Nitikan.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius mengenai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan memuncak pada 18 hingga 19 Desember 2025.
Kombinasi fenomena atmosfer dan aktivitas siklon tropis memicu peningkatan curah hujan yang signifikan di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Peningkatan curah hujan saat ini tidak hanya disebabkan oleh musim hujan secara umum, namun dipengaruhi oleh faktor-faktor teknis berikut:
Siklon Tropis Bakung: Masih terpantau di Samudra Hindia, menyebabkan adanya pemusatan massa udara dan pembentukan awan hujan yang masif.
Bibit Siklon 93S dan 95S: Kedua bibit siklon ini memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan kecepatan angin dan ketinggian gelombang laut di wilayah selatan Indonesia dan Laut Arafura.
Aktivitas Gelombang Atmosfer: Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial sedang aktif di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah, yang mempermudah pertumbuhan awan konvektif penyebab petir.
Wilayah dengan Status SIAGA (Potensi Hujan Sangat Lebat).
Beberapa wilayah berikut berada dalam tingkat risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi (banjir dan longsor).
– Aceh dan Sumatera Utara
– Jawa Tengah dan Jawa Timur
– Nusa Tenggara Barat (NTB)
– Nusa Tenggara Timur (NTT)
– Maluku serta Papua Tengah
Wilayah dengan Status WASPADA (Potensi Hujan Sedang hingga Lebat).
Masyarakat di wilayah ini tetap diminta berhati-hati terhadap genangan dan angin kencang.
– Sumatera: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung.
– Jawa: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan DIY.
– Kalimantan: Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
– Bali dan sebagian besar wilayah Sulawesi.
Bersamaan dengan hujan lebat, BMKG juga menyoroti adanya ancaman Banjir Rob yang dipengaruhi oleh fase Bulan Baru. Pesisir Sumatera Barat, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung merupakan wilayah paling rentan pada tanggal 18-19 Desember ini.
Selain itu, gelombang laut dengan ketinggian mencapai 4 meter diprediksi akan terjadi di Samudra Hindia Selatan Jawa dan Samudra Pasifik utara Maluku, yang sangat berbahaya bagi kapal nelayan maupun tongkang.

