Subang, Nitikan.id – Profesor C.C. Chan, tokoh dunia yang dikenal sebagai “Sang Maestro Kendaraan Listrik Asia”, tiba di Subang pada Sabtu, 3 Mei 2025. Kedatangannya untuk menghadiri acara bertajuk Konferensi Bilateral Energi Terbarukan: Pengenalan dan Percepatan Investasi di Kabupaten Subang yang digagas oleh Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan.
Kehadiran Profesor Chan di Indonesia membawa misi penting sebagai penghubung kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia dalam pengembangan sumber daya manusia dan industri energi terbarukan, khususnya kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di wilayah Kabupaten Subang.
Dalam paparannya, Profesor Chan menjelaskan ketertarikannya terhadap kendaraan listrik berawal dari kesadaran bahwa bahan bakar fosil tidak dapat bertahan lama. “Motor listrik sudah ada sejak abad ke-19 dari penemuan Michael Faraday. Jadi sebenarnya kendaraan listrik itu lebih dulu ada daripada mesin pembakaran dalam (ICE),” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kendaraan konvensional tidak hanya tidak berkelanjutan, tetapi juga merusak lingkungan. “Kendaraan konvensional memang memudahkan mobilitas, tetapi menghasilkan polusi. Kendaraan listrik justru menawarkan solusi yang bersih, menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Ini bukan soal hari ini saja, tapi juga untuk generasi masa depan,” ujarnya.
Profesor Chan menyambut baik inisiatif Galuh Pakuan yang dianggapnya dapat membantu Indonesia lepas dari ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Ia juga menyarankan agar Indonesia mengikuti langkah Tiongkok dalam mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyoroti potensi besar Indonesia dalam produksi baterai listrik berkat melimpahnya cadangan nikel. “Pemerintah harus mendukung riset di universitas-universitas agar bisa mengolah nikel menjadi baterai listrik berkualitas tinggi, dan membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa menjadi pemain utama,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Profesor Chan mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung generasi muda dalam pengembangan industri energi terbarukan. “Generasi muda adalah masa depan. Kita harus dukung mereka melalui teknologi, kebijakan, dan infrastruktur agar Indonesia bisa menjadi negara maju yang ramah lingkungan berkat energi terbarukan,” pungkasnya.

