Cerita rakyat sering dianggap sekadar pengantar tidur: anak mengantuk, orang tua lega, lampu dipadamkan, dan dunia kembali damai. Namun jika dibaca ulang dengan kacamata orang dewasa. Kisah Timun Mas justru tampak seperti laporan sosial versi klasik. Di dalamnya ada perjanjian yang meragukan, ketimpangan kekuasaan, dan kejar-kejaran dramatis yang terasa anehnya relevan dengan kehidupan modern.
Tokoh antagonisnya, Buto Ijo, bukan sekadar raksasa hijau yang doyan makan manusia. Dalam pembacaan simbolik, ia tampak seperti metafora keserakahan struktural: besar, kuat, dan tidak pernah benar-benar kenyang. Jika di dongeng ia mengejar seorang anak, dalam dunia modern ia bisa “menelan” sumber daya, lahan, atau peluang ekonomi. Lebih rapi, lebih administratif, tetapi efeknya tetap membuat rakyat kecil terengah-engah.
Yang menarik, Buto Ijo tidak datang dengan ancaman di awal. Ia menawarkan bantuan kepada Mbok Srini. Kedengarannya seperti program bantuan yang sangat menjanjikan: solusi cepat untuk masalah mendalam. Namun seperti banyak penawaran modern, tulisan kecil di bawah kontrak jauh lebih menentukan daripada janji besar di atasnya. Bantuan berubah menjadi tagihan, dan pihak lemah baru menyadari konsekuensinya ketika tanggal jatuh tempo sudah dekat. Kisah ini terasa akrab karena pola relasi semacam itu tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan manusia.
Sebaliknya, Timun Mas melambangkan rakyat biasa. Ia lahir dari harapan sederhana, tumbuh dalam keterbatasan, dan tidak memiliki kekuatan struktural. Ia tidak punya pasukan, tidak punya istana. Namun ia memiliki sesuatu yang sering diremehkan: akal sehat, ketenangan, dan kemampuan berpikir cepat. Ia sadar bahwa melawan raksasa dengan adu otot hanya cocok untuk film aksi, bukan untuk kehidupan nyata.
Peralatan yang ia bawa tampak sederhana, hampir seperti isi tas darurat anak mapala yang siap menghadapi segala situasi. Biji mentimun melambangkan kemandirian pangan dan sumber kehidupan. Pesannya sederhana: ketika kebutuhan dasar terpenuhi, keberanian bertumbuh. Orang lapar sulit melawan ketidakadilan; orang kenyang mulai berpikir strategis.
Jarum atau bambu runcing mencerminkan perlawanan kecil yang efektif. Ia mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar dan spektakuler. Kadang cukup membuat pihak yang arogan berhenti sejenak dan menyadari bahwa situasi tidak semudah yang dibayangkan. Hal-hal kecil yang konsisten sering kali lebih mengganggu dominasi daripada gebrakan besar yang cepat padam.
Garam yang berubah menjadi lautan luas adalah simbol solidaritas sosial. Satu butir garam tidak terasa, tetapi ketika bersatu, ia menjadi hamparan luas yang sulit ditembus. Ini menggambarkan kekuatan kolektif masyarakat: ketika warga bersatu, tekanan sebesar apa pun dapat dihadapi bersama. Sementara itu, terasi yang berubah menjadi lumpur panas tampak seperti pesan jujur tentang keserakahan. Mengejar tanpa batas pada akhirnya dapat membuat pelakunya terpeleset oleh kerakusan sendiri. Dalam bahasa sederhana: terlalu serakah bisa berakhir kehilangan pijakan.
Jika kisah ini dipindahkan ke zaman sekarang, raksasa mungkin tidak lagi membawa gada besar, melainkan kontrak panjang, kebijakan rumit, atau utang berbunga kecil yang tumbuh seperti tanaman liar. Ia tidak berlari di hutan, tetapi bergerak melalui sistem yang lambat namun pasti. Sementara Timun Mas modern mungkin tidak berlari di jalan setapak, melainkan berjuang menghadapi biaya hidup, akses pendidikan, dan persaingan ekonomi yang terasa seperti maraton tanpa garis finis.
Namun kisah ini tidak berhenti pada gambaran ketidakadilan. Harapan tetap hadir. Mbok Srini tidak menyerah, dan Timun Mas tidak pasrah. Mereka mencari jalan, menyusun strategi, dan memanfaatkan apa yang tersedia. Dalam kehidupan nyata, “benda ajaib” itu bisa berupa solidaritas warga, koperasi komunitas, pendidikan, dan partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan publik. Tidak spektakuler, tetapi efektif.
Cerita ini juga mengingatkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas keserakahan sering tampak kokoh hingga suatu hari kehilangan pijakan. Ketimpangan yang terlalu lebar, ketidakadilan yang dibiarkan, dan hilangnya kepercayaan publik dapat menjadi lumpur panas yang menelan struktur yang tampak kuat. Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa raksasa bisa jatuh bukan karena ditarik jatuh, tetapi karena ia berdiri di tanah yang makin rapuh.
Sebaliknya, rakyat kecil sering diremehkan. Mereka tampak rapuh, tetapi memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka mungkin tidak memiliki kekuatan besar, tetapi memiliki kreativitas, solidaritas, dan satu senjata yang sering diremehkan yakni Kemampuan menertawakan keadaan bukan tanda menyerah, melainkan tanda bahwa harapan masih hidup.
Membaca kisah Timun Mas sebagai alegori sosial mengajak kita melihat cerita rakyat sebagai warisan kebijaksanaan kolektif, bukan sekadar hiburan masa kecil. Dunia mungkin selalu melahirkan “raksasa” dalam berbagai bentuk, tetapi selama masyarakat memelihara kecerdikan, kebersamaan, dan keberanian moral, harapan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dan jika hidup terasa seperti sedang dikejar raksasa, pesan sederhana dari kisah ini patut diingat: tetap tenang, gunakan strategi, dan jangan meremehkan kekuatan hal-hal kecil. Kadang yang tampak sederhana justru menjadi penyelamat terbesar.
Aditya Nauval
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

