Di gang-gang sempit kota yang padat, seblak berdiri tegak sebagai pengingat bahwa lidah rakyat tak bisa direpresi. Ia pedas, ia panas dan kadang-kadang bikin nyesek di dada tapi entah kenapa tetap dicari. Seperti mantan toxic yang bikin nagih seblak itu tabiatnya memang aneh apalagi kalau udah pake kerupuk kering kerontang, kuah merah menyala, dan topping makaroni sampai ceker,rasanya seperti sedang menuntut keadilan dalam semangkuk keresahan.
Seblak bukan sekadar makanan. Ia adalah protes budaya. Ia mewakili kelas sosial yang tak sempat sarapan roti sobek isi daging asap. Ia hadir sebagai sahabat setia mahasiswa akhir bulan dan para jomblo yang digantung perasaan dan dompetnya tapi yang menarik dari sekian banyak jenis kuliner Jawa Barat, kenapa seblak justru yang meledak ke seantero negeri?
Barangkali karena seblak seperti rakyat: campur aduk, kacau tapi tetap bertahan. Ia tidak dibentuk oleh tata letak restoran bintang lima melainkan oleh tangan emak-emak yang berdagang pakai kompor gas di trotoar. Rasanya datang dari keresahan bukan dari resep chef di Instagram dan seperti rakyat seblak sering diremehkan tapi pelan-pelan mendominasi obrolan, menu, hingga algoritma TikTok.
Makan seblak itu seperti menelan potret bangsa ada perjuangan di tiap kunyahannya. Mie, makaroni, bakso, ceker, kerupuk semua beda bentuk, beda fungsi, beda bahan baku tapi dipaksa bersatu dalam satu kuah merah mendidih. Kayak Indonesia, kan? Bhinneka Tunggal Leuh… eh, Iya.
Nah, ngomong-ngomong soal sesuatu yang “diremehkan tapi mendominasi,” saya jadi keinget Ridwan Kamil. Kang Emil itu kayak seblak juga sebenernya. Campuran arsitek, influencer, pejabat dan kadang-kadang komedian. Awalnya dipandang sebelah mata dianggap cuma modal senyum dan sosial media tapi ya gitu: dia bertahan,dia masuk ke dalam sistem politik yang keras dan banyak jebakan seperti ceker ayam di seblak level lima.
Masalahnya, makin ke sini, Kang Emil kayak kelebihan topping.Semuanya dimasukin. Mau jadi teknokrat? Masuk. Mau jadi santri? Masuk. Mau jadi anak gaul digital? Masuk juga. Mau jadi nasionalis? Masuk semua tapi justru karena terlalu banyak yang dimasukin racikannya jadi membingungkan. Kayak seblak yang pengen semua rasa tapi akhirnya bikin perut begah dan bingung rasa mana yang dominan.
Saat ini di panggung politik nasional, Ridwan Kamil seperti semangkuk seblak yang dipesan pejabat tinggi tapi ditaburi micin kebanyakan. Disukai rakyat tapi bikin elite was-was ditarik ke sana, diulur dari sini. Nasibnya kini tak ubahnya topping basreng yang ngambang: mau tenggelam tapi masih mengambang diadu di kontestasi kekuasaan yang lebih besar, kadang ia terlihat seperti cuma sebagai camilan politik bukan pemain utama.
Dan di tengah panggung yang makin keruh ini, Kang Emil tampak bingung: harus tetap jadi seblak yang orisinal atau mulai berpura-pura jadi sup krim kentang agar bisa duduk di meja para elit yang lidahnya tak tahan pedas?
Seblak itu makanan jalanan dan Ridwan Kamil pada titik awalnya, adalah pejabat jalanan. Dia nyemplung ke sungai, blusukan ke gang, bahkan bikin desain masjid pakai Photoshop sendiri tapi hari ini kita lihat dia sedang berusaha menyesuaikan diri dengan politik penuh perhitungan. Rakyat berharap dia tetap otentik tapi kekuasaan selalu punya cara menguji keaslian seseorang bukan dengan pertanyaan tapi dengan godaan.
Kalau seblak ingin bertahan di tengah banjir makanan instan, ia harus tetap jadi dirinya sendiri: pedas, jujur, dan memberontak. Kalau Kang Emil ingin tetap relevan di hati rakyat, dia juga harus begitu. Bukannya jadi versi tipis dari politisi lawas tapi jadi rasa baru yang benar-benar terasa.
Ini bukan cuma tentang seblak atau tentang Kang Emil, ini tentang kita tentang bagaimana kita, rakyat, seringkali diperlakukan seperti topping seblak dipilih, ditaburi, dijual atas nama selera, lalu dilupakan begitu saja. Kita ini penentu rasa, tapi jarang diajak ngobrol pas menu disusun.
Maka dari itu mari kita ubah cara kita menonton politik jangan cuma jadi pemesan seblak yang ngeluh kalau kepedesan jadilah tukang seblaknya. Ngeracik nasib sendiri, jangan cuma ngikut rasa pasar tapi ciptakan rasa baru yang berani dan buat para politisi, terutama yang seperti Ridwan Kamil, ini pesannya:
Jangan jadi kuah yang cepat dingin, jadilah rasa yang menggelegar. Biar lidah elite nggak nyaman, asal rakyat tetap kenyang dan sehat.
Jangan hilang di tengah topping-topping kekuasaan,jadilah bahan utama yang bikin kita bangga bilang: ini makanan kita,ini pemimpin kita.
Karena kalau politik sudah seperti seblak campur aduk, penuh rasa, dan meledak-ledak yang kita butuhkan bukan yang pura-pura netral tapi yang berani pedas sejak awal.
Subang, 14 April 2025
Nurizzah wahidah
Pegiat RB Tunas Aksara

