BANJAR — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pesan tentang makna ibadah dan persatuan kembali digaungkan. Puasa, sebagaimana diingatkan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan batin untuk membersihkan diri, menumbuhkan ketakwaan, serta merawat kebersamaan umat.
Pesan itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, saat memberikan arahan pada Kegiatan Pemantauan Rukyat Hilal penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 M.
Di hadapan para ulama, petugas rukyat, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, Dudu mengajak umat Islam menyambut Ramadan dengan kesiapan yang utuh—lahir dan batin.
Menurut Dudu, Ramadan selalu hadir sebagai bulan penuh ampunan dan rahmat, sekaligus ruang pembinaan spiritual bagi setiap Muslim. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan, menata niat, serta memperbanyak amal saleh agar Ramadan benar-benar memberi dampak nyata dalam kehidupan.
“Ramadan bukan hanya ritual tahunan. Ia adalah kesempatan memperbaiki diri, memperhalus akhlak, dan memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama,” ujar Dudu.
Dalam suasana menjelang puasa yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, Dudu kembali menegaskan pentingnya menjadikan ketetapan pemerintah sebagai rujukan bersama. Ia mengingatkan, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam yang seharusnya disikapi dengan kedewasaan.
“Perbedaan adalah rahmat dan kekayaan tradisi keilmuan Islam. Namun yang lebih utama adalah menjaga kekhusyukan ibadah dan persatuan umat. Ramadan seharusnya mendekatkan, bukan menjauhkan,” katanya.
Ia menambahkan, penetapan awal Ramadan pada hakikatnya bertujuan memberi kepastian dan ketenangan kepada masyarakat agar dapat menjalankan ibadah puasa secara tertib, khidmat, dan penuh rasa syukur. Ramadan, lanjut Dudu, semestinya menjadi momentum untuk berlomba dalam kebaikan dan memperkuat kepedulian sosial.
Dalam kesempatan itu, Dudu juga menyampaikan apresiasi kepada para ulama, pimpinan organisasi masyarakat Islam, serta jajaran Kementerian Agama di tingkat kabupaten dan kota yang selama ini terus bersinergi menjaga harmoni kehidupan beragama di Jawa Barat.
Ia berharap Ramadan 1447 Hijriah dapat menjadi ruang bersama untuk mempererat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan kualitas ibadah umat, baik secara personal maupun sosial.
Seiring pesan-pesan tersebut, proses penetapan awal Ramadan pun dilaksanakan. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat menggelar rukyat hilal pada Selasa (17/2), bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 Hijriah.
Pemantauan dipusatkan di POB Gunung Putri Lapas II Kota Banjar dan dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, didampingi Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah.
Rukyat hilal dilakukan secara hybrid—langsung di lokasi utama dan terhubung secara daring dengan enam titik pemantauan lain di Jawa Barat. Titik-titik tersebut meliputi Palabuhanratu, Kota Banjar, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Subang, Kota Bandung, serta Kabupaten Pangandaran.
Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Badan Hisab dan Rukyat Daerah, BMKG, serta berbagai organisasi kemasyarakatan Islam. Hasil rukyat hilal selanjutnya dilaporkan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Di tengah ikhtiar ilmiah dan kebersamaan tersebut, harapan pun mengemuka: agar Ramadan yang segera tiba benar-benar menjadi bulan penyucian diri, penguatan iman, dan peneguhan persaudaraan di tengah umat.

