Sebenarnya, bukan berarti rakyat sama sekali tidak marah. Kegeraman itu ada, tetapi ekspresinya terbatas—lebih sering muncul di media sosial, di antara segelintir netizen yang bersuara di kolom komentar atau konten kritis.
Namun, di dunia nyata, kemarahan itu tak pernah benar-benar meledak menjadi gerakan besar yang mampu memberi peringatan serius kepada pemerintah.
Coba tengok ke daerah. Tanyakan kepada rakyat kecil. Sebagian mungkin tidak tahu ada korupsi, sebagian lagi sudah maklum, sementara yang lainnya tahu tetapi bingung harus berbuat apa.
Setidaknya ada empat alasan utama mengapa rakyat seolah kehilangan daya untuk marah terhadap korupsi:
- Sistem Pendidikan yang Tidak Memberdayakan
Dalam jangka panjang, sistem pendidikan kita tidak membentuk individu yang kritis. Sebaliknya, ia mencetak generasi yang patuh dan menerima keadaan tanpa banyak bertanya. - Pengalihan Fokus Melalui Hiburan
Ketika rakyat mulai bertanya, ada strategi yang mengalihkan perhatian mereka. Media dipenuhi dengan gosip selebriti dan drama politik yang dibuat untuk mengaburkan isu-isu besar. - Kesibukan Bertahan Hidup
Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus melambung, gaji yang stagnan, dan sulitnya mencari pekerjaan, rakyat dipaksa fokus pada perjuangan sehari-hari untuk bertahan hidup, sehingga tak sempat memikirkan persoalan korupsi. - Peran Tokoh Masyarakat dan Agama dalam Menjaga ‘Ketentraman Semu’
Para tokoh agama, masyarakat, dan publik figur sering kali membingkai narasi yang membuat rakyat menerima keadaan. Pernyataan-pernyataan mereka meninabobokan rakyat dengan dalih menjaga stabilitas dan ketentraman.
Berikut adalah beberapa contoh kalimat yang sering digunakan untuk meredam amarah rakyat terhadap korupsi:
- “Biarlah, itu urusan orang besar. Kita orang kecil cukup urus diri sendiri.”
- “Sebenarnya bukan korupsi, hanya persaingan politik antarpartai.”
- “Ah, itu cerita yang dilebih-lebihkan. Aslinya tidak seseram itu.”
- “Kita harus fokus pada hal-hal positif dan tidak terpengaruh berita negatif.”
- “Kasus seperti ini sudah biasa di pemerintahan mana pun, tidak perlu dibesar-besarkan.”
- “Mungkin ada alasan tertentu di balik tindakan tersebut yang kita tidak ketahui.”
- “Serahkan saja pada Tuhan, Dia yang Maha Mengetahui dan Maha Adil.”
- “Jangan sampai isu ini memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.”
- “Lebih baik kita berdoa agar para pemimpin diberikan hidayah.”
- “Media sering membesar-besarkan berita untuk sensasi, jangan langsung percaya.”
- “Fokus saja pada pekerjaan kita, urusan politik biar mereka yang atur.”
- “Korupsi sudah biasa, yang penting kita tetap bersatu dan rukun.”
- “Lebih baik kita memperbanyak ibadah dan doa daripada terlibat dalam politik yang kotor.”
Dan masih ada ribuan kalimat lain yang digunakan untuk menenangkan rakyat agar tetap diam.
Yogyakarta, 11 Maret 2025
Teguh Santoso,
Sekjen Gerbang

