• Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
Kamis, Oktober 15, 2026
Nitikan.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
No Result
View All Result
nitikan.id
No Result
View All Result
Home Ragam

Pecah Telur  

Nitikan.id by Nitikan.id
15/10/2026
in Ragam
0 0
0
Pecah Telur   
0
SHARES
8
VIEWS
Bagi ke WhatsAppBagi ke Facebook

Perubahan kadang dimulai dari sesuatu yang nyaris tidak terlihat. Seperti telur yang diam di tempatnya, sementara di dalam cangkang ada kehidupan yang perlahan tumbuh. Tidak ada suara pidato, tidak ada spanduk perubahan, apalagi konferensi pers yang menghadirkan tiga kamera dan lima orang yang berebut mikrofon.

Hanya proses kecil yang membutuhkan kehangatan, kesabaran, dan waktu. Sampai suatu hari, cangkangnya pecah dan kehidupan baru muncul. Rupanya, tidak semua perubahan membutuhkan panggung. Sebagian cukup membutuhkan proses, meskipun dalam politik kita sering dibuat percaya bahwa perubahan baru sah kalau sudah diresmikan, digunting pitanya, lalu diberi prasasti.

Begitulah perubahan. Ada sesuatu yang tumbuh diam-diam sebelum akhirnya menemukan keberanian untuk keluar dari tempurungnya. Masyarakat pun demikian. Mereka bisa bertahun-tahun hidup dalam keadaan yang sama, menerima ketidakadilan sebagai kewajaran, menelan janji sebagai sarapan, lalu kembali mengeluh ketika kenyataan ternyata tidak bisa dimakan. Janji memang mengenyangkan, setidaknya sampai tagihan listrik datang.

Masalahnya, tidak semua orang menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam tempurung. Sebagian malah sudah memasang Wi-Fi di dalamnya, berlangganan internet berkecepatan tinggi, lalu merasa paling memahami dunia. Informasi datang setiap detik, tetapi pemahaman belum tentu ikut datang.

Jempolnya kritis, kepalanya belum tentu. Berita dibagikan sebelum dibaca, tuduhan dipercaya sebelum diperiksa, dan pendapat orang yang disukai diterima seperti wahyu yang turun melalui notifikasi. Kita hidup pada zaman ketika orang bisa membaca ribuan komentar, tetapi belum tentu sanggup membaca keadaan.

Immanuel Kant, filsuf Jerman abad ke-18, menawarkan gagasan yang masih relevan melalui semboyan Sapere aude, beranilah menggunakan akalmu sendiri. Pencerahan, menurut Kant, menuntut manusia keluar dari ketidakdewasaan berpikir yang dipeliharanya sendiri. Jangan menyerahkan seluruh isi kepala kepada orang lain, termasuk kepada mereka yang kebetulan memiliki jabatan, gelar, pengikut, atau kemampuan berbicara dengan mikrofon mahal. Mikrofon boleh mahal, tetapi harga sebuah argumen tetap ditentukan oleh isinya.

Kita perlu membedakan pemimpin dengan pemilik kebenaran. Jabatan adalah mandat, bukan sertifikat kemahatahuan. Pejabat bisa salah, tokoh bisa keliru, dan orang yang berbicara paling keras belum tentu membawa argumen paling kuat. Sayangnya, sebagian orang lebih sibuk memeriksa siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakan.

Kalau yang bicara idola, kesalahan dicarikan alasan. Kalau yang bicara lawan, kebenaran dicurigai punya agenda. Akal sehat akhirnya menjadi barang partisan, dipakai ketika menguntungkan kelompok sendiri dan disimpan di lemari ketika mulai merepotkan. Rupanya, akal sehat pun punya jadwal piket berdasarkan kepentingan politik.

Namun, pencerahan tidak cukup hanya dengan menjadi kritis. Orang bisa pintar membongkar kesalahan orang lain, tetapi gagal melihat kesombongan sendiri. Bisa fasih mengutip dalil, tetapi gagap ketika diminta berempati. Bisa berjam-jam berdebat tentang kebenaran, tetapi tak sanggup meminta maaf ketika jelas-jelas keliru.

