Zaman sekarang, punya hater itu seperti punya kurap. Gampang menular dan susah sembuh. Mau Anda pejabat publik, influencer pamer outfit, atau netizen yang salah pencet emotikon, bersiaplah digilas mesin pembenci. Di era digital ini, memproduksi kebencian jauh lebih murah daripada membeli token listrik.
Orang bisa dibenci karena prestasinya, dicaci karena pendapatnya, bahkan dihujat karena memilih diam. Salah bicara diserang, benar bicara dicurigai punya agenda. Kadang-kadang, masalahnya bukan apa yang kita lakukan, melainkan siapa yang tidak menyukai kita.
Namun, ada pertanyaan lebih menarik daripada mengapa orang membenci kita. Mengapa sebagian orang sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun karakter? Mengapa ingin selalu terlihat benar, tetapi begitu sulit mengakui kesalahan? Barangkali, banyak orang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Orang yang belum selesai dengan dirinya biasanya sibuk mencari pengakuan. Ia ingin dianggap hebat, dipuji, dan selalu dibenarkan. Harga dirinya dititipkan kepada penilaian orang lain. Sekali dihina, dunianya runtuh. Sekali tidak dipuji, ia merasa tidak dihargai. Akibatnya, ia lebih sibuk memperbaiki persepsi daripada memperbaiki perilaku. Yang penting terlihat bersih, meskipun belum tentu berani membersihkan tangannya sendiri.
Citra bisa dirancang, sedangkan karakter membutuhkan latihan. Citra bisa dibeli melalui jasa konsultan komunikasi. Karakter dibentuk melalui keputusan kecil yang sering kali tidak diketahui siapa pun.
Di sinilah integritas menemukan maknanya. Integritas bukan sekadar pandai berpidato tentang kejujuran atau memasang kutipan moral di media sosial. Integritas adalah kesesuaian antara perkataan, tindakan, dan prinsip, termasuk ketika tidak ada orang yang melihat dan tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.
Orang yang integritasnya rapuh punya dua keahlian. Menjadi hakim ketika orang lain bersalah dan menjadi pengacara ketika dirinya sendiri ketahuan berbuat salah. Ia menghabiskan waktu membuktikan dirinya tidak bersalah, tetapi hanya membutuhkan beberapa detik untuk menyalahkan orang lain. Kesalahan tidak selalu dimulai dari kebencian terhadap kebenaran. Kadang-kadang, ia bermula dari kecintaan berlebihan kepada kepentingan diri sendiri.
Sejarah Indonesia memberi kita pelajaran melalui Mohammad Hatta, Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Buya Syafii Maarif, dan Gus Dur.
Hatta lekat dengan kisah sepatu Bally yang diimpikannya tetapi tak kunjung terbeli. Kisah populer ini perlu ditempatkan secara cermat dari sisi historis, tetapi pesan moralnya tetap relevan. Martabat seseorang tidak ditentukan oleh barang yang berhasil dibeli, melainkan oleh prinsip yang tidak bersedia ia jual.
Hoegeng dikenang karena kejujuran dan kesederhanaannya. Ia menjadi pengingat bahwa jabatan bukan tiket untuk mengambil keuntungan sesuka hati. Kekuasaan justru menuntut seseorang lebih ketat mengawasi dirinya sendiri. Godaan terbesarnya bukan hanya menyalahgunakan wewenang, melainkan mencari pembenaran untuk melakukannya.
Buya Syafii Maarif memberi teladan keberanian menyampaikan kritik moral, termasuk ketika kritik itu tidak nyaman bagi kelompoknya sendiri. Sebab, membela prinsip ketika semua orang setuju itu mudah. Mempertahankannya ketika kawan sendiri tidak menyukai pendapat kita membutuhkan keberanian berbeda.
Gus Dur mengajarkan pelajaran lain melalui humor dan caranya menghadapi perbedaan. Menertawakan diri sendiri bisa menjadi tanda bahwa kita tidak diperbudak ego. Orang yang terlalu sibuk menjaga wibawa biasanya mudah tersinggung. Kritik dianggap penghinaan, perbedaan dianggap permusuhan, dan lelucon kecil terasa seperti serangan terhadap kehormatan.
