Pernahkah anda sedang rebahan manja, jempol bekerja lebih keras daripada otak, menggulir TikTok atau Reels tanpa tujuan hidup yang jelas? Lalu tiba-tiba muncul video pria berjas necis, rambut klimis seolah disisir oleh masa depan, turun dari mobil mewah yang harganya setara APBDes satu kecamatan. Belum sempat kita menebak cicilannya, seorang gadis biasa entah staf magang, cleaning service, atau karyawan kontrak yang nasibnya lebih sering dipotong HRD menabraknya di lobi kantor. Lima puluh detik kemudian: cinta bersemi, konflik muncul, dan janji menikah menggantung di episode berikutnya.
Selamat, anda baru saja terinfeksi virus Drama CEO Dominan, penyakit impor dari China yang menyebar lewat algoritma.Di Indonesia, drama pendek berdurasi satu menit ini telah menjelma seperti nasi uduk di pagi hari: murah, cepat habis, dan bikin ketagihan. Niatnya cuma nonton satu video sebelum mandi, tahu-tahu air kamar mandi sudah dingin karena sepuluh episode lewat tanpa sadar.
Bahkan, saking rakusnya kita menonton, Indonesia tercatat sebagai penonton nomor dua terbanyak di dunia untuk genre ini. Sekitar 39 persen penonton Asia Pasifik berasal dari negeri +62. Sisanya mungkin masih berharap sinyal jodoh datang dari paket data.Fenomena ini menarik karena hampir semua ceritanya sama. CEO-nya selalu dingin, galak, traumatis, dan anti-senyum. Gadisnya selalu baik, polos, miskin, tapi berhati emas meski anehnya selalu punya waktu luang buat jatuh cinta di jam kerja.
Konfliknya juga standar: salah paham karena mendengar percakapan setengah pintu, mantan yang tiba-tiba muncul, atau ibu CEO yang tidak setuju karena calon menantu “tidak level”. Namun anehnya, kita tetap menonton. Berkali-kali. Seperti orang yang tahu cabe pedas tapi tetap minta sambal tambah.
Namun, di negeri asalnya, pesta fantasi ini mulai dianggap kebablasan. Memasuki awal 2026, pemerintah China menarik rem tangan. Drama-drama bertema “gadis miskin naik kelas lewat pernikahan” mulai dilarang tayang. Alasannya bukan karena mereka anti-romantis atau iri pada cinta sejati yang bersemi di parkiran gedung perkantoran.
Pemerintah China menilai konten semacam ini telah berubah menjadi racun halus. Bukan racun yang langsung bikin muntah, tapi racun yang bikin orang malas berpikir. Kekhawatiran mereka sederhana: jika generasi mudanya tiap hari dicekoki kisah sukses instan lewat pernikahan mewah, siapa yang masih mau belajar keras, kerja lembur, atau berdiri delapan jam di pabrik? Jangan-jangan lahir generasi baru yang cita-citanya bukan jadi insinyur atau ilmuwan, tapi “istri CEO versi episode 128”.
China khawatir muncul aliran baru dalam kehidupan sosial: halusinasi tingkat tinggi. Keyakinan bahwa hidup bisa meloncat kelas sosial tanpa keringat, cukup dengan wajah polos dan tabrakan yang tepat sasaran. Dalam jangka panjang, ini dianggap merusak etos kerja dan menormalisasi budaya pamer kekayaan. Maka, negara tersebut melakukan operasi besar-besaran: menyapu bersih hedonisme, membatasi fantasi instan, dan mengembalikan narasi kesuksesan pada semangat kerja, disiplin, dan realitas.
Singkatnya, mereka ingin warganya tetap menjejak tanah, bukan melayang di awan algoritma.Lalu bagaimana dengan Indonesia?Di sini, suasananya masih adem ayem kayak kipas angin rusak. Pemerintah belum merasa perlu ikut campur. Selama tidak ada judi, pornografi, atau pelanggaran hukum, tontonan dianggap urusan selera. Mau nonton CEO jatuh cinta seribu episode pun silakan. Negara kita menganut filosofi hiburan tingkat tinggi: “Kalau capek, ya skip.”
Pendekatan ini mencerminkan kebebasan pasar. Konten yang ditonton akan bertahan, yang membosankan akan tenggelam. Masalahnya, algoritma tidak peduli pada kesehatan mental atau nilai sosial. Ia hanya peduli satu hal: durasi tonton. Selama masih ada yang rela mengorbankan jam tidur demi melihat CEO memeluk gadis biasa di lift kantor, genre ini akan terus diproduksi seperti tahu bulat: digoreng dadakan, dijual keliling, dan selalu laku.
Tentu saja, menonton drama semacam ini tidak otomatis membuat seseorang malas. Kita masih tahu bedanya fiksi dan realitas meski kadang tipis saat sedang capek dan dompet kosong. Drama-drama ini memang hiburan pelepas penat. Setelah seharian dimarahi atasan sungguhan, menyenangkan rasanya melihat atasan fiktif yang galak tapi tajir dan akhirnya luluh oleh cinta sejati.
Namun, di sinilah pentingnya rem kesadaran. Jangan sampai kita terlalu sering menonton mimpi sampai lupa bangun dan membereskan hidup sendiri. Karena di dunia nyata, peluang menabrak CEO jauh lebih kecil daripada peluang menabrak motor tetangga. Dan kalau pun bertabrakan, biasanya yang datang bukan cinta, tapi polisi dan formulir klaim asuransi.
Jadi, silakan lanjutkan menonton drakor atau dracin favorit Anda. Tertawalah, baperlah, bahkan menangislah kalau perlu. Tapi ingat, hidup nyata tidak punya tombol “skip konflik”. Kesuksesan jarang datang lewat pelukan di lobi kantor. Ia lebih sering datang lewat kerja keras yang membosankan, usaha kecil yang konsisten, dan kesabaran yang tidak viral.
Dan kalau besok pagi anda menabrak pria tampan di gedung perkantoran, jangan langsung berharap dilamar. Bisa jadi dia hanya ingin ganti rugi karena kopinya tumpah atau lebih parah, dia bukan CEO hanya staf finance yang juga sedang nonton drama yang sama seperti anda semalam.
Tetaplah bekerja karena di dunia nyata, CEO lebih sering sibuk rapat, stres target dan pusing pajak, daripada keliling kota mencari cinta lewat tabrakan tak disengaja.
Penulis: Hgr Dinandaru Shobron

