Oktober tahun ini, Indonesia terasa seperti sedang dipanggang di atas wajan raksasa. Matahari bekerja tanpa mengenal hari libur. Aspal menguapkan panas, tenggorokan cepat kering, dan kipas angin berputar seperti pegawai teladan yang rajin bekerja tetapi tak pernah mendapat kenaikan gaji.
Di sejumlah daerah, suhu udara mendekati 40 derajat Celsius. Petani mulai menghitung persediaan air, tanaman menunggu hujan, sementara manusia perkotaan sibuk mencari tempat berteduh sambil mengeluh, “Panas banget, ya Allah!”
Kalimat terakhir itu menarik. Ketika kepanasan, nama Allah mendadak mudah sekali disebut. Padahal, ketika cuaca bersahabat, kita sering lupa bahwa udara sejuk, air yang mengalir, dan tubuh yang sehat bukanlah fasilitas gratis yang bisa kita tuntut seumur hidup.
Tentu saja, kemarau panjang bukan perkara yang bisa dijelaskan hanya dengan urusan iman. Ada penjelasan ilmiahnya. Perubahan pola atmosfer, El Niño, Indian Ocean Dipole, minimnya pembentukan awan, serta pemanasan global dapat berkontribusi terhadap kondisi panas dan kering. Semuanya perlu ditelaah menggunakan data, bukan diterka-nerka berdasarkan perasaan atau ramalan seorang tetangga yang mengaku lututnya bisa membaca cuaca.
Namun, manusia bukan hanya makhluk yang membutuhkan penjelasan tentang bagaimana sesuatu terjadi. Kita juga gemar bertanya mengapa sesuatu terjadi, apa maknanya, dan pelajaran apa yang bisa dipetik darinya. Di sinilah ilmu pengetahuan dan perenungan spiritual bisa berjalan beriringan tanpa perlu saling sikut seperti penumpang berebut kursi di angkot.
Sains menjelaskan proses terjadinya kemarau. Agama mengajak manusia merenungkan sikapnya ketika berhadapan dengan keadaan yang tidak selalu bisa dikendalikan. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Kita bisa mempelajari atmosfer sekaligus memeriksa hati sendiri.
Dalam tradisi Islam, hubungan antara perilaku manusia dan keberkahan alam memang menjadi bahan renungan. Sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah , antara lain, mengingatkan bahwa ketika suatu kaum tidak menunaikan zakat, hujan dapat ditahan dari langit. Hadis yang sama menyinggung kecurangan dalam timbangan dan takaran serta berbagai kesulitan yang menyertainya.
Pesan itu layak direnungkan dengan kepala dingin. Bukan untuk buru-buru menyimpulkan bahwa kemarau yang melanda Indonesia merupakan hukuman Gusti Allah, apalagi menunjuk hidung orang lain sambil merasa diri paling suci. Kita tidak memiliki kewenangan memastikan bahwa suatu bencana tertentu merupakan hukuman atas dosa kelompok tertentu.
Jangan sampai ketika hujan tidak turun, kita malah sibuk mencari siapa yang paling berdosa, sementara sumber air dibiarkan rusak dan saluran irigasi tersumbat sampah. Kita rajin mengangkat tangan ke langit, tetapi lupa mengangkat sampah dari selokan. Kita memohon air berlimpah, tetapi hutan yang menjadi penyangga kehidupan diperlakukan seperti halaman kosong yang siap dijual.
Kalau begitu, barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya keadaan langit, melainkan juga perilaku kita di bumi.
Apakah kekayaan sudah mengalir kepada mereka yang membutuhkan? Apakah transaksi ekonomi berlangsung dengan jujur? Apakah orang yang memiliki kekuasaan menggunakannya untuk melindungi rakyat atau justru melindungi kepentingannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini terasa relevan karena kemarau tidak pernah membagikan penderitaan secara merata.
Orang kaya masih bisa menyalakan pendingin ruangan, membeli air galon, dan memesan makanan melalui aplikasi. Sementara itu, petani kecil harus memikirkan tanaman yang kekurangan air, pedagang kecil menghadapi biaya yang meningkat, dan keluarga miskin mungkin harus menghemat air untuk kebutuhan paling mendasar. Bahkan dalam urusan kepanasan, nasib manusia rupanya tidak selalu sama. Ada yang kepanasan sambil rebahan di sofa, ada yang kepanasan sambil memikirkan cicilan.
Di titik ini, ungkapan Ibnu Athaillah As-Sakandari terasa menarik, disebutkan bahwa orang yang tidak mendekat kepada Allah melalui nikmat bisa jadi akan diseret mendekat melalui rangkaian cobaan.
Manusia memang sering begitu. Ketika sehat, kesehatan dianggap bawaan lahir. Ketika rezeki lapang, keberhasilan terasa sebagai hasil kecerdasan pribadi. Ketika hidup berjalan lancar, kita merasa semua berada dalam kendali. Gusti Allah kadang baru dicari ketika saldo rekening lebih tipis daripada irisan kerupuk di warung.
Ada pula yang baru rajin berdoa setelah dokter menyebut nama penyakit yang sulit dieja. Ada yang mendadak rajin bersedekah ketika bisnisnya goyah. Ada yang baru menyadari pentingnya keluarga setelah terlalu lama mengejar dunia sampai lupa jalan pulang.
Namun, bukan berarti kita harus menunggu penderitaan untuk mendekat kepada Gusti Allah. Nikmat pun seharusnya menjadi jalan menuju-Nya. Kesehatan memberi kesempatan untuk berbuat baik, rezeki lapang memungkinkan kita berbagi. Kekuasaan semestinya menjadi sarana menegakkan keadilan, bukan tiket VIP untuk menghindari antrean penderitaan rakyat.
Begitu pula kemarau. Kita bisa berdoa meminta hujan sekaligus memperbaiki irigasi, menjaga hutan, menghemat air, dan membantu petani yang kesulitan. Doa bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Sebaliknya, ikhtiar juga tidak harus membuat manusia kehilangan kerendahan hati.
Mungkin kita tidak pernah tahu apakah kemarau ini membawa teguran khusus bagi seseorang atau tidak. Yang bisa kita lakukan adalah menjadikannya momentum untuk memperbaiki diri dan kehidupan bersama.
Sebab, hujan bisa datang besok, minggu depan, atau setelah penantian panjang. Ketika hujan akhirnya turun, kita mungkin akan bersorak, menghirup udara segar, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
Jangan-jangan, yang paling mengkhawatirkan bukan hanya ketika langit berhenti menurunkan hujan, melainkan ketika manusia terus menerima nikmat tanpa pernah merasa perlu berterima kasih. Langit boleh kembali basah, tanah boleh kembali subur. Tetapi semoga hati kita tidak kembali kering begitu keadaan membaik.
Sebab, teguran paling sulit bukanlah teguran yang membuat kita kepanasan sehari dua hari, melainkan teguran yang sudah berkali-kali datang, tetapi tak pernah berhasil membuat kita berubah.
Mochammad RF
Pegiat rumah baca Tunas Aksara
