Politik itu kadang mirip pasar malam. Ramai, berisik, penuh lampu warna-warni, dan semua orang teriak menawarkan dagangannya masing-masing. slot gacor Ada yang jual janji, ada yang jual citra, ada juga yang jual senyum yang kalau dilihat lebih dekat ternyata cuma stiker.
Di tengah keramaian seperti itu, tiba-tiba ada suara pelan. Bukan suara orasi. Bukan juga suara juru kampanye. Suara itu datang dari arah yang agak sepi. Iya dari puisi, film, lagu, atau lukisan. Suara itu seperti bisikan orang yang duduk di pojokan warung kopi tapi ucapannya bikin kita berhenti ngunyah gorengan.
Salah satu orang yang percaya pada suara semacam ini adalah Jonas Mekas. Dia seorang sineas dan penyair yang hidupnya banyak dihabiskan di dunia seni. Mekas pernah bilang kira-kira begini: kalau mau menjaga kehidupan bersama tetap waras, jangan cuma dengarkan politisi. Dengarkan juga penyair.
Kalimat itu kelihatannya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir agak nyeletuk juga. Bayangkan kalau dunia ini cuma diurus oleh logika politik. Dimana semua diukur angka: elektabilitas, survei, grafik, dan trending topic. Bahkan mungkin suatu hari rasa bahagia juga dihitung pakai spreadsheet.
Politik memang hebat dalam urusan membangun. Ia bisa bikin jalan tol, gedung tinggi, undang-undang tebal, dan birokrasi yang rumitnya kadang kalah oleh resep jamu nenek-nenek. Tapi ada satu hal yang sering tidak bisa dikerjakan politik yakni membuat hidup terasa indah.
Di situlah seni masuk seperti tamu yang tidak diundang tapi justru bikin suasana jadi hangat.
Penyair, misalnya, punya kebiasaan aneh yakni mereka bicara jujur. Sementara politik sering bicara strategis. Politisi kalau ngomong biasanya dihitung dulu sebelum diucapkan. Kalimat ini cocok buat pemilih muda, kalimat itu cocok buat ibu-ibu, yang ini cocok buat trending di media sosial.
Penyair beda. Mereka tidak terlalu peduli apakah puisinya disukai survei atau tidak. Kadang mereka cuma menulis tentang kesepian, tentang kehilangan, tentang rasa kecil manusia di tengah dunia yang besar.
Aneh memang. Tapi justru dari kejujuran seperti itu kita sering diingatkan bahwa hidup tidak melulu soal menang pemilu atau naik jabatan.
Seni juga punya satu kelebihan yang jarang dimiliki politik dimana ia membuat manusia berhenti sebentar.
Di dunia yang serba cepat seperti sekarang, berhenti itu barang mewah. Orang scrolling berita sambil makan, sambil jalan, sambil marah-marah di kolom komentar. Semua serba cepat, termasuk marahnya.
Seni seperti rem tangan di mobil yang lagi ngebut.
Ketika kita mendengar musik yang bagus, menonton film yang menyentuh, atau membaca puisi yang sederhana tapi dalam, kita tiba-tiba berhenti. Kita merasa. Bukan sekadar berpikir.
Dan rasa itu penting. Tanpa rasa, peradaban bisa jadi dingin seperti kantor pajak di akhir tahun.
Gedung boleh tinggi, teknologi boleh canggih, tapi kalau manusia kehilangan empati, semuanya terasa kosong. Kita mungkin hidup di kota modern, tapi batinnya seperti ruang tunggu terminal jam tiga pagi yang terang, tapi sepi.
Seni menjaga agar hal itu tidak terjadi.
Ia seperti alarm kecil yang mengingatkan: “Hei, kamu masih manusia, bukan mesin.”
Kadang seni juga lebih jujur dalam membongkar kenyataan. Politik sering merapikan realitas supaya terlihat manis. Statistik disusun rapi, pidato dibuat optimistis, dan masalah sering dipoles supaya tidak terlalu kelihatan.
Puisi tidak punya kewajiban seperti itu.
Puisi bisa bilang bahwa dunia sedang kacau. Ia bisa bicara tentang kesedihan orang kecil, tentang ketidakadilan yang tidak muncul di laporan resmi, atau tentang kesepian manusia modern yang hidup di kota penuh lampu tapi hatinya gelap.
Yang menarik, suara seni biasanya tidak teriak. Ia tidak seperti debat politik di televisi yang nadanya kadang mirip orang rebutan parkir.
Seni lebih seperti bisikan. Tapi justru karena pelan, ia bisa masuk lebih jauh ke dalam hati.
Jonas Mekas memahami hal ini. Baginya, membiarkan seni hidup berarti memberi ruang bagi nurani manusia untuk tetap bernapas.
Tanpa seni, politik bisa berubah seperti mesin besar yang bekerja tanpa perasaan. Efisien, kuat, tapi juga berbahaya.
Bayangkan kalau dunia hanya diatur oleh logika kekuasaan. Semua orang sibuk menang, tapi tidak ada yang sibuk memahami.
Itulah sebabnya Mekas mengajak kita melakukan sesuatu yang kelihatannya sederhana: mendengarkan penyair.
Bukan berarti penyair harus jadi presiden atau menteri (meskipun kalau ada menteri yang suka baca puisi mungkin suasana rapat kabinet jadi lebih puitis). Maksudnya lebih sederhana: biarkan suara seni ikut hidup di tengah masyarakat.
Karena sering kali yang menyelamatkan peradaban bukan pidato panjang di podium, tapi kalimat pendek yang membuat manusia merenung.
Bukan juga gedung megah, tapi lagu sederhana yang membuat orang merasa tidak sendirian.
Di dunia yang penuh kebisingan politik, seni seperti pengingat kecil bahwa hidup bukan cuma soal kekuasaan. Hidup juga soal rasa, imajinasi, dan keindahan yang membuat manusia tetap manusia.
Jadi kalau suatu hari Anda bosan dengan berita politik yang ribut seperti pasar cabai, cobalah membaca puisi atau menonton film yang sunyi.
Siapa tahu, justru di sana Anda menemukan sesuatu yang tidak pernah muncul di debat televisi. Sedikit kebijaksanaan.
Dan mungkin juga sedikit kedamaian.
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat Rumah baca Tunas Aksara Pamanukan.

