Nitikan.id – Najwa Shihab, jurnalis senior yang dikenal dengan ketajaman analisis dan keberaniannya dalam mengkritik kekuasaan, kini menjadi sorotan publik karena keheningannya. Dikenal sebagai pembawa acara “Mata Najwa” serta pendiri Narasi TV, Najwa kini dianggap lebih pasif dalam menyikapi isu-isu panas yang mengguncang Indonesia. Apa yang terjadi?
Latar Belakang: Dari Suara Lantang ke Keheningan
Najwa Shihab telah lama menjadi ikon jurnalisme kritis di Indonesia. Sejak berkarier di Metro TV pada awal 2000-an, ia selalu menghadirkan wawancara tajam dengan berbagai tokoh politik dan aktivis. Namun, sejak 2025, publik mulai mempertanyakan mengapa suaranya tak lagi terdengar lantang seperti dulu.
Berbagai peristiwa besar, seperti revisi UU TNI, demonstrasi mahasiswa di Jakarta, dan skandal politik yang mengguncang tanah air, tidak lagi mendapat sorotan tajam darinya. Bahkan, konten Narasi TV kini lebih banyak berfokus pada tayangan ringan dibandingkan liputan investigatif yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Mengapa Najwa Shihab Tampak Bungkam?
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab perubahan sikap Najwa:
- Tekanan dan Ancaman
Pada Oktober 2024, Najwa mendapat gelombang serangan di media sosial setelah mengkritik mantan Presiden Joko Widodo terkait penggunaan pesawat TNI AU. Tak hanya ujaran kebencian, ancaman fisik juga diterima, yang kemungkinan membuatnya lebih berhati-hati dalam bersuara. - Regulasi Media yang Semakin Ketat
Disahkannya revisi UU TNI pada Maret 2025 memperketat pengawasan terhadap media. UU ini memberikan wewenang lebih besar kepada militer dalam mengawasi konten yang dianggap “mengganggu stabilitas nasional.” Kondisi ini diduga menjadi faktor yang membungkam banyak jurnalis, termasuk Najwa. - Fokus ke Konten Non-Kontroversial
Najwa kini lebih sering terlibat dalam program-program yang jauh dari politik, seperti “Shihab & Shihab” bersama ayahnya, Quraish Shihab. Sementara di Narasi TV, ia lebih banyak berperan di belakang layar, mengurangi eksposur sebagai jurnalis investigatif. - Strategi Bertahan atau Pergeseran Karier?
Ada spekulasi bahwa keheningan Najwa bukan tanda menyerah, melainkan strategi untuk tetap relevan di tengah situasi yang semakin represif. Wawancara eksklusifnya dengan Presiden Jokowi di kanal YouTube Narasi TV Februari lalu menunjukkan bahwa ia masih aktif, hanya saja dengan pendekatan berbeda.
Dampak Keheningan Najwa bagi Publik
Keheningan Najwa Shihab mencerminkan kondisi kebebasan pers di Indonesia. Banyak netizen di media sosial mengungkapkan kekecewaan terhadap perubahan sikapnya. Namun, ada juga yang menilai bahwa ini adalah bentuk adaptasi dalam menghadapi tekanan yang semakin besar.
Apakah Ini Akhir atau Babak Baru?
Pertanyaannya, apakah keheningan Najwa merupakan jeda sementara atau akhir dari era jurnalisme kritisnya? Sejarah menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang tidak mudah menyerah. Namun, dengan kondisi 2025 yang penuh tantangan, apakah ia akan kembali bersuara atau memilih jalur baru?
Publik masih menantikan apakah Najwa Shihab akan kembali dengan kritik tajamnya, atau justru menemukan cara baru untuk terus berjuang. Yang jelas, keheningannya saat ini tetap menjadi perbincangan, menandakan bahwa suaranya masih dirindukan banyak orang.

