Di antara bunga-bunga yang tumbuh di taman, dandelion mungkin bukan yang paling menarik perhatian. Bunganya kecil, sederhana, bahkan sering dianggap gulma. Ia kerap dicabut karena tumbuh di tempat yang tidak diinginkan. Namun, siapa sangka, tanaman yang tampak remeh ini menyimpan daya tahan luar biasa.
Dandelion bisa tumbuh di sela-sela batu, retakan trotoar, bahkan di tanah yang keras. Ketika bunganya mengering, muncul bulatan putih menyerupai bola kapas. Biji-bijinya ringan, lalu diterbangkan angin ke berbagai arah. Sebagian mungkin jatuh di tanah tandus, sebagian lagi menemukan tempat untuk tumbuh. Begitu seterusnya. Ia menyebar tanpa perlu meminta izin kepada siapa pun.
Ada sesuatu yang menarik dari cara dandelion bertahan hidup. Ia tidak membutuhkan taman yang sempurna untuk tumbuh. Tidak pula harus menjadi bunga paling indah untuk menunjukkan keberadaannya. Bahkan, ketika dianggap gulma dan disingkirkan, benih-benihnya tetap punya kesempatan untuk melanjutkan kehidupan.
Barangkali kehidupan anak muda hari ini tidak jauh berbeda. Kita hidup pada zaman ketika suara kritis kerap dianggap gangguan, sementara kekuasaan terkadang lebih sibuk merawat kenyamanan sendiri daripada mendengarkan kegelisahan rakyat. Mereka yang berbeda pendapat mudah dicap pembangkang. Mereka yang bertanya dianggap tidak tahu diri. Padahal, bukankah demokrasi justru membutuhkan orang-orang yang berani bertanya?
Di tengah keadaan seperti itu, suara anak muda memiliki peran penting. Informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan sebagian penguasa menjawab kritik. Ketidakadilan yang dahulu mungkin hanya terdengar di sebuah kampung, kini bisa diketahui banyak orang dalam hitungan menit. Sebuah video, tulisan, meme, atau tagar dapat menyebarkan kegelisahan yang sebelumnya terpendam.
Ruang digital menjadi semacam angin bagi benih-benih kesadaran. Satu suara bertemu suara lain, lalu tumbuh menjadi percakapan yang lebih luas. Keluhan pribadi bisa berubah menjadi kesadaran bersama. Sesuatu yang awalnya hanya dibicarakan di warung kopi dapat menjelma menjadi tuntutan publik.
Namun, kita juga perlu ingat bahwa angin tidak selalu membawa benih. Terkadang ia membawa debu, bahkan sampah. Tidak semua yang viral berarti benar. Tidak semua yang ramai layak dipercaya. Karena itu, keberanian bersuara harus berjalan bersama kemampuan berpikir kritis. Kita perlu memeriksa informasi, menjaga akal sehat, dan tidak menjadikan kebencian sebagai bahan bakar perjuangan.
Jangan sampai niat melawan ketidakadilan justru membuat kita ikut menyebarkan ketidakadilan dalam bentuk lain. Sebab, keberanian tanpa kebijaksanaan bisa berubah menjadi amarah. Kritik tanpa kejujuran bisa menjelma fitnah.
Di sinilah dandelion memberikan pelajaran menarik. Ia menyebarkan benih, tetapi tidak memaksa semua benih tumbuh di tempat yang sama. Setiap benih mencari tanahnya sendiri. Perubahan pun tidak selalu hadir melalui satu jalan. Ada yang tumbuh melalui pendidikan, karya, diskusi, gerakan sosial, kritik kebijakan, hingga demonstrasi. Semuanya bisa menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan bersama.
Lebih jauh, dandelion mengingatkan kita pada kenyataan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Benih yang diterbangkan angin mungkin tumbuh jauh dari tanaman asalnya, tetapi keduanya tetap terhubung melalui proses kehidupan yang sama.
Dalam lanskap keterhubungan inilah, pemikiran Ibn Arabi menemukan relevansinya. Gagasan wahdat al-wujud, yang digunakan dalam tradisi penafsiran untuk merangkum aspek tertentu dari pemikirannya, mengajak kita merenungkan hubungan antara keberadaan manusia dan kehidupan. Kita bukan makhluk yang hidup sendirian. Apa yang dilakukan seseorang dapat memengaruhi orang lain, bahkan melampaui apa yang mampu ia bayangkan.
Jika kehidupan saling terhubung, ketidakadilan terhadap satu kelompok bukan semata urusan kelompok itu. Ketika hak seseorang dirampas, suara warga diabaikan, atau hukum hanya tajam kepada mereka yang lemah, sesungguhnya ada bagian dari kehidupan bersama yang sedang terluka.
Ibn Arabi juga mengenalkan gagasan tajalli, yakni penyingkapan atau manifestasi. Gagasan ini dapat kita renungkan melalui pertanyaan sederhana. Jika kita mengaku mencintai keadilan, di mana keadilan itu tampak dalam tindakan kita? Jika kita berbicara tentang kemanusiaan, bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat?
Nilai-nilai luhur tidak cukup disimpan dalam pidato, slogan, atau unggahan media sosial. Ia harus menjelma menjadi tindakan. Keadilan tidak cukup diteriakkan ketika kita menjadi korban, tetapi juga harus diperjuangkan ketika orang lain mengalaminya. Kemanusiaan tidak boleh berhenti pada orang-orang yang sepemikiran dengan kita.
Di sinilah gagasan insan kamil atau manusia paripurna menjadi penting. Kesempurnaan manusia bukan terletak pada seberapa besar kekuasaan yang berhasil diraih, melainkan pada kemampuannya menjaga akal, hati, dan akhlak. Perubahan bukan hanya soal mengganti siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga membangun kesadaran agar siapa pun yang duduk di sana tidak berubah menjadi penindas baru.
Jangan sampai kita begitu bersemangat mengkritik kesewenang-wenangan hari ini, tetapi kelak melakukan hal serupa ketika memiliki kesempatan berkuasa. Jangan sampai kita hanya ingin mengganti orang yang memegang kendali, tanpa pernah memperbaiki cara kita memandang kekuasaan itu sendiri.
Barangkali inilah pelajaran yang bisa kita petik dari dandelion. Kita tidak harus menjadi bunga paling besar untuk menghadirkan perubahan. Kita hanya perlu menjaga kesadaran agar tidak layu, merawat keberanian agar tidak patah, dan memastikan benih yang kita sebarkan kelak tumbuh menjadi kehidupan yang lebih adil.
Penguasa boleh membangun pagar setinggi langit untuk melindungi kekuasaannya. Tetapi mereka tidak pernah bisa mengendalikan arah angin. Sebab, perubahan tidak selalu datang sebagai badai besar. Terkadang ia hadir sebagai benih-benih kecil yang beterbangan, mencari tanah untuk tumbuh.
Itulah dandelion. Kecil bunganya, luas persebarannya. Kita mungkin hanya benih-benih kecil yang diterbangkan angin zaman. Kita tidak pernah tahu di mana benih itu akan tumbuh, tetapi kita selalu punya tanggung jawab atas benih yang kita sebarkan.
Siapa tahu, dari kesadaran kecil yang dirawat bersama, kelak tumbuh taman baru. Sebuah taman tempat keadilan bukan sekadar bunga yang dipajang dalam pidato, melainkan kehidupan yang benar-benar bisa dinikmati semua orang.
Mochammad RF
Pegiat rumah baca Tunas Aksara
