Tasikmalaya, Nitikan.id – Dalam upaya menjaga kerukunan antarumat beragama dan mencegah potensi konflik sosial di masyarakat, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tasikmalaya menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan”, Rabu (16/7), bertempat di Aula Kantor Kemenag Tasikmalaya.
Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemangku kepentingan, tokoh agama, dan unsur masyarakat sipil dalam menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks di era digital dan globalisasi.

Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tasikmalaya, Dr. KH. Edeng Zainal Abidin, yang menekankan bahwa konflik sosial, terutama yang berbasis agama, perlu dicegah sejak dini melalui deteksi dan komunikasi yang efektif.
“Konflik tidak selalu muncul dalam bentuk besar. Banyak konflik bermula dari hal kecil, seperti miskomunikasi, prasangka, atau ketimpangan akses. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk peka dan sigap dalam mendeteksi tanda-tanda awalnya,” ujar H. Edeng dalam sambutannya.
Dalam pemaparannya, beliau menguraikan jenis-jenis konflik yang sering muncul di masyarakat, yaitu:
- Konflik interpersonal, yang terjadi antar individu karena perbedaan kepentingan atau pandangan.
- Konflik intrapersonal, yaitu konflik batin yang dialami seseorang antara nilai, norma, dan keinginan pribadinya.
- Konflik sosial, berupa gesekan antar kelompok masyarakat seperti suku, agama, ras, dan golongan.
- Konflik politik, yang dipicu oleh perbedaan pandangan atau kepentingan dalam perebutan kekuasaan.
Sementara itu, beberapa faktor penyebab konflik juga dikupas tuntas dalam diskusi ini, seperti perbedaan pendapat yang tidak dikelola dengan baik, ketimpangan sosial, komunikasi yang buruk, hingga menurunnya tingkat kepercayaan antar kelompok masyarakat.
Peserta FGD tampak antusias mengikuti jalannya diskusi, dengan banyak dari mereka menyampaikan pandangan serta berbagi pengalaman menangani potensi konflik di wilayah masing-masing.
Acara ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat moderasi beragama, meningkatkan ketahanan sosial, dan mempererat solidaritas antarumat beragama di Kabupaten Tasikmalaya.
“Kami ingin masyarakat, tokoh agama, dan aparat pemerintah dapat berjalan bersama. Karena menjaga kedamaian bukan hanya tugas satu pihak, tapi tanggung jawab kita semua,” tutup H. Edeng.
Dengan terselenggaranya FGD ini, Kemenag Tasikmalaya kembali menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan dalam merawat harmoni sosial dan keagamaan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

