Nitikan.id , Opini -Jubah adalah salah satu jenis pakaian tertua di dunia yang telah digunakan sejak zaman kuno. Pakaian ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga menjadi simbol status, otoritas, dan kehormatan dalam berbagai budaya. Dari peradaban Mesopotamia hingga kerajaan-kerajaan besar di dunia, jubah memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Dalam Islam, jubah juga memiliki makna khusus, terutama yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW dan ajaran yang dibawanya.
Sejarah jubah dapat ditelusuri kembali ke peradaban kuno seperti Mesopotamia, Mesir, dan Yunani. Di Mesopotamia (3000 SM), para pendeta dan raja mengenakan pakaian panjang yang menyerupai jubah sebagai simbol kebesaran. Bangsa Mesir kuno juga mengenakan jubah linen yang sering digunakan dalam ritual keagamaan dan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, dalam budaya Yunani dan Romawi, pakaian seperti toga dan himation berkembang sebagai bentuk awal jubah yang menunjukkan kelas sosial seseorang.
Di Kekaisaran Romawi, jubah berwarna ungu (toga purpurea) hanya boleh dikenakan oleh kaisar sebagai tanda kekuasaan tertinggi. Setelah runtuhnya Romawi barat, Kekaisaran Bizantium melanjutkan tradisi ini dengan mengenakan jubah brokat emas yang menunjukkan hubungan antara raja dan otoritas ilahi. Kaisar Bizantium sering memakai jubah panjang berhiaskan permata dalam upacara resmi sebagai simbol kemuliaan dan perlindungan dari Tuhan.
Dalam dunia Islam, jubah telah menjadi bagian dari budaya sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Khalifah dan sultan di berbagai dinasti Islam, seperti Abbasiyah, Umayyah, dan Utsmaniyah, mengenakan jubah panjang sebagai pakaian kehormatan. Kesultanan Utsmaniyah, misalnya, memiliki tradisi memberikan kaftan kerajaan kepada pejabat tinggi sebagai bentuk penghargaan. Jubah yang dikenakan oleh para pemimpin Islam sering kali berwarna hitam atau putih, mencerminkan kesederhanaan dan kebijaksanaan.
Di Tiongkok, jubah naga (longpao) adalah pakaian khusus kaisar yang dihiasi sulaman naga lima cakar, melambangkan kekuatan dan keilahian. Di India, para maharaja mengenakan sherwani atau angarkha, jubah panjang berhiaskan bordir emas dan permata. Sementara itu, di Jepang, kaisar mengenakan sokutai, jubah resmi yang digunakan dalam upacara kekaisaran, sedangkan para shogun mengenakan hitatare sebagai simbol kepemimpinan militer.
Di eropa, raja dan bangsawan mengenakan jubah berbahan beludru merah atau ungu, sering kali dihiasi bulu cerpelai sebagai tanda kekuasaan. Jubah penobatan (coronation robe) adalah elemen penting dalam upacara pengangkatan raja, seperti yang terlihat dalam penobatan raja Inggris. Jubah ini melambangkan otoritas yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang raja untuk memerintah rakyatnya.
Di Afrika, raja-raja mengenakan jubah berwarna cerah dengan motif unik. Mansa musa, raja Mali yang terkenal, sering digambarkan mengenakan jubah dari sutra emas, mencerminkan kekayaan dan kejayaan kerajaannya. Di Nigeria, raja Yoruba mengenakan agbada, jubah berukuran besar yang menjadi lambang kebangsawanan dan kekuatan spiritual.
Dalam Islam, salah satu kisah paling terkenal tentang jubah adalah saat Nabi Muhammad SAW memberikan burdahnya kepada penyair Ka’ab bin Zuhair. Awalnya, Ka’ab menentang Islam, tetapi setelah ia bertaubat dan memuji Rasulullah dalam syairnya, Nabi Muhammad memberinya jubah sebagai tanda penerimaan. Jubah ini kemudian dikenal sebagai Burdah Nabi dan menjadi simbol keberkahan.
Jubah Nabi Muhammad diyakini diwariskan kepada para khalifah setelah beliau wafat. Beberapa sumber menyebutkan bahwa jubah ini akhirnya disimpan oleh Kesultanan Utsmaniyah di Istana Topkapi, Turki. Jubah ini dianggap memiliki keberkahan, dan hanya dikeluarkan pada momen-momen tertentu untuk dilihat oleh umat Islam.
Meskipun jubah sering dikaitkan dengan kebesaran, dalam Islam, jubah juga melambangkan kesederhanaan dan ketakwaan. Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal mengenakan jubah sederhana yang terbuat dari kain wol atau katun, tanpa hiasan mewah. Hal ini menunjukkan bahwa kebesaran seorang pemimpin bukan terletak pada pakaiannya, tetapi pada akhlaknya.
Jubah dalam berbagai budaya memiliki makna simbolis yang berbeda. Di kerajaan-kerajaan dunia, jubah melambangkan kekuasaan dan keagungan, sedangkan dalam konteks Islam, jubah lebih menekankan pada kerendahan hati dan keberkahan spiritual. Ini menunjukkan bahwa meskipun jubah secara fisik sama, maknanya dapat berubah sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya.
Saat ini, jubah masih digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keagamaan, akademik, maupun seremonial. Jubah akademik (toga) digunakan dalam wisuda sebagai simbol pencapaian ilmu. Para pemimpin agama, seperti ulama dan pendeta, masih mengenakan jubah dalam ritual keagamaan mereka. Bahkan dalam dunia mode, jubah tetap populer sebagai busana tradisional di banyak negara.
Dari sejarah panjang jubah, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik. Pertama, jubah mengajarkan bahwa pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga memiliki makna sosial dan spiritual. Kedua, jubah dalam Islam mengingatkan kita akan pentingnya kesederhanaan, bahkan ketika seseorang memiliki kekuasaan. Ketiga, jubah yang diwariskan dari generasi ke generasi menunjukkan bahwa benda fisik bisa menjadi simbol nilai-nilai yang lebih besar, seperti keberkahan dan kehormatan.
Jubah adalah pakaian yang memiliki sejarah panjang dan makna mendalam di berbagai budaya. Dari raja-raja eropa hingga khalifah Islam, jubah selalu menjadi simbol kebesaran dan kehormatan. Namun, dalam ajaran Islam, jubah juga mengandung nilai kesederhanaan dan keberkahan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Di era modern, jubah tetap relevan sebagai simbol ilmu, spiritualitas, dan tradisi. Dengan memahami sejarah jubah, kita dapat lebih menghargai nilai-nilai yang terkandung dalam setiap lapisan kainnya.
Subang, 23 Maret 2025
Hgr Dinandaru shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

