Nitikan.id – “Ada orang yang tak pernah sampai ke Ka’bah, namun hatinya lebih dekat kepada Allah dibanding yang tengah thawaf”. Kalimat tersebut bukan sekadar frasa, melainkan renungan bagi kesadaran yang bermakna luas, bukan semata-mata hanya simbol, namun substansinya. Seharusnya kalimat itu mengajak kita merenungi kembali makna spiritualitas, keikhlasan, dan kehadiran batin dalam ibadah yang tak selalu sejalan dengan pencapaian lahiriah atau jarak geografis.
Berhaji adalah puncak perjalanan fisik dan ruhani bagi seorang Muslim. Namun dalam banyak kasus perjalanan fisik tak selalu disertai perjalanan batin. Banyak orang menyentuh Hajar Aswad, bersimpuh di Multazam, atau menangis di Hijir Ismail, tapi hatinya masih penuh dengan pujian terhadap diri, membandingkan dengan orang lain, atau pun foto-foto perjalanannya yang akan dipajang di media sosial.
Di sisi lain ada seseorang yang mungkin tinggal di pelosok desa yang tak mampu membeli tiket ke Tanah Suci, namun setiap malam bersujud dalam senyap dan hatinya tentrram berzikir dan basah oleh air mata. Dia mungkin tak bisa membaca doa-doa panjang tapi keikhlasannya menembus langit.
Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits disebutkan bahwa yang dinilai bukan banyaknya amal dalam ukuran namun kedalamannya dalam niat. Allah menilai “Taqwa yang ada di hati” (QS. Al-Hujurat: 13), bukan sekadar gerakan lahiriah. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Seseorang bisa saja sedang thawaf namun pikirannya sibuk menilai orang lain atau menghitung pujian yang akan diterima. Sementara yang lain yang tak mampu melangkah ke Tanah Suci justru hatinya “thawaf” setiap malam dalam keheningan sunyi.
Kedekatan kepada Allah bukan hanya soal posisi tubuh namun posisi jiwa. Bukan perkara lintasan jarak melainkan lintasan nurani. Ka’bah sebagai simbol dari arah hati, qiblat batin, bisa saja lebih tepat pada seorang fakir miskin yang rela berbagi di kala sempit daripada seorang yang kaya raya tapi menjadikan ibadahnya terselip pencitraan..
Kita hidup di zaman di mana tampilan mudah menipu. Ziarah hanya jadi tren bukan perjalanan ruh. Namun Allah Maha Mengetahui isi hati. Di tengah riuhnya thawaf dan sorotan kamera, bisa jadi yang paling didengar doanya adalah suara lirih seseorang yang tersungkur di malam sepi, di atas sajadah dalam kamar sempit tanpa siapa pun tahu kecuali Tuhan yang ia panggil.
Silakan menangis karena merindukan Ka’bah. Namun jangan pernah merasa kecil jika kau belum sampai ke Baitullah. Dan jangan pernah merasa besar hanya karena kau telah mengelilinginya. Sebab yang mengukur kedekatan bukan jarak melainkan kejernihan hati.
Karena sesungguhnya, yang paling dekat dengan Allah adalah yang hatinya selalu rindu meski tak pernah sampai.

