Sejarah mencatat banyak perang dahsyat: Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang TikTok vs Instagram. Tapi yang satu ini, perang tarif dagang antara AS dan China di bawah kepemimpinan Donald Trump, benar-benar layak masuk daftar stand up comedy global.
Dengan penuh gaya ala koboi Texas, Donald Trump di bulan April 2025 meluncurkan kebijakan baru nan revolusioner: Trump Tariffs. Di Gedung Putih, diiringi sorak sorai staf-staf yang mungkin sudah menyiapkan CV baru, Trump mendeklarasikan ini sebagai “Hari Pembebasan”. Iya, pembebasan dari akal sehat.
Dalam pidato membara, Trump berkoar-koar bahwa ini adalah kebangkitan industri Amerika. Entah industri yang mana, karena yang terdengar justru industri meme di internet yang bangkit luar biasa. Dengan penuh heroisme semu, AS pertama-tama menggebuk China dengan tarif 34%. China, yang tadinya santai sambil nyeruput teh, mengangkat sebelah alis dan membalas dengan tarif 34% juga.
Tentu, Paman Sam yang alergi disamakan, langsung menggenjot tarif jadi 104%. China? Ah, mereka malah menaikkan tarif jadi 84%, sambil tetap tersenyum seperti sales kartu kredit. Lalu AS tambah lagi, dan tambah lagi, sampai tarif barang China di Amerika mencapai 145%. Angka yang mungkin lebih tinggi dari IQ kolektif kabinet Trump saat itu.
China pun dengan elegan menanggapi, “Oke bro, ini tarif terakhir kita. Mau nambah lagi? Main sendiri aja ya.” Sambil mengibas jubah diplomatiknya, Beijing pergi, meninggalkan Trump yang baru sadar dia main catur sama grandmaster, tapi masih ngira ini adu suit.
Dalam pernyataannya, Kementerian Keuangan China bahkan menyebut tarif ala Trump ini bakal jadi bahan ketawaan sejarah ekonomi dunia. Dan jujur aja, mereka salah — sekarang aja udah jadi bahan ketawaan.
Trump, yang dari awal bermimpi membuat China gemetar ketakutan sambil teriak “Mama!”, malah dapat balasan dari Xi Jin Ping yang membusungkan dada bak naga barongsai yang habis disiram kopi panas. Balasan demi balasan berujung pada satu hal: AS, negara yang dulu katanya adidaya, sekarang mengangkat bendera putih sambil lirih bilang, “Negosiasi, ya bro?”
Juru Bicara Gedung Putih sampai keluar pernyataan damai, mengatakan bahwa Trump “terbuka untuk kesepakatan”. Gaya kalem ini mengingatkan kita pada bocah SD yang sok ngajak ribut, lalu nangis dan minta maaf begitu ditantang balik.
Moral dari cerita kocak ini? Gampang. Kalau mau menabur angin, siap-siap saja menuai badai. Dan tampaknya Trump lupa bahwa zaman sekarang, “Negara Adidaya” itu bukan hak eksklusif Amerika. Cina, dengan tenang dan sedikit tersenyum sinis, sudah berdiri sejajar — atau malah, di beberapa bidang, sudah melangkah beberapa langkah di depan.
Jadi, selamat kepada Trump. Setidaknya, kalau gagal dalam ekonomi, karier stand-up comedy masih terbuka lebar.