Nah, disinilah kita bisa merenungkan pemikiran Ibnu Arabi, sufi dan filsuf Islam yang mengajak manusia menyelami kedalaman realitas sekaligus menyadari keterbatasan pengetahuannya. Kesadaran yang matang semestinya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin sibuk mengukur kebodohan orang lain.

Sebab, ada jenis kebodohan yang unik. Ia tidak tahu, tetapi merasa tahu. Lebih berbahaya lagi, ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Orang semacam ini kalau masuk ruang diskusi bukan mencari pemahaman, melainkan mencari kesempatan untuk berbicara. Ketika orang lain menjelaskan, ia menunggu giliran.

Ketika diberi giliran, ia mengulang pendapatnya sendiri. Diskusi selesai, pengetahuan tidak bertambah, tetapi rasa percaya dirinya naik kelas. Kalau diskusi dinilai berdasarkan lamanya seseorang berbicara, mungkin ia sudah layak mendapat gelar profesor kehormatan.

Dalam masyarakat, keadaan seperti ini mudah dimanfaatkan. Rakyat yang tidak memiliki akses informasi memadai lebih mudah dipermainkan, orang yang takut kehilangan bantuan bisa memilih diam ketika menyaksikan penyimpangan. Mereka yang hidup dalam tekanan ekonomi kadang tidak punya cukup waktu untuk memeriksa bagaimana keputusan politik memengaruhi kehidupannya.

Ketika tenaga habis untuk mencari nafkah, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk membongkar permainan kekuasaan. Karena itu, menyalahkan rakyat yang belum kritis tanpa melihat keadaan yang membatasi mereka sama saja dengan memarahi orang yang tenggelam karena tidak pandai berenang, sementara kita berdiri di tepi kolam sambil berpidato tentang pentingnya keselamatan.

Lalu, ketika ketidakadilan berlangsung bertahun-tahun, masyarakat perlahan menganggapnya sebagai bagian dari nasib. Pelayanan buruk disebut sudah biasa. Korupsi dianggap penyakit yang sulit disembuhkan. Kritik dicap pembuat gaduh, sementara orang yang mempertanyakan keadaan disuruh bersabar, seolah kesabaran berarti membiarkan masalah diwariskan kepada anak cucu.

Padahal, sesuatu yang berlangsung lama tidak otomatis menjadi benar. Kalau kebiasaan buruk cukup diulang agar menjadi kebenaran, korupsi tinggal dibuatkan kalender kegiatan tahunan. Lebih praktis lagi kalau sekalian diberi seragam dan susunan panitia.

Lantas, bagaimana kesadaran bisa menyebar? Bayangkan sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi satu lilin kecil. Cahayanya memang terbatas, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kegelapan bukan satu-satunya kenyataan. Kemudian lilin itu menyalakan lilin di sebelahnya. Lilin kedua menyalakan lilin ketiga. Begitu seterusnya, sampai ruangan yang semula gelap mulai terang. Tidak ada lilin yang kehilangan cahayanya karena berbagi api.

Berbeda dengan sebagian manusia yang takut berbagi pengetahuan karena khawatir kehilangan posisi sebagai orang paling pintar di kampungnya. Padahal, ilmu bukan kursi jabatan yang kalau diduduki orang lain membuat kita terpaksa berdiri. Semakin banyak orang memahami sesuatu, semakin luas pula kemungkinan sebuah masyarakat memperbaiki dirinya.

Satu sirkel kecil bisa menjadi awal perubahan. Sekelompok orang membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, memeriksa informasi, dan memikirkan persoalan bersama. Mereka membawa kebiasaan itu ke keluarga, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial. Dari sana tumbuh sirkel lain. Kesadaran tidak lagi bergantung pada satu tokoh, melainkan berkembang menjadi kebudayaan.

Komunitas diskusi, kelompok kebudayaan dan ruang-ruang perjumpaan dapat menjadi tempat telur-telur kesadaran dierami. Bukan dengan menggurui orang yang dianggap belum tercerahkan, melainkan menyediakan ruang agar mereka mampu menemukan pertanyaannya sendiri.

