Nitikan.id,Opini – Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling istimewa dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr:
> إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)
Dalam Tafsir Jalalain, dijelaskan bahwa ayat pertama merujuk pada turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Kemudian, pada ayat ketiga, frasa “lebih baik dari seribu bulan” menunjukkan bahwa ibadah pada malam itu memiliki nilai yang lebih besar daripada ibadah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun 4 bulan) tanpa Lailatul Qadar.
Berbagai ulama dan pemikir Islam memiliki pandangan yang beragam mengenai makna mendalam dari malam ini. Artikel ini akan mengulas perspektif dari lima tokoh besar Indonesia: Gus Mus, Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat, Fahruddin Faiz, dan Cak Nun.
KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar peristiwa langit yang terjadi setiap Ramadan, tetapi juga merupakan pengalaman batin yang mendalam. Menurutnya, malam ini adalah saat seseorang benar-benar mengalami kesadaran spiritual dan merasa sangat dekat dengan Allah.
Gus Mus menekankan bahwa tanda utama seseorang mengalami Lailatul Qadar bukanlah fenomena alam semata, melainkan perubahan dirinya menuju kebaikan. Ia sering mengatakan bahwa “Jika seseorang mengaku mendapatkan Lailatul Qadar, tetapi setelah itu tidak ada perubahan dalam dirinya, maka patut dipertanyakan apakah itu benar-benar Lailatul Qadar baginya.”
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam berbagai ceramahnya menekankan bahwa Lailatul Qadar adalah rahasia Allah. Menurutnya, Allah sengaja menyembunyikan malam ini agar manusia tetap tekun beribadah sepanjang Ramadan, bukan hanya menunggu satu malam tertentu.
Dalam tafsirnya terhadap Surah Al-Qadr, Gus Baha menjelaskan bahwa ayat تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا (“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” – QS. Al-Qadr: 4), menandakan bahwa malam ini penuh dengan kedamaian dan keberkahan. Orang yang mendapat Lailatul Qadar akan merasakan ketenangan hati yang luar biasa, bukan sekadar melihat tanda-tanda fisik seperti cuaca yang sejuk atau langit yang cerah.
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan bahwa kata Qadar memiliki dua makna yakni kemuliaan dan ketetapan. Malam Lailatul Qadar disebut mulia karena Al-Qur’an diturunkan pada malam itu. Selain itu, malam ini juga disebut sebagai malam ketetapan karena di dalamnya Allah menetapkan berbagai keputusan untuk kehidupan manusia selama satu tahun ke depan.
Dalam sebuah kajian, UAH mengutip ayat lain yang terkait dengan malam ini:
> فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan: 4)
Menurutnya, inilah alasan mengapa pada malam itu dianjurkan untuk banyak berdoa, terutama doa:
> اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Karena pada malam itu, segala ketetapan Allah sedang ditentukan.
Dr. Fahruddin Faiz, seorang akademisi filsafat Islam, melihat Lailatul Qadar dari sudut pandang eksistensial. Baginya, malam ini adalah saat di mana seseorang mengalami pengalaman spiritual yang mendalam, sehingga hidupnya berubah total.
Ia mengaitkan Lailatul Qadar dengan konsep “kesadaran diri”. Dalam kajiannya, ia mengatakan, “Malam Lailatul Qadar adalah saat seseorang menyadari hakikat dirinya, menemukan makna hidup, dan benar-benar merasa bahwa Allah selalu dekat.” Ini mirip dengan konsep “pencerahan” dalam filsafat dan sufisme.
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sering menekankan bahwa Lailatul Qadar tidak hanya tentang pengalaman spiritual individu, tetapi juga momentum perubahan sosial. Menurutnya, jika seseorang benar-benar mengalami Lailatul Qadar, maka itu harus tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.
Dalam ceramahnya, Cak Nun pernah mengatakan, “Kalau setelah Ramadan kita kembali korup, kembali dzalim, kembali sombong, maka jangan-jangan kita tidak benar-benar mengalami Lailatul Qadar.” Baginya, malam ini harus menjadi titik balik yang membawa manfaat bagi masyarakat luas, bukan hanya pengalaman batin pribadi.
Kelima tokoh ini menawarkan perspektif berbeda tetapi saling melengkapi dalam memahami Lailatul Qadar. Gus Mus menekankan aspek penyadaran spiritual, Gus Baha mengajak untuk fokus pada konsistensi ibadah, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan makna ketetapan takdir, Fahruddin Faiz melihatnya sebagai momen eksistensial, dan Cak Nun mengaitkannya dengan perubahan sosial.
Dari sini, kita bisa mengambil hikmah bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar fenomena kosmik atau angka seribu bulan, tetapi pengalaman spiritual yang harus membawa perubahan nyata dalam kehidupan. Maka, alih-alih hanya mencari tanda-tanda fisik malam itu, lebih baik kita menyiapkan diri dengan ibadah yang konsisten, hati yang bersih, dan niat untuk memperbaiki diri serta lingkungan.
Semoga kita semua diberi kesempatan untuk mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar tahun ini. Aamiin.
Subang, 20 Maret 2025
Hgr Dinandaru shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

