Ada saat-saat tertentu ketika sebuah puisi bekerja seperti alarm pagi yang tidak memekakkan telinga, tetapi cukup membuat kita terbangun dari kenyamanan kasur kehidupan. Begitulah puisi “Wahai Pemuda Mana Telurmu?” karya Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Indonesia, bekerja pada pembacanya. Ia tidak menggurui, tidak memarahi, tidak pula memanggil kita dengan nada kemarahan seorang guru BP yang menemukan sandal jepit di ruang kelas. Ia hanya menanyakan satu hal sederhana yang bunyinya bikin kita mengangkat alis: “Wahai pemuda, mana telurmu?” Pertanyaan yang lumayan berbahaya bila dibaca tanpa konteks tetapi justru semakin menarik karena memakai metafora yang tidak lazim untuk menegur pemuda.
Dalam puisinya, Sutardji mengajak kita merenungkan apa arti kemerdekaan dan kebebasan kalau tidak menghasilkan apa-apa. Apa gunanya hidup di zaman serba bebas, dengan akses informasi tak terbatas, dengan peluang tumbuh di mana-mana, kalau kebebasan itu hanya berhenti di ruang hiburan? Kita bisa bebas menonton apa saja, bebas mengomentari apa saja, bahkan bebas berdebat hal-hal sepele di kolom komentar tapi bebas tidak otomatis membuat kita produktif. Kebebasan tanpa hasil, kata Sutardji, ibarat burung yang bisa terbang tinggi tetapi lupa bahwa ia punya tugas sederhana: bertelur.
Di sinilah letak kecerdikan Sutardji. Ia tidak menasihati pemuda agar sukses, bekerja keras atau mencapai mimpi-mimpinya. Tidak, ia memilih metafora telur yang nakal, lucu, sekaligus telak. Telur adalah simbol penciptaan, hasil, buah kerja. Telur tidak harus selalu besar seperti langkah revolusioner, tidak selalu emas seperti karya luar biasa yang penting ada, muncul, menetas dan memberi kehidupan baru. Pemuda yang tidak menghasilkan apa-apa bukan berarti tidak berbakat tetapi barangkali terlalu sibuk terbang bebas hingga lupa bahwa kebebasan selalu punya tanggung jawab.
Dalam puisinya, Sutardji memandang alam sebagai guru yang sabar. Burung bertelur, kepompong menetas. Kuntum berubah menjadi bunga, lalu menjadi buah dan menyimpan biji yang akan menumbuhkan pohon baru. Bahkan uap air bekerja dengan rajin: ia naik ke langit, menetas menjadi awan dan turun sebagai hujan yang menghidupi sungai dan laut. Alam tidak pernah sibuk mencari alasan, alam tidak pernah menunda sampai “feel-nya dapat”. Alam tidak mengenal istilah “lagi malas”. Alam bekerja dan karena bekerja itulah ia menghasilkan sesuatu. Dengan cara itu, Sutardji mengingatkan bahwa manusia sebagai makhluk yang katanya paling cerdas, seharusnya juga ingat pada tugas dasarnya: mencipta, memberi dampak, meninggalkan sesuatu yang bisa tumbuh.
Lalu muncullah bagian yang membuat kita mengangguk sambil tersenyum: manusia, kata Sutardji adalah burung berpikir, burung merenung. Kita ini punya kemampuan yang tidak dimiliki burung: berpikir panjang, menganalisis, berimajinasi, merancang masa depan. Tetapi justru kemampuan berpikir ini kadang menjadi masalah. Kita terlalu banyak merenung, terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menunggu momen sempurna. Kita menunda bertelur karena merasa belum siap, belum cukup, belum percaya diri, belum ada inspirasi, atau alasan-alasan lain yang jumlahnya sebanding dengan tab browser yang terbuka di laptop mahasiswa mendekati deadline. Sementara burung tanpa merasa perlu ikut kelas motivasi tetap bertelur pada waktunya.
Bagian lain dari puisi ini bicara tentang siklus penciptaan manusia: ayah menghasilkan anak, anak melahirkan ayah. Ini bukan permainan kata tetapi simbol bahwa setiap generasi kelak akan melahirkan generasi berikutnya, baik secara biologis maupun secara ide dan nilai. Pemuda hari ini adalah calon “bapak” bagi masa depan bangsa, dalam arti mereka yang akan menentukan arah, menjalankan gagasan, dan memberi warna. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang ingin kau capai?”, tetapi “apa yang ingin kau wariskan?”. Dan warisan itu tentu bukan sekadar foto estetik, arsip instastory atau riwayat belanja daring tetapi sesuatu yang bisa tumbuh menjadi perubahan. Apa pun bentuknya, asal memberi kehidupan.
Dalam bait-bait terakhir, Sutardji menyebut pemuda sebagai Garuda. Simbol kebesaran, kebebasan dan keberanian. Garuda tidak lahir begitu saja; ia menetas dari telur yang dijaga dan dipelihara maka ketika Sutardji berkata “menetaslah, lahirkan lagi bapak bagi bangsa ini”, itu adalah ajakan lembut sekaligus tantangan besar. Pemuda hari ini mungkin tidak menghadapi penjajah seperti pemuda 1928, tetapi tetap menghadapi penjajah versi baru: rasa malas, penundaan, distraksi, kenyamanan dan rasa tidak percaya diri. Jika para pemuda dahulu bertelur emas berupa Sumpah Pemuda, kemerdekaan dan gagasan kebangsaan maka pemuda hari ini tinggal melanjutkan tradisi bertelur, meskipun bentuk telurnya mungkin berbeda.
Karya, ide, komunitas, gerakan sosial, solusi kecil di lingkungan sekitar atau sekadar keberanian untuk memulai sesuatu yang selama ini ditunda dan semua itu bisa menjadi telur. Tidak harus besar, tidak harus sempurna, tidak harus membuat dunia heboh. Setiap telur tetap berarti, selama ia menetas. Bahkan telur retak pun kadang lebih jujur daripada telur yang terlalu lama disimpan sampai busuk.
Pada akhirnya, puisi “Wahai Pemuda Mana Telurmu?” bukan ajakan untuk menjadi pahlawan, melainkan ajakan untuk mulai bertindak. Untuk menetas dari kenyamanan, keluar dari tempurung keraguan dan mulai mengerami ide-ide yang sering mampir lalu hilang begitu saja. Puisi ini hadir untuk menggoda kita bukan menekan. Ia tidak berkata kita gagal, hanya bertanya dengan senyum kecil: “Sudah lama kau terbang bebas tapi apa yang kau hasilkan dari semua itu?”
Pertanyaan itu tidak butuh jawaban cepat. Ia butuh keberanian kecil, keberanian untuk memulai. Ketika kita akhirnya menetas, entah dengan telur kecil atau telur besar, barangkali kita akan mengerti maksud Sutardji. Bukan soal telur itu sendiri tetapi tentang menjadi manusia yang mau mencipta, bukan hanya menikmati.
Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemuda yang bisa terbang. Indonesia membutuhkan pemuda yang tahu kapan harus bertelur.
Nur Izza Wahidiyah
Pegiat rumah baca Tunas Aksara Pamanukan