Sebab, orang tidak akan menjadi merdeka hanya karena dipaksa menghafal jawaban yang sudah disiapkan orang lain. Pendidikan bukan perlombaan mengumpulkan kepala yang isinya sama, melainkan proses membantu manusia berpikir dengan lebih jernih.

Tentu saja, ada bahaya ketika sebuah sirkel mulai merasa paling tercerahkan. Mereka yang awalnya ingin membebaskan pikiran justru sibuk membangun tembok baru. Pendapat di luar kelompok dianggap keliru, pemimpinnya sulit dikritik, dan diskusi berubah menjadi acara saling mengukuhkan bahwa mereka memang paling benar. Telurnya sudah menetas, tetapi cangkangnya masih dibawa ke mana-mana.

Karena itu, pencerahan membutuhkan keberanian berpikir sekaligus kerendahan hati. Kita boleh meyakini bahwa ikhtiar manusia berada dalam cakrawala kehendak Gusti Allah, tetapi jangan buru-buru mengklaim mengetahui seluruh rencana-Nya. Kita tidak tahu kapan gagasan kecil bertemu dengan orang yang tepat, kapan komunitas yang terpisah saling menemukan, atau kapan kegelisahan bersama berubah menjadi gerakan sosial.

Bisa jadi perjumpaan itu lahir dari diskusi sederhana, buku yang kebetulan dibaca, atau percakapan di warung kopi yang awalnya cuma membahas harga cabai, lalu berujung mempertanyakan mengapa hidup terasa semakin mahal.

Tugas kita bukan menebak seluruh rahasia takdir. Tugas kita menjaga agar lilin tidak padam sebelum momentum perjumpaan tiba. Kita membaca, belajar, berdialog, mengkritik ketidakadilan, dan merawat kemanusiaan. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat.

Lima orang yang sungguh-sungguh belajar bisa lebih berarti daripada lima ratus orang yang berkumpul untuk berfoto, membuat slogan, lalu pulang. Fotonya tersebar ke mana-mana, slogannya terdengar sampai ke langit, tetapi perubahan masih tersesat di tempat parkir.

Kita merawat kesadaran agar telur kehidupan menetas. Kita menyalakan lilin agar kesadaran menyebar. Kita membangun perjumpaan agar cahaya-cahaya kecil itu kelak menerangi ruang yang lebih luas. Siapa tahu, orang-orang yang hari ini menyalakan lilin di tempat berbeda sebenarnya sedang bergerak menuju momentum perjumpaan yang sama.

Dan ketika saat itu tiba, yang pecah bukan hanya telur, melainkan juga tempurung pikiran yang selama ini membuat ketidakadilan tampak wajar. Masyarakat tercerahkan bukan masyarakat yang semua orangnya sepakat, melainkan masyarakat yang berani berpikir, mampu berbeda, dan tidak membiarkan kekuasaan berjalan tanpa pertanyaan.

Barangkali, tugas kita memang sesederhana itu. Terus menyalakan lilin kecil, merawat pertumbuhan, dan membuka ruang perjumpaan. Kita tidak harus menjadi matahari yang membuat semua orang bergantung pada satu sumber cahaya. Cukuplah menjadi lilin yang bersedia menyalakan lilin lain.

Sampai suatu hari, kegelapan tidak lagi bisa menyamar sebagai cahaya dan ketidakadilan tidak lagi leluasa menyamar sebagai takdir.

