Sejak zaman dahulu, manusia selalu membawa dua hal yang tak pernah berubah yakni harapan kepada Tuhan dan keluhan terhadap penguasa. Ketika hidup terasa berat, harga kebutuhan naik, atau keadilan terasa jauh seperti sinyal Wi-Fi di pelosok gunung, manusia kembali mengingat kisah lama: Tuhan yang menolong Nabi Musa menghadapi Firaun adalah Tuhan yang sama yang kita sembah hari ini. Kalimat ini sederhana, tetapi efeknya seperti minum kopi saat hujan: menenangkan, menghangatkan, dan membuat kita merasa dunia masih masuk akal.
Kisah klasik itu selalu relevan. Firaun adalah penguasa superpower zamannya. Ia memiliki tentara, harta, dan istana megah, serta kemungkinan sistem birokrasi yang sangat rumit. Jika hidup di era modern, mungkin ia akan membuat rakyat mengisi formulir tiga rangkap dan melampirkan fotokopi KTP lima lembar. Ia merasa tak terkalahkan. Sementara Musa hanya seorang nabi dengan tongkat dan keyakinan. Jika dibuat film modern, penonton mungkin akan berbisik bahwa pertandingan ini tidak seimbang.
Namun sejarah dan iman mencatat hasil yang mengejutkan dimana yang tenggelam bukanlah Musa, melainkan Firaun dan kesombongannya. Di sinilah pelajaran penting muncul. Kekuasaan tanpa keadilan ibarat balon besar berisi udara panas yang tampak mengesankan, tetapi cukup satu tusukan kebenaran untuk membuatnya kempis.
Apakah Firaun masih ada? Jika yang dimaksud adalah raja Mesir dengan mahkota emas dan eyeliner tebal, tentu tidak. Namun jika yang dimaksud adalah sifat kefiraunan seperti kesombongan, penindasan, dan merasa diri paling benar, kita harus jujur bahwa stoknya masih tersedia. Firaun modern tidak selalu duduk di singgasana. Ia bisa berada di kursi empuk kekuasaan, di balik meja kebijakan, di layar ponsel yang menyebarkan kebencian, bahkan kadang muncul dalam diri kita ketika merasa paling benar di grup WhatsApp keluarga. Dalam konteks modern, Firaun juga dapat dibaca sebagai simbol oligarki: segelintir elite yang menumpuk kekayaan dan kuasa, lalu merancang aturan yang menjaga kenyamanan mereka sambil membuat rakyat terus berenang melawan arus kehidupan.
Sifat kefiraunan tampak ketika kekuasaan digunakan untuk menekan yang lemah, ketika hukum terasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas, atau ketika kebenaran dikalahkan oleh kepentingan. Ia hadir saat kebijakan lahir tanpa mendengar suara mereka yang paling terdampak, dan ketika angka pertumbuhan ekonomi dirayakan sementara dapur rakyat tetap sunyi. Ia juga muncul saat seseorang menolak mengakui kesalahan meski bukti sudah setebal kamus. Dalam bentuk seperti ini, Firaun bukan lagi sosok, melainkan pola perilaku yang bisa muncul di mana saja.
Namun kisah Musa tidak hanya berbicara tentang kezaliman; ia juga mengajarkan keberanian moral. Musa berdiri bukan karena ia kuat, melainkan karena ia yakin. Ini kabar baik bagi kita semua yang tidak memiliki pasukan, tidak memiliki istana, dan bahkan kadang tidak memiliki kuota internet menjelang akhir bulan. Perubahan tidak selalu dimulai dari orang paling kuat, tetapi dari orang yang berani berkata benar.
Ini mengajak kita bercermin. Sebelum sibuk mencari Firaun di luar sana, ada baiknya kita memastikan bahwa kita tidak sedang memelihara “Firaun kecil” dalam diri sendiri. Ia muncul ketika kita enggan mendengar pendapat orang lain, merasa status membuat kita lebih tinggi, meremehkan mereka yang kurang beruntung, atau marah berlebihan saat dikritik.
Jika dibiarkan, Firaun kecil ini dapat tumbuh menjadi monster ego yang merusak hubungan dan mengusik kedamaian batin.
Kabar baiknya, melawan Firaun dalam diri tidak memerlukan tongkat ajaib. Ia cukup ditaklukkan dengan kerendahan hati, kesediaan mendengar, dan keberanian mengakui kesalahan sesuatu yang sering kali lebih sulit daripada membelah laut.
Keyakinan bahwa Tuhan yang sama masih menjaga dunia memberi ketenangan. Ia mengingatkan bahwa kezaliman tidak pernah abadi. Kekuasaan boleh tampak kokoh, tetapi sejarah berulang kali menunjukkan bahwa kesombongan selalu menemukan akhir yang memalukan. Ini bukan ajakan untuk duduk santai menunggu keajaiban. Musa tetap melangkah, tetap berbicara, dan tetap berjuang. Harapan bukan alasan untuk pasif; harapan justru bahan bakar keberanian.
Dunia hari ini mungkin lebih bising daripada zaman Musa. Kita hidup di era notifikasi tanpa henti, perdebatan media sosial tanpa jeda, dan opini yang bertebaran lebih cepat daripada hujan di musim penghujan. Namun pesannya tetap sama yakni berdirilah di pihak kebenaran, bahkan ketika kebisingan mencoba menenggelamkannya.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Firaun masih ada, melainkan apakah kita memilih menjadi bagian dari penindasan atau bagian dari pembebasan. Apakah kita memperbesar ego atau memperluas empati. Apakah kita menambah beban dunia atau ikut meringankannya.
Karena Tuhan yang menegakkan keadilan dahulu adalah Tuhan yang sama hari ini, harapan tidak pernah kadaluarsa. Dan mungkin kemenangan terbesar bukanlah melihat Firaun di luar diri runtuh, melainkan ketika kita berhasil menenggelamkan kesombongan dalam diri sendiri. Jika itu terjadi, dunia mungkin tidak langsung berubah drastis. Namun setidaknya satu tempat menjadi lebih damai yaitu hati kita sendiri. Dari situlah perubahan besar biasanya dimulai.
Mochammad RF
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

