Nitikan.id,Opini – Dalam perjalanan sejarah, jurnalisme tidak sekadar menjadi alat penyampaian informasi, tetapi juga instrumen perubahan sosial. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga era perjuangan kemerdekaan Indonesia, para penyampai berita memiliki peran strategis dalam membangun umat dan negara. Dari khutbah dan syair pada masa Rasulullah hingga pers perjuangan di era kolonial, peran jurnalis selalu terkait erat dengan penyebaran nilai-nilai, pembelaan terhadap kebenaran, serta perjuangan melawan ketidakadilan.
Sejak awal Islam, penyebaran informasi menjadi bagian dari strategi dakwah. Di tengah masyarakat arab yang mengandalkan komunikasi lisan, Nabi Muhammad SAW menggunakan berbagai metode untuk menyampaikan risalah Islam. Ada tiga kelompok utama yang berperan dalam menyebarkan informasi pada masa itu yakni khatib, qurra’, dan penyair.
Khatib seperti Tsabit bin Qais bin Syammas bertindak sebagai juru bicara yang menyampaikan pesan Nabi kepada umat. Sementara itu, qurra’ seperti Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keutuhan wahyu, memastikan Al-Qur’an tetap terpelihara dan tersebar luas. Di sisi lain, penyair seperti Hassan bin Tsabit berperan dalam perang opini, melawan propaganda kaum Quraisy dengan syair-syair yang membela Islam.
Penyampaian informasi saat itu tidak hanya bertujuan untuk memberi tahu, tetapi juga untuk membentuk kesadaran, meneguhkan akidah, serta membela kebenaran dari serangan lawan. Dakwah Islam berkembang bukan hanya karena wahyu yang turun, tetapi juga karena adanya sistem komunikasi yang kuat di dalamnya.
Setelah wafatnya nabi, sistem penyampaian informasi berkembang lebih jauh. Pada masa kekhalifahan, khutbah Jumat menjadi sarana utama untuk menyampaikan pesan politik dan keagamaan kepada masyarakat. Selain itu, komunikasi pemerintahan juga berlangsung melalui surat diplomatik. Salah satu tokoh penting dalam hal ini adalah Ali bin Abi Thalib, yang banyak menulis surat kepada para gubernurnya untuk mengarahkan kebijakan pemerintahan Islam.
Di sisi lain, muncul pula karya-karya ilmiah yang menjadi cikal bakal jurnalisme modern. Ibnu Khaldun, misalnya, dalam kitab Muqaddimah, tidak hanya mencatat peristiwa sejarah tetapi juga menganalisis sebab-akibatnya. Pendekatan kritisnya dalam memahami realitas sosial menjadikan tulisannya sebagai salah satu bentuk awal jurnalisme berbasis analisis.
Sejarah mencatat bahwa di tangan yang tepat, pena bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari pedang. Pada era kolonialisme di Indonesia, pers bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium perlawanan. Para pahlawan nasional melihat pers sebagai sarana membangun kesadaran rakyat dan melawan ketidakadilan penjajah.
Salah satu tokoh utama dalam sejarah pers Indonesia adalah Tirto Adhi Soerjo, yang mendirikan Medan Prijaji, surat kabar pertama yang dimiliki dan dikelola oleh pribumi. Lewat tulisan-tulisannya, Tirto membela hak-hak rakyat, mengkritik kebijakan kolonial, dan menyuarakan semangat kebangkitan nasional.
Tokoh lain yang berperan besar adalah Ki Hajar Dewantara, yang terkenal dengan artikelnya Jika Aku Seorang Belanda. Tulisan ini begitu tajam dalam mengkritik pemerintah kolonial hingga membuatnya diasingkan ke Belanda. Selain itu, Soekarno dan Mohammad Hatta juga aktif menulis di berbagai media, menjadikan tulisan sebagai alat perjuangan politik. Sementara itu, Adam Malik mendirikan Kantor Berita Antara, yang menjadi sumber utama berita perjuangan bagi rakyat Indonesia.
Para wartawan ini tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga menggerakkan rakyat untuk melawan penjajahan. Tulisan mereka menjadi percikan api yang membakar semangat nasionalisme dan mempercepat jalan menuju kemerdekaan.
Dari zaman nabi hingga era perjuangan kemerdekaan, jurnalisme selalu memiliki peran penting dalam membangun kesadaran umat,para khatib dan qurra’ di zaman nabi membentuk kesadaran umat melalui dakwah dan penyebaran wahyu.Tirto Adhi Soerjo dan Ki Hajar Dewantara menggunakan pers untuk melawan ketidakadilan kolonial selain itu media menjadi alat pemersatu rakyat dalam melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan.Hingga hari ini, jurnalis terus berperan dalam menjaga transparansi pemerintahan dan mendorong kemajuan sosial.
Di era digital saat ini, tantangan bagi jurnalis semakin kompleks. Kemajuan teknologi memungkinkan informasi menyebar lebih cepat, tetapi juga membuka ruang bagi disinformasi dan propaganda. Oleh karena itu, peran jurnalis sebagai penjaga kebenaran semakin krusial.
Dari khutbah di zaman nabi hingga koran perjuangan di era kolonial, jurnalisme selalu menjadi bagian penting dalam membangun peradaban. Para jurnalis bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga aktor yang aktif membentuknya.
Di masa kini, ketika informasi menjadi senjata dalam berbagai kepentingan, jurnalisme yang jujur dan bertanggung jawab menjadi semakin penting. Seperti halnya para penyampai berita di masa lalu yang memperjuangkan kebenaran dengan pena dan suara mereka, tugas jurnalis saat ini adalah memastikan bahwa informasi tetap menjadi alat pencerahan, bukan sekadar komoditas atau alat propaganda.
Sejarah membuktikan bahwa jurnalisme adalah pilar peradaban. Maka, menjaga integritas jurnalisme bukan hanya tugas para wartawan, tetapi juga tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat yang ingin melihat bangsa ini terus maju.
Malang , 20 Maret 2025
Lanang Mujahidin
Pegiat Rumah baca Kanjuruhan
Kepanjen