 

Aditya Noval

Pegiat rumah baca Tunas Aksara

Next Post
Tiga Hari Usai Pelantikan Wabup, Bupati Klaten Terseret OTT KPK

Tiga Hari Usai Pelantikan Wabup, Bupati Klaten Terseret OTT KPK

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

  • Tiga Hari Usai Pelantikan Wabup, Bupati Klaten Terseret OTT KPK
  • Pecah Telur  
  • Parasit
  • Bukan Sembarang Batuk
  • Gali Nilai Multibudaya, Mahasiswa UPI Kunjungi Kampung Adat Cikondang
  • panen4d
  • joker123
  • slot777
  • slot scatter hitam
  • https://protuning.id/
  • https://ptnobelindonesia.com/
  • https://okegas.id/
  • https://dukcapil.selumakab.go.id/
  • https://store.scuto.co.id/wp-content/products/
  • https://selumakab.go.id/
  • https://dukcapil.selumakab.go.id/duta777/
  • https://krakatauniaga.co.id/run/
  • https://bossfood.co.id/wp-content/pound/
  • https://befood.id/run/?id=nanastoto
  • slot138
  • slot138
  • sultan69
  • joker123
  • slot mahjong
  • slot depo 10k
  • demo mahjong
  • slot bet 200
  • slot gacor
  • https://consumerstore.siccura.com/
  • https://blog.sparkresto.com/
  • https://jurnal.anfa.co.id/
  • sultan188
  • duniacash
  • https://dewa138.xyz/
  • sultan188 login
  • https://dhumanotmp.xoc.uam.mx/
  • https://programainfancia.xoc.uam.mx/
  • https://fe.unik-kediri.ac.id/
  • https://techno.ru.ac.th/en/contact/
  • sultan188
  • https://problemaseducacion.xoc.uam.mx/

Nitikan.id merupakan salah satu media siber yang berada dibawah naungan PT Poros Media. Nitikan.id ingin menyajikan konsep jurnalis yang memihak pada kepentingan publik, membawa pencerahan, membangun ruang kesadaran serta menumbuhkan semangat literasi dan perubahan.

Kategori

  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Headline
  • Hukum
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Profile
  • Ragam
  • Science
  • Seni Budaya
  • Tak Berkategori
  • Teknologi
  • Wisata
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Term Of Use

© 2024 Nitikan.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata

© 2024 Nitikan.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • slot demo terbaik
  • https://grupoceleron.com/
  • slot gacor malam ini
  • https://aldypay.com/credit-purchase/
  • https://www.sharpener.tech/blog/
  • http://www.dramsyar.com.my/dramsyarservices/
  • https://urbanbat.org/salto-al-vacio/
  • https://kemin.gov.kg/
  • https://vjcc.org.vn
  • ggsoft
  • spaceman
  • slot dana
  • sv388
  • https://www.starfilterind.com/filter-cartridge/
  • https://santillan.ec/contacto/
  • https://travelnevada.fr/blog/
  • http://www.agfarma.com/about/
  • situs138
  • ggsoft
  • slot88
  • https://rgc.com.br/contato/
  • duniacash
  • https://restaurantemoche.com/contact-me/
  • https://agri.ubru.ac.th/
  • https://pedrolopez.pt/
  • https://ezap.edu.vn/
  • slot gacor
  • sultan188
  • slot 10k
  • https://revoar.org/contato/
  • https://www.woodyantique.com/testimonial
  • beras11
  • slot 10k
  • https://paninibay.com/
  • slot depo 5k
  • slot qris
  • https://tagme.com.br/login/
  • slot depo 10k
  • situs slot online
  • ggsoft
  • https://atmaenterprise.com/
  • https://www.lepagefoodanddrinks.com/private-cheffing
  • https://weddingdive.com/idea/
  • https://de.goodstats.id/gehry-architecture/
  • https://www.facility.management.zarz.agh.edu.pl/kontakt/
  • slot 138
  • https://hub.egaleo.gr/prosklisi-kypee/
  • https://store.amerimed.net/
  • https://zlatnadvorana.com/galerija/
  • slot69
  • slot69
  • https://iesmontilivi.net/noticies/
  • https://trrhospitals.com/about-us/
  • https://astaracademy.edu.my/contact-us/
  • https://clinicaitabayana.com/herpeszoster/
  • https://khcn.tbd.edu.vn/danh-muc/linh-vuc-nghien-cuu/
  • https://ca.zonajakarta.com/privacy-policy/
  • https://digital.melintas.id/careers/
  • https://cityluxurycarsrental.com/brands/
  • https://technobox.mk/kalkulator/
  • https://beras11.vip/