Subang, Nitikan.id – Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan menggelar seminar bertema “Academic, Business, Government, Community dan Media (ABGCM), Unit Pengembangan Sumber Daya Manusia di Subang” pada Jumat, 18 April 2025. Seminar ini menjadi wadah strategis untuk membahas pengembangan sumber daya manusia (SDM) di era globalisasi, khususnya dalam menghadapi tantangan industri masa depan.
Hadir sebagai narasumber utama, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Beijing, Yudil Chatim, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, tidak hanya terbatas pada energi terbarukan, tetapi juga berbagai sektor seperti pertanian, teknologi, dan pendidikan.
Tiongkok Sebagai Mitra Strategis
Dalam paparannya, Yudil menyebut bahwa Tiongkok telah menjadi pemimpin di berbagai bidang. “Tiongkok sekarang ini sudah menjadi leader di berbagai sektor—mulai dari pertanian, teknologi, pendidikan, dan masih banyak bidang lagi. Tinggal bagaimana kita sinkronkan dengan kebutuhan industri dalam negeri, terutama dalam menyiapkan SDM sebaik mungkin,” jelasnya.
Menurutnya, institusi pendidikan memiliki peran vital dalam menyiapkan tenaga kerja berkualitas yang mampu bersaing secara global. “Gudangnya SDM berkualitas itu dimulai dari sekolah, politeknik, atau universitas,” lanjut Yudil.
Belajar Teknologi dan Produksi Langsung dari Ahlinya
Yudil menambahkan bahwa sinergi pendidikan juga berfungsi sebagai pintu masuk untuk memahami proses produksi dan pengembangan teknologi secara langsung. “Ketika nanti mereka datang dan melatih SDM kita, kita bisa belajar bagaimana sebuah produk dibuat dan bagaimana teknologi diterapkan. Nantinya kita bisa adaptasi dan improvisasi untuk produksi dalam negeri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Tiongkok saat ini berada 10 tahun lebih maju dalam berbagai bidang, sehingga Indonesia dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk kolaborasi riset dan pengembangan (R&D) bersama perguruan tinggi dalam negeri.
Pentingnya Pemahaman Budaya Lewat Interaksi Langsung
Tak hanya dalam bidang teknologi dan pendidikan, Yudil juga menyoroti pentingnya interaksi budaya secara langsung. Ia mengaku sempat skeptis terhadap budaya Tiongkok karena informasi yang simpang siur, namun semuanya berubah setelah mengunjungi negara tersebut. “Seeing is believing. Datang sendiri dan buktikan sendiri,” ujarnya.
Atas dasar itu, lahirlah Rumah Budaya Indonesia, yang saat ini telah hadir di 25 kampus di seluruh Tiongkok. Inisiatif ini menjadi sarana pertukaran budaya dan pengenalan Bahasa Indonesia kepada mahasiswa Tiongkok.
Harapan untuk Subang sebagai Proyek Percontohan Nasional
Di akhir sesi, Yudil menyampaikan harapannya agar Subang menjadi proyek percontohan nasional dalam pengembangan SDM berbasis sinergi antar-pilar ABGCM. “Harapan saya, Subang bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Dengan konsep ABGCM ini, kita bisa selaras dalam mewujudkan Subang yang lebih sejahtera di masa depan,” tutupnya.

