Nitikan.id – Pada tahun 1612, Jepang pada saat itu dipimpin oleh Tokugawa (penguasa militer pada saat itu).
Dia mengeluarkan sebuah titah yang harus diikuti oleh setiap pemegang kasta samurai, sebagai kehormatan diri mereka, yang taruhannya bahkan melebihi nyawanya sekalipun.
Yaitu taat pada perintah atasan, dalam hal ini seorang tokugawa selaku petinggi puncak dalam kekaisaran Jepang saat itu.
Perintah kala itu adalah, di Jepang hanya boleh ada satu orang saja juara samurai. Padahal semua orang tahu, di Jepang selatan, musashi adalah juaranya. Sedang di jepang utara, bercokol Sasaki Kojiro selaku sang jawara.
Keduanya harus dipertemukan dalam sebuah duel puncak yang adil, di sebuah pulau terpencil, dengan dihadiri oleh wakil resmi utusan tokugawa sebagai saksi atas duel antar juara tadi.
Setelah menunggu, ahirnya perintah ahir itu datang jua. Yaitu pada hari H, dan duel dimulai tepat pukul 10 pagi.
Sasaki Kojiro, seorang samurai sejati. Dikenal cerdas bahkan brilian dalam bermain pedang. Seluruh ilmu pedang dia dapatkan dari para maha guru samurai di jepang utara.
Dalam pengembaraannya, dia menjadi sosok yang mengerikan. Setiap duel antar jagoan, selalu dia menangkan dengan relative mudah. Ilmu yang tinggi, masih muda, stamina kuat, dan senjata pamungkasnya berupa “sang galah penebas”.
Senjata samurai istimewa, dengan bahan material kuat dan langka, dibuat oleh empu nomor satu. Samurai pusaka, dengan ukuran panjang 120 cm, jauh diatas rata2 pedang samurai umumnya yang paling sekitar 1 meteran saja.
Kojiro cerdas, beberapa hari sebelum hari H, dia dengan sengaja datang terlebih dahulu ke pulau dimana duel puncak akan terjadi.
Dia melakukan observasi pada medan dimana pertempuran antar juara itu akan terjadi. Dia meneliti setiap gundukan, pasir, batuan, pantai, tumbuhan, dll., yang kelak akan menentukan strateginya saat berhadapan dengan Musashi.
Bagi Kojiro pengetahuan tentang medan lapangan akan menjadi kunci kemenangan yang sangat menentukan kelak.
Kojiro tahu persis siapa Musashi. Bahkan sadar betul bahwa Musashi kelak akan menjadi lawan terakhirnya sebelum dia menjadi juara tunggal diseluruh kekaisaran Jepang. Kojiro dengan kemampuannya optimis mampu mengalahkan Musashi.
Walau pasti tidak akan mudah, karena Musashi dikenal sebagai samurai yang ulet, yang berkelahi semata menggunakan instink untuk bertahan hidup.
Pada hari H, Kojiro sudah menunggu di pulau. Sedang Musashi masih berada di daratan. Kojiro sejak pagi sudah menyiapkan segala sesuatunya agar dia tetap pada kesemaptaan puncak.
Sedang Musashi masih duduk di atas tatami (tikar) di sebuah kamar penginapan sederhana. Sejak malam sampai pagi itu, dia mengisi waktunya dengan membuat syair.
Waktu yang hening, untuk melatih sang kesadaran dan menggali potensi diri.
Musashi sadar betul, bahwa dia bukan lawan sepadan bagi sang jenius Sasaki kojiro.
Umurnya sudah beranjak tua, sedang Kojiro pada usia masa kejayaannya. Jadi pastilah aspek trengginas seperti kekuatan, kecepatan, ketepatan, kelenturan, dan stamina, dia kalah dari Kojiro.
Musashi juga sadar, ilmu pedang yg didapatnya lebih pada otodidak. Hasil dari instink untuk bertahan hidup. Tidak seperti Kojiro, yang dikenal jenius dengan guru-guru terbaiknya.
Menjelang jam 10 pagi, Musashi bangkit dari tatami, lalu berjalan menuju pantai, dan meminta seorang nelayan untuk mengantarnya ke pulau seberang dengan perahu kecil.
Di perahu dia melihat sebuah dayung, dengan ijin sang nelayan, lalu dia memotong bagian pipih di ujung dayung.
Pada saat yang sama Kojiro sudah berdiri di depan pantai, dimana kelak Musashi akan berlabuh.
Hatinya mulai dilanda rasa jengkel. Diam diam dia merasa direndahkan oleh seorang Musashi.
Saat menjelang jam 10 itu, dia sudah siap berdiri dibibir pantai, dengan para utusan tokugawa sebagai saksi duel itu. Sedang Musashi bayangan batang hidungnya saja belum nampak. Padahal dia sudah berhari hari ada di pulau itu untuk observasi medan.
Tepat jam 10 pagi, perahu yang ditumpangi Musashi baru mendarat di pantai. Kojiro langsung memburu Musashi yang baru saja turun dari perahu.
Kojiro berjalan cepat menderap mendatangi, pedang samurai sang galah penebas segera dihunus dari sarungnya, kemudian sarungnya dia buang ke samping. Dengan langkah yang dipercepat.
