Subang, Nitikan.id — Peristiwa tragis terjadi dalam acara syukuran pernikahan putra sulung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Maula Akbar, dengan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina. Acara yang digelar di Alun-alun Banceuy, Garut, pada Jumat (18/7), menyedot ribuan warga dan berujung kericuhan. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat desak-desakan saat warga berebut makanan gratis yang disediakan panitia.
Insiden tersebut memicu sorotan tajam dari publik, terutama setelah pernyataan Dedi Mulyadi yang dinilai kontradiktif muncul di berbagai media. Dalam laporan Kompas pada Jumat (18/7), Dedi menyatakan bahwa dirinya sebenarnya telah melarang pembagian makanan gratis, namun larangan itu diabaikan panitia.
Namun, keterangan tersebut dipertanyakan setelah muncul unggahan video di akun TikTok @infocibatu, tertanggal 15 Juli 2025. Dalam video tersebut, Maula Akbar, putra Dedi, justru menjelaskan kepada publik bahwa akan ada pagelaran seni dan pembagian makanan gratis untuk warga, sebagai bagian dari rangkaian acara pernikahan.
Pernyataan Dedi ini menuai kritik dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari tokoh muda Sunda, Rakean Galuh Pakuan, Niskala Mulya Rahadian Fathir. Dalam keterangannya pada Sabtu (19/7), Fathir menyebut Dedi Mulyadi terkesan ingin melepaskan tanggung jawab atas tragedi tersebut.
“Sangat tidak elok seorang pejabat publik memberikan keterangan yang kontradiktif dengan fakta yang ada. Ini memperlihatkan upaya yang kuat untuk menyelamatkan citra yang selama ini dibangun,” ujar Fathir.
Fathir juga mengutip pengamat politik Rocky Gerung, yang pernah menjuluki Dedi dengan sebutan “KDM” alias King Dedi Mulyono, sebagai sindiran terhadap gaya politik pencitraan yang dinilainya mirip dengan Jokowi.
“Julukan itu muncul karena gaya politik pencitraan Dedi sangat mirip dengan Jokowi. Kini, Dedi juga mulai mengikuti jejak lainnya, yakni kebiasaan berbohong di depan publik demi menjaga citra,” katanya.
Fathir menambahkan, saat ini muncul dugaan bahwa Dedi telah mengerahkan buzzer untuk meredam kritik publik. Hal itu dinilai bertolak belakang dengan pernyataan Dedi sebelumnya yang mengaku tidak menggunakan buzzer.
“Kalau sekarang mulai ada gerakan buzzer untuk menyelamatkan muka di mata publik, padahal sebelumnya sering berdalih tidak menggunakan buzzer, ini jelas-jelas bentuk kebohongan,” tegas Fathir.
Fathir pun mengingatkan masyarakat untuk tidak kembali terjebak dalam politik pencitraan.
“Kita sebagai masyarakat harus belajar dari kesalahan masa lalu. Jangan tertipu dengan tampilan luar yang seolah-olah baik dan bersih, padahal busuk di dalamnya,” pungkasnya.
Sumber Berita: Kompas dan TikTok @infocibatu
Dedi Mulyadi Akui Larangan Diabaikan, 3 Tewas di Acara Makan Gratis Pernikahan Anaknya

