Nitikan.id – Riduculea adalah sebuah negeri. Bukan negeri yang kekurangan gagasan. Setiap tahun, kementerian meluncurkan puluhan program. Setiap daerah memiliki rencana strategis lima tahunan. Tiap pergantian pejabat, muncul jargon baru yang menjanjikan perubahan. Transformasi digital, revolusi bantal, kota pintar, kemandirian pangan, hingga ekonomi biru, semuanya terdengar besar dan menjanjikan. Di ruang seminar, di podium kampus, di bilik birokrasi, hingga di linimasa media sosial, kata-kata hebat berseliweran. Seolah bangsa ini tinggal menunggu waktu untuk menjadi adikuasa.
Tapi realitas di lapangan tak seindah narasi yang dikumandangkan. Jalan rusak masih jadi kolam tanpa ikan, terutama di daerah-daerah yang jauh dari sorotan kamera. Anak-anak sekolah dasar masih harus menyeberangi sungai dengan rakit atau jembatan reyot. Petani merugi karena distribusi pupuk tak adil, UMKM menggigil karena usahanya sepoi-sepoi. Kita seolah berjalan di dua dunia, satu penuh simbolisme, satu lagi tenggelam dalam kenyataan getir.
Inilah potret ironi yang kian menganga. Kita begitu pandai merancang, tapi begitu malas mengeksekusi. Kita sibuk menyusun roadmap, padahal jalan di depan rumah belum diperbaiki. Kita rajin menggelar forum dan simposium, tetapi tidak banyak yang berani turun tangan di medan perubahan yang sesungguhnya. Bahkan, terkadang rencana dibuat bukan untuk dijalankan, melainkan sekadar memenuhi kewajiban laporan atau pencitraan di mata publik.
Simbolisme dalam politik dan pembangunan adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, simbol dapat mempersatukan, memberi arah, dan menggerakkan massa. Tapi di sisi lain, simbol bisa menjadi topeng untuk menutupi stagnasi. Kita terlalu sering terjebak dalam logika permukaan selama ada logo, ada spanduk, ada influencer yang bicara, maka proyek dianggap berjalan. Padahal yang bergerak hanya anggaran, bukan dampaknya.
Menghadiri seminar atau webinar dianggap sebagai kontribusi, meski hanya datang untuk selfie dan mengunggah sertifikat di Instagram. Mengangkat isu-isu sosial di media sosial dianggap sebagai perjuangan, padahal setelah itu, tak ada tindakan lanjutan. Kita hidup dalam era representasi, di mana citra jauh lebih penting dari kerja nyata. Ini bukan berarti diskusi dan penyuluhan tak penting, tapi ia harus menjadi awal dari gerakan, bukan pengganti tindakan.
Lalu siapa yang benar-benar bekerja? Siapa yang membangun negeri ini tanpa banyak bicara?
Jawabannya ada pada mereka yang jarang disorot kamera. Guru-guru yang tetap mengajar meski gajinya tak seberapa. Perawat desa yang berjalan kaki untuk mendatangi pasien. Relawan yang bekerja diam-diam saat bencana datang. Petani yang tetap menanam meski tak tahu harga jualnya akan menutup biaya atau tidak. Driver ojol yang menolak untuk menganggur meski regulasi mencekik. Mereka bukan tokoh utama di dalam narasi besar negeri ini, tapi merekalah tulang punggung bangsa. Tanpa mereka, negeri ini hanya akan jadi panggung kosong dengan lampu sorot yang berlebihan.
Membangun bangsa bukan tugas ringan. Ia bukan soal hadir di forum internasional atau menghafal jargon pembangunan. Ia soal konsistensi, keberanian mengambil keputusan yang tak populer, dan keberpihakan yang jelas terhadap rakyat yang paling terdampak. Ia tentang menyingsingkan lengan baju dan turun ke lumpur, bukan sekadar mencetak banner dan berbicara manis di mikrofon.
Kita tak bisa terus-menerus bangga dengan rencana. Tidak cukup membuat RPJMN yang megah jika anggaran desa saja masih rawan dikorupsi. Tidak cukup menggembar-gemborkan revolusi industri jika sinyal internet masih mati di sebagian besar wilayah perbatasan. Tidak cukup membuat misi menjadi “negara maju” jika anak-anak kita masih belajar di sekolah yang bocor atapnya.
Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya, melainkan kekurangan keberanian untuk benar-benar bergerak. Kita terbiasa berlindung di balik sistem, alasan, atau “belum saatnya.” Kita takut salah langkah, lalu memilih untuk tidak melangkah sama sekali. Padahal, pembangunan tidak lahir dari ketakutan, ia lahir dari ketekunan.
Saatnya berhenti menjadikan simbol sebagai tujuan. Saatnya berhenti mengukur keberhasilan dari jumlah seminar, follower media sosial, atau viralnya kampanye daring. Kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh berapa kali kita bicara soal perubahan, tapi oleh berapa banyak dari kita yang rela bekerja dalam diam, yang konsisten menyelesaikan satu masalah kecil tanpa menunggu tepuk tangan.
Negeri ini butuh lebih banyak pekerja daripada pencitra. Butuh lebih banyak pemikir yang juga turun tangan. Butuh lebih banyak orang yang tak hanya hadir, tapi benar-benar peduli.
Karena jika semua hanya bicara, maka siapa yang bekerja? Wi wok not onli de tok.
*****