Musashi yang sekarang sudah berdiri tegak di pantai menghadap Kojiro, mulutnya menyeringai seraya berucap … Kojiro !, anda sudah kalah. … anda membuang sarung pedang, artinya anda tidak berniat untuk menyarungkan pedangnya kembali….!
Kojiro tertegun sejenak dengan kebenaran serangan “psywar” dari Musashi.
Tapi sebagai seorang ksatria, dia pantang mengurungkan langkah. Apalagi ketika melihat sosok Musashi yang sudah bersiap dan berdiri tegak di bibir pantai, tanpa membawa pedang samurai. Kecuali dengan membawa “pedang” yang hanya terbuat dari kayu bekas gagang dayung.
Kojiro benar-benar merasa terhina. Seorang kampiun jenius dari Jepang utara, lengkap dengan pusaka sang galah penebas, dhadapi oleh seorang Musashi hanya dengan mengandalkan sebilah samurai kayu. Yang hanya dengan sedikit tetakan saja, dengan mudah tercincang.
Dengan kemarahan yang bertumpuk, Kojiro kini berlari menuju Musashi. Kedua tangan yg sudah menggenggam pedang teracung ke atas, siap memberi serangan berupa sabetan mematikan, dari atas kebawah kearah kepala secara horizontal.
Musashi tak bergerak seraya bersiap melakukan jurus yang sama.
Detik-detik kedua jawara tadi bentrok, di udara hanya ada gema teriakan semangat dari keduanya…. Haiyaaa …. !!!!!, Disusul kelebat samurai Kojiro, menimbulkan cuitan linu di udara.
Sedang pedang kayu Musashi layaknya menimbulkan deru. Sesaat kemudian, hanya tinggal 2 suara saja …. Bret !!! … brak !!! … setelah itu sunyi.
Keheningan yang mendirikan bulu kuduk.
Musashi tetap berdiri, suara bret tadi, ketika ujung pedang samurai Kojiro berhasil memutus kain ikat kepalanya tepat didahi.
Kojiro juga berdiri tegak, namun perlahan dia terkulai lalu ambruk ketanah . Mati dengan rusuk hancur berlumur darah dihantam pedang kayu Musashi.
Semua saksi terbengong terkesima kaku. Sama sekali tak menyangka, duel antar jawara yang tadinya ditaksir akan memakan puluhan-ratusan jurus selam berjam jam, ternyata semua drama tadi berahir hanya dengan satu gebrakan, dalam hitungan sepersekian detik saja.
Ketika semua mulai kembali terjaga, Musashi sudah berlayar kembali kedaratan seberang. Kini dengan menyandang gelar selaku satu satunya jawara Samurai di tanah negeri matahari terbit itu.
Lalu setiap orang bertanya tanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi.
Aspek apa sesungguhnya yang sudah terlewatkan di kepala Kojiro yang jenius itu. Sehingga dia dengan begitu “mudah” dikalahkan.
Kojiro sejak awal sudah tahu, bahwa Musashi berkelahi dengan mengandalkan instink. Jauh berbeda dengan dirinya yang mendahulukan akal logika, sehingga layak dikatakan sebagai seorang jenius.
Kojiro gagal menaksir Musashi, yang selama ini sebenarnya sudah bertransformasi menjadi seorang ahli strategi yang juga menggunakan nalar.
Sejak awal Musashi sudah tahu, dia bukan lawan tanding bagi Kojiro. Sehingga saat terakhir di penginapan itu, dia berfikir mencari cara yang tepat untuk mengalahkan Kojiro.
Aspek pertama yang dikaji, dia tak mungkin melawan umur, sehingga dia harus bertarung dan selesai secepatnya, agar tak memakan tenaga dan staminanya.
Aspek kedua, Kojiro sangat mengandalkan pedang pusakanya, yang panjangnya jauh melebihi pedang samurai pada umumnya. Kojiro tak sadar, Musashi membuat “pedang” kayu dari gagang dayung itu, lebih panjang sekitar 4 inchi dari pedang Kojiro, atau 130 cm.
Aspek ketiga, Musashi akan mengandalkan pantulan cahaya dari riak gelombang laut yang ada dibelakangnya, dan akan membuat mata Kojiro terganggu pelihatannya karena silau, dan bisa keliru dalam menentukan “jarak pukul”.
Padahal jarak pukul adalah faktor paling signifikan dalam semua ilmu bela diri. Dikenal dengan step-in untuk masuk, dan step-out untuk keluar dari sebuah jarak pukul yang efektif.
Aspek keempat, Musashi menyerang lebih dahulu dengan melakukan psy-war, terutama untuk menimbulkan rasa jengkel dan amarah.
Emosi akan menumpulkan logika, sehingga gagal untuk membaca situasi real disekitarnya. Seperti datang agak telat, sindiran sarung pedang yg dibuang, dan pedang kayu yang sangat melecehkan.
Musashi membuat analisa nalar, membuat perencanaan, melakukan persiapan, dan dilaksanakan dengan eksekusi yang benar benar brilian. Musashi membuat “breakthrough” , sebuah terobosan baru yang membuat Kojiro kecolongan dan gagal mengantisipasinya.
(Sumber: setuochifinder dan thearchaelogist)

