Subang, Nitikan.id – Gedung Kesenian Ranggawulung yang juga dikenal sebagai Pusat Kebudayaan Subang kini tak jelas tentang keberlanjutannya, dan menuai kritik tajam dari masyarakat, budayawan, dan mahasiswa. Meski telah menghabiskan anggaran hingga Rp6 miliar dari APBD Provinsi Jawa Barat, proyek yang berlokasi di Hutan Kota Ranggawulung, Subang ini, kabar terakhir di fungsikan sekitar tahun 2022 oleh Bupati H.Ruhimat dalam acara pekan kebudayaan daerah Subang.
Proyek pembangunan ini awalnya direncanakan menelan biaya sebesar Rp33 miliar, berdiri di atas lahan seluas 4 hektar milik Pemkab Subang. Yu Sing dan Akanoma Studio dipercaya sebagai arsitek dengan konsep ramah lingkungan yang mencerminkan kekayaan budaya dan alam Subang.
Fasilitas yang dirancang meliputi:
- Amfiteater berkapasitas 300-500 orang
- Ruang pertunjukan
- Galeri kesenian
- Galeri alat pertanian tradisional
- Koridor kuliner
- Area rekreasi keluarga
“Desain ini menggambarkan harmoni budaya pesisir dan pegunungan Subang, dengan pengelolaan limbah alami dan operasional yang mandiri,” jelas arsitek Yu Sing.
Namun, proyek ini terhenti sejak 2021. Wakil Bupati Subang saat itu, Agus Masykur Rosadi, mengungkapkan bahwa pembangunan terhenti karena dana APBD Provinsi tidak mencukupi. Ia menegaskan bahwa Pemkab Subang hanya mengikuti alur kebijakan Pemprov Jawa Barat.
“Terkait hal itu, gedung itu kan program pemerintah provinsi. Jadi, kami mengikuti apa yang menjadi alur pemprov. Sekarang ini terhenti karena pembangunannya menggunakan biaya APBD tahun 2020 dan sudah selesai. Tinggal menunggu kelanjutannya,” terang Agus beberapa waktu lalu.
Kritik Pedas dari Budayawan dan Pegiat Seni
Desain gedung yang didominasi material bambu turut menjadi sorotan para seniman dan budayawan Jawa Barat. Salah satu pegiat seni asal Ciamis, Godi Suwarna, menulis opininya melalui Facebook.
“Tidak tahu lagi budaya apa yang akan dibuat dan dipertontonkan di Subang. Sebagian besar bangunannya terbuat dari bambu, bentuknya seperti Saung Ranggon. Sedih rasanya. Kalau digunakan untuk sekretariat seni, bentuknya sempit. Bentuknya juga mirip kandang merpati. Tidak tahu sampai kapan umurnya, mengingat bangunannya hanya terbuat dari bambu,” tulis Godi.
Senada, budayawan Abah Renggo dan Abah Nana juga menyebut gedung tersebut mirip kandang merpati, menyayangkan besarnya anggaran yang tidak sebanding dengan kualitas hasil bangunan.
Sementara itu, Forum Mahasiswa Subang Se-Indonesia (Formassi) mendesak DPRD dan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti persoalan ini. Anggota Komisi V DPRD Jabar, Ali Rasyid, sempat berjanji akan mengevaluasi proyek bersama dinas terkait. Namun hingga kini, belum ada kejelasan tindak lanjut.

