perayaan bukan berarti lebih pintar. Ini bukan ajang lomba sepi. Ada orang cerdas yang merayakan dengan sepenuh hati, dan itu sah-sah aja. Yang bikin beda bukan hadir atau tidaknya, tapi kesadaran di balik pilihan itu.
Pada akhirnya, rahasia kenapa orang pintar jarang ikut perayaan tahun baru itu sederhana: mereka tidak menaruh harapan berlebihan pada satu malam. Mereka tahu hidup tidak berubah karena kembang api, tapi karena keputusan kecil yang diulang terus-menerus. Tanpa sorak, tanpa terompet, tanpa caption sok bijak.
Sementara dunia sibuk menghitung mundur, orang pintar sibuk menghitung ulang hidupnya. Pelan, jujur, dan kadang sambil ketawa sendiri. Mungkin, justru itu cara mereka menyambut tahun baru tanpa ribut, tapi masuk akal.
Nur Izza Wahidiyah
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara
Pamanukan

