Nitikan.id – Gaya politik Joko Widodo (Jokowi) dan Dedi Mulyadi sering disebut mirip. Keduanya dikenal mengusung populisme, blusukan, dan pendekatan personal ke masyarakat. Meski level pengaruh berbeda—Jokowi di nasional, Dedi di regional Jawa Barat—benang merah strategi mereka terlihat jelas.
Blusukan, Jurus Sakti yang Sama
Blusukan menjadi ciri khas keduanya. Jokowi, sejak jadi Gubernur DKI hingga Presiden, sering turun langsung ke pasar, kampung, hingga gorong-gorong. Dedi Mulyadi, kini Gubernur Jawa Barat, juga kerap melakukan kunjungan mendadak, seperti membersihkan sungai atau mengecek jalan rusak bersama warga.
Blusukan ini membangun citra pemimpin yang “hadir” di tengah rakyat, bukan sekadar duduk di balik meja.
Penampilan Sederhana, Simbol Dekat Rakyat
Kesan merakyat diperkuat dengan penampilan. Jokowi terkenal dengan kemeja putih lengan digulung. Dedi sering tampil santai dengan pakaian kasual atau seragam adat Sunda. Simbol visual ini ampuh menghapus jarak antara pemimpin dan rakyat biasa.
Media Sosial, Panggung Politik Baru
Jokowi dan Dedi sama-sama piawai memanfaatkan media sosial. Jokowi rutin membagikan progres proyek infrastruktur, sedangkan Dedi sering memposting aktivitas lokal dan isu budaya Sunda. Cara ini membuat mereka terlihat relevan, khususnya di mata generasi muda.
Perbedaan Fokus: Nasional vs Lokal
Meski gaya sama, fokus keduanya berbeda. Jokowi membangun narasi besar soal infrastruktur dan ekonomi nasional. Sementara itu, Dedi lebih menekankan pelestarian budaya Sunda, pendidikan, dan kesejahteraan desa, seperti saat ia melarang PR sekolah saat menjabat Bupati Purwakarta.
Resiko Populisme: Citra vs Kinerja
Pengamat politik dari IDP-LP, Riko Noviantoro, mengingatkan bahwa populisme punya risiko. “Kalau pencitraan tidak dibarengi realisasi janji, bisa jadi bumerang,” katanya. Konsistensi antara gestur politik dan hasil nyata menjadi kunci utama.
Popularitas Melonjak, Kritik Tetap Ada
Dedi, yang menang Pilgub Jabar 2024 dengan 62% suara, mengulangi pola kenaikan elektabilitas ala Jokowi di 2014. Namun, blusukan mereka juga menuai kritik. Jokowi pernah dikritik karena ketimpangan pembangunan, Dedi kini dipertanyakan soal efektivitas anggaran publik.
Kesimpulan
Baik Jokowi maupun Dedi Mulyadi mengandalkan gaya populis, blusukan, dan media sosial untuk membangun kedekatan dengan rakyat. Gaya ini terbukti efektif, tapi tetap membutuhkan bukti nyata di lapangan agar tidak hanya berujung sebagai sekadar pencitraan.

