Awal Ramadhan ini kita dikejutkan oleh ungkapan spontan Keraton Surakarta.
Meski ini disampaikan secara non formal oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamengkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram melalui akun Instagram pribadinya.
Putra Mahkota Kraton Surakarta tersebut mengunggah dua postingan :
“Nyesel Gabung Republik”. dan “Percuma Republik kalau cuma untuk Membohongi”.
Meski kedua postingan tersebut dihapus, tapi tangkapan layarnya sudah tersebar dan terlanjur viral.
Ini tentu kejutan besar. Mengingat tidak pernah sebelumnya ada “perlawanan” dari pihak Kraton manapun di Nusantara ini terhadap Pemerintah, kecuali dan yang terakhir peristiwa 1998 yang lalu.
Bagi sebuah Bangsa, musuh terbesar adalah Disintegrasi. Meski memang, Keraton Surakarta adalah satu satunya dinasti dari Majapahit dan Mataram Islam yang bukan merupakan bagian dari Pemerintahan.
Apapun, pernyataan Kanjeng Pangeran Gusti Hamengkunegoro itu disampaikan seiring dengan panasnya isu mengenai “Indonesia Gelap”, kasus Pagar laut, Timah dan Mega Kuadrat Korupsi Pertamina.
Jika selama ini yang menyampaikan kekecewaan hanyalah rakyat jelata, oposisi, pengamat politik dan mahasiswa, kini lahir dari seorang tokoh yang bisa dianggap mewakili entitas Jawa.
Dulu, era SBY, kita mengenal tokoh Kraton Jogja yang cukup vokal, Gusti Prabukusumo dan Gusti Joyokusumo.
Kita juga mengenal tokoh tokoh vokal kerajaan dari Luar Jawa, seperti Sultan Ternate Hidayatullah Syah, Sultan Tidore Husain, Daru Amirul Rashid dari Sambas, atau Pangeran Ratu Gusti Taufik dari Banjar-Kalimantan Selatan.
—
Kalau memang mayoritas Umat Islam di Indonesia tak lagi boleh berharap pada Kyai dan Ulama sebagai penyambung lidah untuk memperingatkan pemerintah, semoga masih ada tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama lain yang tergerak untuk memperingatkan Penyelenggara Negara.
Dulu kita pernah mengenal Ida Pedanda Made Gunung yang aktif bersuara anti korupsi. Ada juga Bhiksu Sri Pannyawaro Mahathera.
Sebagian umat Islam Indonesia bahkan dekat dengan Romo Mangun, tokoh yang lekat karena pembelaanya pada rakyat kecil, yang sayang sekali sudah meninggal dunia. Alhamdulillah saat ini masih ada Romo Franz Magnis Suseno meski terlihat sudah sepuh.
Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i atau Imam Syafi’i, Imam mazhab terbesar dalam Islam di Indonesia pernah berucap:
إِذَا سَكَتَ الْعُلَمَاءُ عَلَى الْبَاطِلِ، فَمَنْ يَتَكَلَّمُ؟ وَإِذَا خَافَ الْعُلَمَاءُ، فَمَنْ يَجْسُرُ؟”
Jika ulama diam terhadap kebatilan, maka siapa lagi yang akan bicara? Jika ulama takut, maka siapa lagi yang akan berani?
Kita, rakyat kecil, jangankan berharap pada Keadilan Hukum, keadilan Ekonomi, keadilan distribusi.
Bahkan berharap pada Harapan saja serasa jauh.
Yogyakarta
7 Maret 2025
Teguh Santoso, Sekjen Gerakan Anak Bangsa (Gerbang)