Padahal, kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan bahwa kita punya harga diri. Pelajaran itu relevan dalam politik. Sebuah tindakan dianggap tercela ketika dilakukan lawan, tetapi mendadak menjadi strategi ketika dilakukan kawan sendiri. Politik pun menyerupai pertandingan sepak bola yang wasitnya ikut mengenakan seragam salah satu tim.
Kalau lawan berbohong, itu kebobrokan moral. Kalau kawan berbohong, mungkin ia hanya kesulitan menyampaikan kebenaran secara utuh. Timbangan moral seolah memiliki dua sisi, tetapi jarumnya selalu diarahkan agar kelompok sendiri tampak paling suci.
Padahal, membela kawan tidak berarti membenarkan kesalahannya. Jika setiap kesalahan ditutupi demi menjaga nama baik kelompok, yang dipelihara bukan kehormatan, melainkan kebusukan yang diberi parfum.
Di media sosial, persoalan ini semakin rumit. Popularitas tumbuh dalam hitungan jam. Seseorang bisa menjadi pahlawan pagi ini dan sasaran hujatan sore nanti. Bahkan, kebencian bisa menjadi komoditas. Ada orang yang tidak peduli disukai atau dibenci selama namanya terus muncul di layar.
Celakanya, kita ikut menyumbangkan energi. Kita marah, berkomentar, membagikan potongan video, lalu merasa sudah menjalankan tugas sebagai warga negara. Padahal, yang bertambah mungkin hanya statistik akun seseorang, bukan kualitas kehidupan publik.
Lantas, apakah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri berarti tidak peduli terhadap kritik? Tentu tidak. Ia justru cukup kuat untuk mengakui kesalahan tanpa merasa seluruh harga dirinya ikut hancur. Ia mampu membedakan kritik terhadap perilaku dengan serangan terhadap pribadi.
Selesai dengan diri sendiri bukan berarti merasa sempurna. Artinya, kita tidak lagi membiarkan ego menguasai setiap keputusan. Kita bisa menerima pujian tanpa mabuk sanjungan, menghadapi kebencian tanpa kehilangan akal sehat, dan mengubah pendapat ketika menemukan alasan yang lebih benar.
Mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mencari tahu siapa yang membenci kita. Ada pertanyaan yang lebih penting. Apakah kita jujur ketika berbuat salah? Apakah kita berani mengkritik kelompok sendiri? Apakah kita tetap memegang prinsip ketika ada keuntungan yang bisa diperoleh dengan mengkhianatinya?
Pertanyaan itu tidak membutuhkan kolom komentar. Jawabannya harus kita temukan sendiri. Sebab, hater paling berisik belum tentu musuh terbesar kita. Bisa jadi, musuh paling berbahaya justru tinggal di dalam diri sendiri. Ia bernama ego, pandai menyamar sebagai harga diri, lihai berbicara atas nama prinsip, dan selalu punya alasan untuk membenarkan apa pun yang kita inginkan.
Ketika tepuk tangan berhenti, jabatan berakhir, dan nama kita tak lagi menjadi percakapan, masih adakah sesuatu yang membuat kita layak menghormati diri sendiri? Jangan habiskan hidup untuk meyakinkan dunia bahwa kita orang baik. Hiduplah dengan integritas, sehingga ketika dunia berhenti memperhatikan, kita tidak perlu berpura-pura di hadapan hati nurani sendiri.
Dunia boleh salah menilai kita, orang lain boleh membenci kita. Namun, jangan sampai demi mendapatkan pengakuan dunia, kita justru kehilangan diri sendiri. Sebab, kita mungkin bisa mengelabui banyak orang dengan citra yang sempurna, tetapi jangan sampai menjadi pembohong di hadapan hati nurani sendiri.
Aditya Naufal
Pegiat rumah baca Tunas Aksara
